Ekologi Integral, Seruan Gereja Jawab Kerusakan Bumi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup yang melanda bumi saat ini tidak bisa dipandang sebagai masalah alam semesta semata. Kerusakan ekologi merupakan cermin dari kerusakan tatanan kemanusiaan yang mendasar.
"Bumi ini rusak karena manusianya rusak. Yang rusak itu adalah kemanusiaannya," kata Suharyo di kompleks Gereja Katedral, Jakarta, Jumat (28/2/2026).
Suharyo menjelaskan bahwa gereja Katolik kini mendorong konsep ekologi integral, sebuah cara pandang yang tidak hanya melihat masalah lingkungan pada sampah, polusi air, atau kerusakan tanah. Ia menilai sistem yang ada saat ini, termasuk ekonomi dan budaya, ikut berkontribusi pada keretakan hubungan manusia dengan alam.
Baca Juga
Keuskupan Jakarta Hidupkan Semangat Paus Fransiskus Melalui Belarasa
"Ekologi integral itu ekologi yang mencakup keseluruhan isi ciptaan ini. Termasuk manusia," ujarnya.
Suharyo mengkritisi klaim bahwa bumi adalah rumah kita bersama. Ia menilai realitas saat ini menunjukkan hal yang sebaliknya, ketika ketimpangan akses dan kesejahteraan masih sangat lebar.
"Nyatanya apa? Nyatanya ada negara kaya, ada negara miskin, ada yang rumahnya 10, ada yang tidak punya rumah. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bumi rumah kita bersama?" kata dia.
Dia juga menyoroti sistem ekonomi kapitalis yang diibaratkan pasar bebas tanpa perlindungan bagi yang lemah. Sebagai solusi kerusakan tersebut, Mgr. Suharyo mengajak masyarakat melakukan pertobatan ekologis. Hal ini bukan sekadar mengikuti anjuran teknis, melainkan mengubah cara pandang hidup secara mendasar, termasuk mengadopsi gaya hidup minimalis dan fungsional.
"Mengubah cara pandang hidup. Kalau punya sepatu ya cukuplah untuk ganti-ganti, enggak usah koleksi sepatu jumlahnya 50," katanya mencontohkan.
Menurutnya, manusia kerap memaknai harga diri seseorang dari barang yang dikenakan, bukan martabat kemanusiaannya.
Baca Juga
Suharyo juga mengajak masyarakat melakukan langkah nyata, sekecil apa pun, seperti mengolah sampah dan minyak jelantah, serta memilih transportasi yang lebih rendah jejak karbonnya.
"Kita diundang untuk mewujudkan ekologi integral. Namun, karena ekologi integral itu luasnya bukan main, sekurang-kurangnya kita pilih yang sangat konkret, yaitu ekologi bumi," tuturnya.
