Antara Tambang Batu Bara dan Tangki Bensin, Menguji Hitung-hitungan Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Batu bara selama ini dikenal sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan komoditas ekspor. Namun, melalui teknologi pengolahan, komoditas tambang ini juga dapat diubah menjadi metanol, gas sintetis, dimetil eter (DME), hingga bahan bakar cair. Hilirisasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah batu bara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah produk energi impor.
Peluang itu menjadi relevan ketika harga minyak dunia bergejolak. Saat harga minyak mentah rendah, produk hasil pengolahan batu bara harus bersaing dengan bahan bakar konvensional yang relatif lebih murah. Sebaliknya, ketika harga minyak meningkat akibat gangguan pasokan global, selisih biaya produksi dapat menyempit. Namun, daya saing hilirisasi batu bara tetap bergantung pada biaya investasi, teknologi, dan kepastian pasar.
Baca Juga
Bantu Korban Bencana di NTT, PTBA Bangun Fasilitas Air Bersih
Berdasarkan estimasi ekonom energi Yayan Satyakti dan data harga bensin GlobalPetrolPrices pada September 2026, biaya perkiraan produksi bensin dari batu bara (coal-to-liquid/CTL) mencapai sekitar Rp 14.400 per liter. Sebagai pembanding, estimasi harga bensin impor ketika minyak mentah berada di level US$ 75 per barel mencapai Rp 9.800 per liter, sedangkan ketika minyak naik menjadi US$106 per barel, harganya diperkirakan mencapai Rp 13.300 per liter. Adapun harga jual bensin RON 95 di Indonesia pada periode Oktober 2026 tercatat Rp 19.150 per liter.
Perbandingan tersebut menunjukkan bensin hasil pengolahan batu bara diperkirakan masih lebih mahal sekitar Rp 4.600 per liter ketika minyak mentah berada di level US$ 75 per barel. Ketika harga minyak naik menjadi US$ 106 per barel, selisihnya menyusut menjadi sekitar Rp 1.100 per liter. Angka ini merupakan perbandingan estimasi biaya dan harga, bukan bukti bahwa bensin dari batu bara sudah lebih kompetitif secara komersial.
Peluang itulah yang ingin ditangkap PT Bukit Asam Tbk (PTBA), bagian MIND ID. Perseroan memperluas pemanfaatan batu bara dari penjualan bahan bakar menuju pengembangan produk kimia dan gas yang memiliki pasar berbeda. Selain membuka sumber pendapatan baru, strategi tersebut diharapkan menciptakan permintaan batu bara dalam jangka panjang dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Untuk mendukung rencana tersebut, Bukit Asam mengalokasikan cadangan batu bara sebesar 1,145 miliar ton bagi pengembangan industri kimia berbasis batu bara dan bisnis pembangkitan listrik. Alokasi itu terdiri atas 842 juta ton untuk coal to chemicals, yakni pengolahan batu bara menjadi produk kimia, serta 303 juta ton untuk pembangkit listrik. Cadangan tersebut menjadi modal bahan baku bagi pengembangan usaha jangka panjang.
Empat Proyek Andalan Bukit Asam
Bukit Asam menyiapkan empat jalur pengembangan utama, yakni pengolahan batu bara menjadi metanol dan DME, gas alam sintetis (synthetic natural gas/SNG), kalium humat, serta pembangkit listrik untuk mendukung industri smelter aluminium. Dalam peta jalan perusahaan, proyek-proyek tersebut ditargetkan memasuki tahap operasi komersial (commercial operation date/COD) pada rentang 2028–2031.
Direktur Utama Bukit Asam Bambang Ismawan menekankan pentingnya mempercepat transformasi perusahaan agar batu bara menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi. “Batu bara perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai lebih tinggi agar manfaat sumber daya alam bagi perekonomian dan masyarakat semakin besar,” kata dia dalam paparan manajemen kepada media, Jumat (2/10/2026).
Indonesia perlu mengejar ketertinggalan dari negara yang telah lebih dahulu mengembangkan industri pengolahan batu bara, terutama Tiongkok.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk Bukit Asam Turino Yulianto menjelaskan bahwa setiap jalur pengembangan memiliki tingkat kesiapan dan kebutuhan investasi yang berbeda. Sebagian proyek masih berada dalam tahap riset, sedangkan proyek lainnya telah melalui kajian kelayakan dan sedang dipersiapkan menuju pembangunan.
Pengembangan produk turunan bukan hanya soal menaikkan nilai jual batu bara. Hilirisasi juga diharapkan menciptakan pasar yang lebih terencana sehingga permintaan bahan baku dapat berlangsung selama puluhan tahun. Turino menyebut keberlanjutan usaha dalam horizon 20–30 tahun sebagai salah satu pertimbangan utama.
Metanol dan DME untuk Mengurangi Ketergantungan Impor
Salah satu proyek utama Bukit Asam adalah pengolahan batu bara menjadi metanol, yang dapat dilanjutkan menjadi berbagai produk kimia, termasuk DME. Dalam skema yang disiapkan, perseroan akan memasok sekitar 7,33 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan gas sintetis atau syngas, yang selanjutnya diolah menjadi metanol berkapasitas 2 juta ton per tahun.
