Ekonom Bank Mandiri: Indonesia Hadapi Skenario Ekonomi Paling Rumit di Tahun 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi global dan domestik saat ini berada dalam ketidakpastian yang sangat tinggi. Menurutnya, Bank Mandiri Group tengah menghadapi tantangan yang kompleks dalam menyusun proyeksi bisnis ke depan.
"Sebenarnya kalau kita tarik lebih panjang lagi adalah dari sejak tahun yang lalu ya, bahwa situasi ekonomi global dan domestik sangat-sangat tidak menentu. Bahkan kalau kita membuat skenario ya saat ini, kita di internal Bank Mandiri Group, kita merasakan bahwa skenario yang kita lakukan ini adalah the most complicated scenario yang pernah kita buat ya," ujar Andry dalam acara Mandiri Macro & Market Brief 2Q26 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Andry menjelaskan bahwa kerumitan ini dipicu oleh berbagai variabel, mulai dari perlambatan ekonomi global hingga potensi stagflasi yang belum mereda. Selain itu, faktor geopolitik seperti kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dan konflik di Timur Tengah turut memperparah keadaan.
"Kita masih melihat adanya potensi stagflasi, di mana walaupun ekonomi melambat tapi inflasi juga belum kunjung turun ya, karena ada faktor sebelumnya yaitu kenaikan tarif yang dilakukan oleh Trump dan saat ini adalah perang," jelasnya.
Baca Juga
Indef Soroti Paradoks Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Waspadai Kebijakan Publik yang 'Misleading'
Sektor keuangan juga menghadapi tantangan besar terkait kebijakan suku bunga acuan. Berbeda dengan ekspektasi pasar sebelumnya, Andry menyebut kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed di tahun 2026 sangat kecil.
"Ekspektasinya adalah kemungkinan sangat kecil bahwa suku bunga acuan akan dipangkas oleh The Fed ya. Nah, ini adalah hal-hal yang kemudian memang perlu kita antisipasi," tambahnya.
Dari sisi domestik, Andry menyoroti adanya faktor idiosinkratik atau tantangan unik yang terjadi di Indonesia, salah satunya adalah fenomena ketimpangan atau decoupling di berbagai lini.
"Tantangan bagi pemerintah tentu saja adalah three types of decoupling, yaitu decoupling by segment antara middle lower to middle upper, terus juga sectors. Dan yang terakhir adalah decoupling dari sisi regions," papar Andry.
Baca Juga
Rupiah Terseok ke Rp 17.370 per US$, Pascaputusan The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
Kondisi geopolitik yang memanas, terutama gangguan di Selat Hormuz, juga berdampak langsung pada kenaikan harga komoditas energi yang memberikan tekanan bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
"Oil price sudah mengalami kenaikan yang cukup drastis ya. Ini yang kemudian membedakan antara tahun 2022 yang lalu dengan tahun 2026 ini. Indonesia yang mencatatkan sebagai net importer tentu saja akan merasakan tekanan yang cukup besar dari kenaikan harga tersebut," tuturnya.
Lebih lanjut, Andry menekankan bahwa nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.300 hingga Rp 17.400 dipengaruhi kuat oleh sentimen global. Di sektor perbankan sendiri, meski segmen korporat masih dianggap tangguh, tantangan besar muncul pada kualitas aset di segmen menengah ke bawah.
"Bagi kami sendiri di Bank Mandiri, segmen korporat itu masih sangat resilient ya. Namun kita melihat tantangan di sektor perbankan untuk yang banking sector-nya memang tantangan di kualitas aset untuk yang segmen middle to low," pungkasnya.

