Kampus Ini Menawarkan 'Mindset' Pemimpin, Bukan Sekedar Entrepreneur
Jakarta, Investortrust.id – Pada tahun 2023 konsultan bisnis dan manajemen terkemuka di dunia, McKinsey merilis sebuah laporan tentang kekhawatiran manusia tentang teknologi baru yang berkembang sangat cepat saat ini, artificial intellegence (AI).
Survei yang dilakukan McKinsey Global memperkirakan potensi otomatisasi pekerjaan hingga 40% jam kerja. Kekhawatiran ini juga melanda 62% masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa pekerjaan mereka bisa digantikan oleh AI di masa depan.
Namun, Dekan Globis University Jepang, Sitoshi Hiroshe berpendapat lain. Ia menegaskan bahwa di masa depan AI membantu manusia, bukan menggantikan. AI memberikan pilihan, namun tidak memutuskan. "Ada tiga hal yang tidak bisa digantikan oleh AI yakni pengambilan keputusan, penilaian berbasis nilai dan tujuan dan misi hidup." Ungkapnya saat jamuan makan siang bersama media di Jakarta.
Tantangan dari AI membuat para top manajemen mengedepankan nilai nilai yang tak bisa ditiru oleh AI. Lebih lanjut Sitoshi mengatakan bahwa para dosen di Globis University tak hanya mengajarkan teori. Mahasiswa diajak dan dibimbing untuk menemukan dan kemudian mempertajam nilai kokorozashi, yaitu misi pribadi yang menyatukan passion, nilai dan visi masing-masing individu agar dapat memberikan dampak yang baik bagi bisnis, keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar.
Globis adalah sekolah bisnis terbesar di Jepang dengan pertumbuhan mahasiswa terbesar di Jepang. Kampus yang didirikan oleh Yoshito Hori dengan Satoshi Hirose ini menghadirkan model MBA (Master of Business Administration) yang berbeda, berbasis praktik, dan mengedepankan tujuan (purpose-driven) ke tingkat global.
Satoshi mengemukakan angka 40% sebagai market share Globis pada pendidikan MBA bisnis di Jepang. "Di Globis kami berfokus hanya pada pendidikan MBA. Kami tidak hanya mengajarkan teori, namun kami ingin agar semua siswa cakap pada pengetahuan teori tetapi juga menjadi seorang pemimpin bisnis yang sangat baik." Ucapnya.
"Di Globis, mahasiswa dididik untuk menjadi seorang pemimpin yang profesional, inovatif dan memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui kombinasi nilai-nilai Jepang dengan perspektif global, dan pembelajaran bisnis yang aplikatif." Tutur Shitoshi.
"Kami mengajarkan kokorozashi, mengajak mahasiswa untuk mempunyai sense of mission. Untuk apa kita bekerja? Apa yang ingin kita capai dalam hidup ini? Program MBA kami membuat Globis berbeda. Globis mendorong para mahasiswa agar memiliki misi, tujuan dan kontribusi kepada masyarakat." Sitoshi menambahkan.
Shoko Namba, yang kini mendampingi Sitoshi sebagai staff di Globis University menceritakan pengalamannya. "Saya dulu bekerja sebagai staff di sebuah perusahaan ekspor impor. Kemudian saya melanjutkan studi saya di Globis dan di situlah wawasan saya terbuka bahwa di Globis, para siswa dididik untuk menjadi seorang pemimpin." Tuturnya.
Berbicara tentang "gender equality", Satoshi mengatakan bahwa di Globis, semua penerusnya adalah wanita dan dalam tim yang ia pimpin, head of marketing, head of sales, head of operations dan head of Indonesia semuanya dijabat oleh perempuan.
"Ketika saya memulai bisnis saya sekitar 40 tahun lalu, di Jepang hampir mustahil menemukan pemimpin wanita." Kata Sitoshi.
Pada forum Future Investment Initiative (FII) di Riyadh, Arab Saudi, Oktober 2025 pendiri dan presiden Globis University Yoshito Hori berbicara tentang semakin meningkatnya peran wanita di Jepang. Yoshito mengungkapkan bahwa Jepang sedang mengalami masa yang sangat "menarik" dan akan terus tumbuh meskipun ada ketidakpastian global.
Seperti dikutip dari Arabnews, Yoshito memulai dengan menyoroti meningkatnya jumlah pejabat perempuan di Jepang untuk menunjukkan pertumbuhan negara tersebut.
“Kita memiliki perdana menteri perempuan pertama, yang bertemu Trump hari ini. Kita juga memiliki gubernur perempuan Tokyo, yang berbicara (di FII). Kita juga memiliki menteri keuangan perempuan, (yang) sangat menarik,” katanya.
Sementara di Indonesia, Satoshi berpendapat gender equality sudah lebih baik dan Indonesia juga menjadi negara yang sangat penting bagi Globis University. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Globis University semakin meningkat dan karena itu Globis juga telah menyediakan ruang khusus sebagai mushola bagi mahasiswa muslim baik dari Indonesia atau dari negara lain. "Di dekat kampus kami terdapat rumah makan halal. Indonesia sangat penting bagi Globis karena itu kami ingin berkontribusi kepada pertumbuhan dan kesuksesan Indonesia." Kata Satoshi.
Begitu pentingnya Indonesia bagi Globis, saat ini Globis telah mendirikan kampus penghubung bagi calon mahasiswa yang ingin berkuliah di Globis. "Kampus di Indonesia? Tentu saja kami pertimbangkan tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Kami membantu para calon mahasiswa yang ingin belajar di Globis atau mengambil short course tiga bulan secara hybrid, online dan offline." Jelas Satoshi.
Satoshi memberikan jaminan uang kuliah bisa dikembalikan apabila mahasiswa merasa tidak puas dengan suasana belajar di Globis dengan syarat dan ketentuan berlaku. Ia menambahkan ada beasiswa bagi mahasiswa yang cemerlang, salah satu penerimanya adalah seorang mahasiswa dari India yang masih berusia 18 tahun namun sudah menyelesaikan pendidikan setara sarjana.
"Di Globis kami tidak hanya mengajarkan teori, namun kami juga membangun ekosistem industri. Kami berhubungan baik dengan Toyota, Sumitomo, Mitsubishi. Mahasiswa bisa magang atau bahkan diterima bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut." Satoshi menambahkan.

