Israel Serang Balik Iran, Bagaimana Skenario Ekonomi Pemerintah Hadapi Eskalasi Konflik?
JAKARTA, investortrust.id - Israel dikabarkan menggelar serangan balasan ke Iran. Laporan Al Jazeera menyebut serangan Israel menggunakan pesawat tanpa awak, drone, telah dilumpuhkan pertahanan udara Iran.
“Laporan televisi pemerintah Iran menjelaskan detail situasi di Kota Isfahan. Laporan itu menyebut sekitar dini hari pukul 00.30 (12.30 am GMT) tiga drone terlihat di langit Isfahan, sistem pertahanan udara aktif dan ‘menghancurkan tiga drone di angkasa’,” tulis Al Jazeera, Jumat (19/04/2024).
Isfahan merupakan provinsi yang menjadi basis angkatan udara Iran. Pangkalan udara ini menjadi basis beberapa skuadron pesawat tempur F-14 Tomcat.
Baca Juga
“Fasilitas pertahanan ini berdekatan dengan bandara Isfahan dan pejabat militer sedang membersihkan wilayah udara Iran. Penerbangan komersial dari bandara Isfahan dibatalkan keberangkatannya,” tulis laporan itu.
Di dalam negeri, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat Konferensi Pers: Update Kondisi Perekonomian Indonesia Pascaserangan Iran ke Israel, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/4/2024), menyebut pemerintah telah memiliki skenario untuk menghadapi eskalasi konflik Iran-Israel.
“Namun kita masih menunggu perkembangan karena eskalasi dan tidak eskalasi kan kelihatan,” kata Airlangga.
Sementara itu mengenai nilai tukar, pemerintah akan terus memantau perkembangan. Airlangga menyebut, saat ini cadangan devisa saat ini tercatat berada di US$ 136 miliar.
“Jadi tidak ada yang kita khawatirkan,” kata dia.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L. Marsudi pada Selasa (16/4/2024) di Istana Negara, menyampaikan telah mengupayakan komunikasi dengan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Yordania, Uni Eropa, Jerman, Belanda, dan wakil menteri luar Amerika Serikat mengenai situasi di Timur Tengah. Dalam diskusi yang berlangsung, Retno menyebut pemerintah Indonesia meminta semua pihak menahan diri dan deeskalasi.
“Pentingnya dilakukan deeskalasi. Sementara dengan teman-teman kita yang lain, misalnya dengan menteri luar negeri Jerman dan Belanda, serta negara-negara Timur Tengah kita mendorong agar semua dari kita menggunakan pengaruh kita agar eskalasi tidak terjadi,” ujar Retno.

