Everton Terbukti Melanggar Aturan Finansial, Manchester City dan Chelsea Selanjutnya?
JAKARTA, investortrust.id – Setelah Everton dikurangi 10 poin karena terbukti melanggar aturan finansial Liga Premier Inggris, penggemar kini menanti bagaimana nasib Manchester City dan Chelsea. Sama seperti The Toffees, dua klub besar Inggris itu juga menghadapi kasus yang sama.
Everton baru saja menerima kenyataan pahit masuk zona degradasi karena hukuman pengurangan 10 poin yang dijatuhkan terkait neraca keuangan dalam tiga tahun terakhir.
Komisi Independen yang menyelidiki kasus ini menemukan fakta kerugian Everton dihasilkan dari manajemen yang buruk. Everton lebih banyak membeli pemain tanpa bisa menjualnya. Target yang tidak terpenuhi di kompetisi juga membuat pemasukan The Toffees berkurang sangat drastis.
Uniknya, apa yang dialami Everton sama dengan Manchester City dan Chelsea. Bahkan, jauh lebih parah. Manchester City misalnya, sudah melakukan lebih dari 100 pelanggaran finansial selama periode 2009/2010 hingga 2017/2018.
The Citizens juga dituduh menutupi nilai gaji asli yang didapat pelatih pada periode 2009/2010 hingga 2012/2013 (Roberto Mancini). Dalam regulasi Liga Premier dan UEFA, ini termasuk kesalahan fatal.
Baca Juga
Mengapa Everton Dihukum Pengurangan 10 Poin? Begini Penjelasannya
Kemudian, Manchester City juga melanggar aturan Liga Premier terkait keuntungan dan keberlanjutan pada musim 2015/2016, 2016/2017, 2017/2018. Ada juga tidak patuh terhadap aturan UEFA terkait lisensi klub dan financial fair play (FFP) pada musim 2013/2014 dan 2014/2015 hingga 2017/2018.
Akibat sejumlah kasus itu, Manchester City sempat dihukum dilarang tampil di kompetisi antarklub Eropa pada Februari 2020 dan denda 30 juta Euro (Rp 505 juta). Tapi, setelah banding, Manchester City justru lolos dari hukuman larangan tampil dan hanya didenda 10 juta Euro (Rp 168 miliar).
Seperti Manchester City, Chelsea juga menghadapi masalah serupa. Liga Premier dan UEFA sedang melakukan investigasi keuangan The Blues selama era kepemilikan Roman Abramovich. Belanja Chelsea yang tidak rasional ketika itu dianggap sebagai sinyal pelanggaran aturan FFP.
Selain itu, Roman Abramovich juga dituduh menggunakan dana hasil money laundering untuk membiayai Chelsea. Kabarnya, ada biaya transfer dan pembayaran bonus pemain yang tidak dilaporkan secara transparan.
Baca Juga
Inggris Main Jelek Lawan Malta, Gareth Southgate Beri Pembelaan Diri

