Pameran 'Bumi, Rumah Bersama" Resmi Dibuka, Seniman Suarakan Kepedulian Ekologi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pameran lukisan bertajuk “Bumi, Rumah Bersama untuk Kesejahteraan Bersama” resmi dibuka di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Minggu (4/1/2026). Pameran ini menjadi ruang refleksi para seniman terkait isu-isu krisis ekologis, sosial, dan ekonomi yang kian nyata dirasakan masyarakat Indonesia.
Peresmian pameran dilakukan oleh Direktur Eksekutif APEI, A. Lily Widjaja. Dalam sambutannya, Lily menegaskan bahwa seni memiliki peran penting sebagai medium perenungan sekaligus penggerak kepedulian publik terhadap kondisi bumi yang terus menghadapi tekanan.
Menurut Lily, memasuki awal 2026, Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kerusakan lingkungan, dampak bencana alam, hingga ketimpangan ekonomi dan sosial. Situasi tersebut, kata dia, menuntut perhatian dan tanggung jawab bersama dari seluruh elemen masyarakat.
Ia menilai pameran ini menjadi salah satu wujud refleksi kolektif para perupa yang menuangkan keprihatinan mereka melalui goresan karya seni. “Melalui lukisan-lukisan ini, publik diajak menengok kembali kondisi bumi yang kita tinggali bersama,” ujarnya.
Baca Juga
Dihadiahi Lukisan Srikandi Memanah, Megawati: Saya Disuruh Membidik Siapa?
Sementara itu, salah satu perwakilan dari Golden Rose Community (GRC) selaku penyelenggara, Yohana Sri, menjelaskan pameran ini berlangsung pada 4-9 Januari 2026. Selain menampilkan karya seni dua dan tiga dimensi, GRC juga menggelar workshop melukis terbuka untuk masyarakat umum pada 7 Januari 2026.
Yohana menyampaikan bahwa konsep pameran telah dirancang sejak lebih dari setengah tahun lalu, jauh sebelum krisis ekologis dan bencana alam semakin intens terjadi. Tema tersebut lahir dari kepedulian para perupa terhadap kondisi lingkungan dan realitas sosial di sekitarnya.
Pameran ini juga membuka ruang inklusif bagi perupa disabilitas serta seniman dari kawasan urban dan wilayah padat di Jabodetabek. Kelompok-kelompok tersebut dinilai sebagai bagian dari masyarakat yang terdampak langsung oleh krisis ekonomi dan ekologis saat ini.
Lebih lanjut, GRC menyoroti kerusakan alam yang dipicu oleh paradigma eksploitatif terhadap lingkungan. Kerusakan hutan, polusi, dan pencemaran dinilai tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memperlemah ketahanan sosial dan ekonomi bangsa.
Melalui pameran “Bumi, Rumah Bersama untuk Kesejahteraan Bersama”, para seniman berharap seni dapat menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukanlah agenda sesaat. Kepedulian dan upaya berkelanjutan diperlukan agar bumi tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi sekarang dan mendatang.
