Bongkahan Batu di Tengah Jalan
“Mengapa daftar panjang target akhir tahun sering kali bukan strategi, melainkan sekadar daftar harapan?“
Oleh: Dadang Syamsul Munir - Tenaga Ahli Manajemen Strategis Agribisnis di PT Primakelola IPB - IPB Consulting.
INVESTORTRUST - Pernahkah melihat seorang pemanjat tebing menghadapi dinding batu yang curam? Di hadapannya membentang puluhan meter permukaan batu yang licin. Namun, ia tidak memikirkan seluruh puncak tebing itu sekaligus. Pandangannya menyapu dinding batu untuk mencari satu celah paling sempit dan paling sulit, tempat pijakan kaki bisa tergelincir: the crux.
Dalam panjat tebing, crux adalah bagian paling kritis pada suatu rute. Jika titik tersulit itu berhasil ditaklukkan, sisa jalur menuju puncak akan jauh lebih mudah dilewati. Sebaliknya, jika gagal di titik tersebut, rencana indah mencapai puncak sirna seketika.
Istilah inilah yang dipinjam Richard Rumelt dalam bukunya, The Crux: How Leaders Become Strategists. Rumelt menyoroti sebuah kebiasaan keliru yang nyaris dianggap lumrah di banyak ruang rapat: mengira bahwa menyusun daftar target ambisius sama dengan menyusun strategi. Banyak pimpinan perusahaan mengumpulkan tim di akhir tahun, lalu menyusun dokumen tebal berisi puluhan sasaran: menaikkan omzet 40 persen bahkan lebih dari 100 persen, merekrut talenta terbaik, memperluas cabang, membenahi sistem TI, dan memperbaiki kepuasan pelanggan.
Semuanya tampak penting. Semuanya terdengar hebat. Namun, Rumelt mengingatkan bahwa daftar keinginan bukanlah strategi. Ketika segalanya dijadikan prioritas, sebenarnya tidak ada prioritas sama sekali.
Pola semacam ini kerap terjadi di dunia usaha ( atau diruang rapat organisasi lainnya) , terutama ketika sebuah unit bisnis /program baru diluncurkan. Pada bulan-bulan awal, manajemen sering langsung mencanangkan delapan inisiatif sekaligus. Setiap pekan tim berlari ke sana-kemari mengejar berbagai target: promosi di media sosial, pembaruan kemasan produk, negosiasi dengan distributor baru, hingga perbaikan sistem pergudangan.
Semua orang bekerja lembur. Semua orang berkeringat. Enam bulan kemudian, hasilnya nihil. Masalah dasarnya sering kali sangat sederhana: produk yang dirancang memiliki tingkat kerusakan/cacat yang tinggi saat dikirim ke konsumen. Akibatnya, sebanyak apa pun promosi yang dipasang atau cabang yang dibuka, pelanggan lama tetap pergi membawa kekecewaan. Organisasi kehabisan napas dan sumber daya karena membagi perhatian ke delapan arah, alih-alih memusatkan seluruh daya untuk meremukkan satu masalah paling genting.
Di situlah letak gagasan inti Rumelt. Strategi sejati bukanlah tentang memutuskan ke mana organisasi ingin melangkah, melainkan tentang mengidentifikasi satu tantangan paling kritis—sang crux—yang sekaligus dapat diatasi (addressable). Setelah titik genting itu ditemukan, barulah seluruh energi, perhatian, dan sumber daya organisasi difokuskan ke sana. Memilih crux memang menuntut keberanian besar.
Menentukan satu masalah utama berarti secara sadar mengabaikan masalah-masalah lain yang mungkin tampak mendesak tetapi sebenarnya tidak menentukan kelangsungan hidup bisnis. Banyak tim merasa cemas jika hanya berfokus pada satu hal. Ada ketakutan dianggap tidak bekerja keras jika agenda kerja tidak terlihat penuh dan rumit.
Padahal, membagi daya secara merata ke puluhan target sering kali hanyalah cara halus untuk menghindari keputusan sulit. Rumelt mengibaratkan strategi seperti sebuah tuas (leverage). Tuas tidak bekerja dengan mendorong seluruh beban sekaligus, melainkan dengan menempatkan tumpuan pada satu titik yang tepat agar beban yang berat bisa terangkat.
Kenyataan ini menjadi cermin bagi dinamika kerja sehari-hari. Seberapa sering banyak pihak menyibukkan diri dengan target-target pinggiran hanya karena masalah intinya terlalu menakutkan untuk disentuh? Berapa banyak energi yang terbuang untuk urusan remeh, sementara bongkahan batu besar di tengah jalan dibiarkan begitu saja?
Buku Rumelt menyodorkan sebuah pengingat lugas. Pekerjaan terberat seorang pemikir strategis bukanlah merangkai kata-kata indah dalam dokumen rencana tahunan. Tantangan terbesarnya adalah menatap setumpuk persoalan yang rumit, lalu dengan tenang menunjuk ke satu titik dan menegaskan: “Selesaikan yang ini dulu, yang lain bisa menunggu.”
*) Diadaptasi dari buku The Crux: How Leaders Become Strategists, karya Richard Rumelt.
