Rupiah 'Rebound' Seusai Sentuh Rp 17.300 Per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat tipis ke level Rp 17.279 per dolar AS pada Jumat (24/4/2026) pagi setelah sebelumnya sempat menembus Rp 17.300 per dolar AS, di tengah tekanan dolar AS yang masih kuat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memengaruhi sentimen pasar.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah fluktuasi mata uang Asia yang cenderung beragam. Data Bloomberg menunjukkan dolar Singapura dan baht Thailand menguat, sementara yen Jepang, ringgit Malaysia, dolar Hong Kong, dan rupee India melemah terhadap dolar AS.
Baca Juga
Jaga Kedaulatan Rupiah di Perbatasan, BRI Resmikan Money Changer di Motaain NTT
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menjelaskan indeks dolar AS atau DXY, yaitu ukuran kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, bertahan di kisaran 98,6 atau mendekati level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menjadi perhatian utama pasar global.
“Ini karena pasar tetap fokus pada meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Ketidakpastian seputar negosiasi perdamaian terus berlanjut, sementara retorika kedua pihak tetap memanas,” ujar Andry.
Ia menambahkan bahwa pelaku pasar juga mencermati kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pengamanan jalur perairan strategis. Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan upaya pengamanan melalui Angkatan Laut serta menerapkan pembatasan terhadap kapal yang menuju dan dari pelabuhan Iran, sementara pihak Teheran membatasi lalu lintas maritim internasional.
Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya aktivitas di jalur pelayaran utama dan mendorong harga minyak tetap tinggi dibandingkan sebelum konflik. Andry mengatakan situasi ini menambah tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk negara berkembang.
Dari sisi kebijakan moneter, bank sentral Amerika Serikat atau The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuannya. Pasar saat ini hanya memperhitungkan peluang 26% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali penurunan dalam tahun ini.
Baca Juga
Meski rupiah menguat terbatas pada perdagangan pagi, risiko global dinilai masih membayangi. Andry mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak melampaui US$ 100 per barel, yang dapat memicu inflasi dan meningkatkan sentimen penghindaran risiko atau risk off di pasar.
Ia menekankan bahwa penguatan dolar AS yang bertahan di kisaran 98 hingga 100 serta kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari The Fed telah menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi. Kondisi ini mengurangi daya tarik aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan berpotensi memicu arus keluar modal.

