Berhasil Rebound, Rupiah Ditutup di Level Rp16.588 per Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah berhasil rebound dalam penutupan perdagangan Rabu (26/3/2025) hari ini, setelah sempat anjlok ke Rp16.622 per dolar Amerika Serikat (AS) kemarin. Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis pada penutupan perdagangan sore ini, kurs rupiah menguat 34 poin (0,20%) ke level Rp16.588 per dolar AS.
Dalam perdagangan pasar spot valas, berdasarkan data Yahoo Finance kurs rupiah bergerak menguat 14 poin (0,08%) ke level Rp 16.575 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan terakhir, kurs rupiah sempat ditutup di level Rp16.589 per dolar AS berdasarkan data Yahoo Finance.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo meyakini rupiah masih berpotensi menguat dalam kondisi tertentu. Hal itu, kata dia, jika ketidakpastian global mereda, investor mungkin akan mengalihkan fokus dari aset safe haven seperti Dolar AS ke mata uang pasar negara berkembang, termasuk Rupiah.
Selain itu kebijakan fiskal strategis, seperti pengendalian inflasi, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan pemeliharaan surplus perdagangan, dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap Rupiah. Arus masuk investasi asing langsung (FDI) dan arus modal masuk yang stabil ke Indonesia dapat mendukung nilai mata uang tersebut.
"Upaya Bank Indonesia untuk menjaga inflasi dalam level target dan menerapkan kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan dapat berdampak positif terhadap Rupiah," ungkap dia kepada Investortrust, dikutip Rabu (26/3/2025).
Baca Juga
Momen Anjloknya Rupiah
Sebelumnya analis HFX International Berjangka itu memberikan penjelasan terhadap anjloknya nilai tukar rupiah yang terjadi kemarin. Pada dasarnya, kata dia, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan didorong oleh interaksi yang kompleks antara tekanan ekonomi internasional dengan kekhawatiran keuangan domestik.
Sutopo mengungkap pelemahan Rupiah Indonesia dipengaruhi oleh penguatan Dolar AS yang telah pulih dari titik kritis, di saat ketidakpastian ekonomi global, mendorong investor untuk mencari aset safe haven seperti Dolar AS. Kekhawatiran seputar potensi pengenaan tarif AS dan ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi juga menjadi faktor pendukung.
"Meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat, kekhawatiran tentang defisit transaksi berjalan atau inflasi dapat memengaruhi sentimen investor. Fluktuasi sentimen pasar, seperti kekhawatiran tentang stabilitas politik atau kebijakan ekonomi, masih menjadi pemicu pelemahan Rupiah," kata dia.
Dia meyakini durasi pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS bergantung pada beberapa faktor, termasuk kondisi ekonomi global, kebijakan fiskal domestik, dan sentimen investor. Dia memprediksi rupiah mungkin akan terus menghadapi tantangan dalam waktu dekat, terutama jika risiko ekonomi global terus berlanjut dan suku bunga AS tetap tinggi.
"Namun, kebijakan strategis pemerintah, seperti mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi, dapat membantu meredakan tekanan ini dari waktu ke waktu," ujarnya.
Dalam kesempatan podcast Konvergensi di kantior Investortrust, Rabu (20/3/2025), Ketua Lembaga Penjaminan Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keyakinannya bahwa kondisi perekonomian Indonesia sudah mulai menunjukkan perbaikan sejak awal tahun.
"Saya investigasi, kondisi ekonomi memang ada pemburukan sampai dengan Desember tahun lalu. Semuanya (indikator) turun ke bawah seperti penjualan mobil, semen dan lain-lain. Bahkan, Purchasing Managers Index (PMI) juga flat-flat saja di bawah 50, artinya ekonominya tidak tumbuh. Tapi, rupanya setelah saya lihat lebih detail data-data terakhir Januari-Februari 2025 ada pembalikan arah yang cukup signifikan," kata Purbaya di podcast Konvergensi yang digelar di kantor Investortrust, Jakarta, Selasa, (26/3/2025).
Menurut Purbaya, membaiknya perekonomian Indonesia juga salah satunya terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan. Mengutip data Bank Indonesia (BI), DPK perbankan pada Januari 2025 tumbuh 5,3% secara tahunan mencapai Rp 8.599,4 triliun. Sementara di Februari 2025 mencapai Rp 8.612,5 triliun atau naik 5,1% secara tahunan.
Baca Juga
LPS Catat Indeks Menabung Konsumen Naik 0,9 Poin Jadi Level 80,2 di Februari 2025. Apa Artinya?
Selain DPK, Purbaya melihat indeks PMI juga menjadi faktor perbaikan ekonomi. Di mana PMI Manufaktur Indonesia S&P Global menunjukkan hasil yang positif yakni meningkat menjadi 53,6 pada Februari 2025, dari 51,9 pada Januari.
"Artinya mereka memprediksi belanja mereka akan besar sekali ke depan, karena mereka lihat demand naik kencang, itu kata pelaku ekonomi," terang dia.
Sementara dari sisi pandangan masyarakat, LPS berhasil menjaring pendapat publik lewat survei yang digelar setiap bulan. Hasil survei menunjukkan perbaikan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) hingga menjadi di atas 100 pada bulan Februari 2025. IKK Februari 2025 mencapai 107,1, naik sebesar 11,4 poin secara bulanan. Perkembangan ini menunjukkan persepsi konsumen yang optimis terhadap kondisi ekonomi nasional dan di wilayahnya.