Proses tersebut menggunakan teknologi gasifikasi. Berbeda dengan pembakaran langsung untuk menghasilkan panas, gasifikasi mengubah batu bara menjadi gas yang mengandung komponen utama, seperti karbon monoksida dan hidrogen. Gas sintetis tersebut kemudian diproses lebih lanjut untuk menghasilkan metanol.
Metanol memiliki beragam kegunaan sebagai bahan baku industri, antara lain untuk pembuatan formaldehida, asam asetat, dan berbagai produk kimia lainnya. Metanol juga dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan DME, yang berpotensi digunakan sebagai alternatif elpiji.
Dalam skema proyek Bukit Asam, Pertamina Group disiapkan sebagai calon pembeli metanol untuk mendukung pengembangan industri hilir. Sementara itu, Pertamina Patra Niaga direncanakan menjadi calon pembeli DME. Dengan demikian, produksi metanol sebanyak 2 juta ton per tahun merupakan kapasitas pada tahap awal pengolahan, sedangkan DME merupakan produk lanjutan yang membutuhkan proses dan perhitungan kapasitas tersendiri.
Pengembangan DME diarahkan untuk mendukung pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji. Namun, potensi tersebut baru dapat diwujudkan apabila biaya produksi DME kompetitif, fasilitas pengolahan beroperasi secara andal, dan produk dapat diserap pasar dengan harga yang mendukung keberlanjutan usaha.
Dalam paparan publik sebelumnya, Bukit Asam menargetkan konstruksi proyek DME dan SNG dapat dimulai pada 2027. Sementara itu, peta jalan perusahaan mencantumkan target operasi komersial proyek coal to methanol/DME pada kuartal IV-2030. Pengembangan proyek tersebut melibatkan koordinasi Danantara, MIND ID, Bukit Asam, dan Pertamina Group.
Persiapan lahan menjadi salah satu kemajuan yang disampaikan perusahaan. Bukit Asam menyebut lahan pabrik seluas 197 hektare telah disiapkan dengan tingkat pembebasan mencapai 97,08%. Perusahaan juga membahas draf rancangan peraturan presiden yang berkaitan dengan harga metanol dan DME.
Turino menempatkan dukungan Danantara sebagai unsur penting untuk menyelaraskan kepentingan perusahaan tambang, calon pembeli, dan penyedia pembiayaan. Menurut dia, proyek strategis berskala besar membutuhkan koordinasi lintas perusahaan dan dukungan pemerintah agar dapat berlanjut dari tahap perencanaan menuju pelaksanaan. Bukit Asam menyebut potensi peningkatan nilai tambah sekitar 3,4 kali untuk jalur metanol/DME.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Kembangkan Hilirisasi Batu Bara hingga PLTS untuk Diversifikasi Bisnis
Proyek Metanol di Kalimantan Timur
Pengembangan metanol dari batu bara tidak hanya menjadi agenda Bukit Asam. Pemerintah juga mendorong proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Untuk menghasilkan kapasitas tersebut, fasilitas diperkirakan membutuhkan 7,70–7,78 juta ton batu bara per tahun dengan nilai kalori sekitar 3.400 kilokalori per kilogram. Berdasarkan angka desain itu, kebutuhan bahan baku mendekati empat ton batu bara untuk menghasilkan satu ton metanol.
Nilai investasi proyek mencapai sekitar Rp 41,2 triliun atau setara US$ 2,3 miliar. Fasilitas direncanakan dibangun di Batuta Chemical Industrial Park, Bengalon, Kutai Timur, dengan target mulai beroperasi atau memasuki tahap commissioning pada 2029. Fasilitas yang disiapkan mencakup unit gasifikasi, sintesis metanol, pembangkit listrik, pengolahan air, dan sarana pendukung lainnya.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Siapkan Produksi 2027, Fokus Pasokan Domestik dan Ekspor
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan hilirisasi batu bara, termasuk untuk menghasilkan bahan bakar minyak dan DME. Investasi untuk pengolahan batu bara menjadi metanol sudah mulai berjalan. Metanol yang dihasilkan nantinya masih dapat diproses lebih lanjut menjadi produk lain.
“Kami mengharapkan dari metanol itu kan juga bisa dilakukan pengolahan lebih lanjut, ini apakah sebagai bahan baku biodiesel atau ini bisa diolah lebih lanjut dengan proses kimia menjadi metanol (sebagai campuran bensin),” ujar Yuliot saat meresmikan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur awal Oktober 2026.
Proyek tersebut menunjukkan skala investasi yang dibutuhkan untuk membangun industri kimia berbasis batu bara. Di satu sisi, kapasitas produksi besar dapat membuka peluang pasokan metanol domestik. Di sisi lain, nilai investasi dan kebutuhan bahan baku yang tinggi menuntut kepastian pembeli, harga produk, serta efisiensi operasi sejak tahap perencanaan.
SNG untuk Memenuhi Kebutuhan Gas Industri
Selain metanol dan DME, Bukit Asam mengembangkan proyek pengolahan batu bara menjadi SNG. Produk ini dirancang sebagai alternatif pasokan gas bagi wilayah Sumatra Selatan dan Jawa bagian barat, dengan kapasitas yang dicantumkan perusahaan sebesar 237,5 BBTUD.
Untuk mendukung kapasitas tersebut, perseroan menyiapkan pasokan batu bara sekitar 9,78 juta ton per tahun. Dalam skema pengembangan, Bukit Asam akan memasok bahan baku, sedangkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) disiapkan sebagai calon pembeli SNG untuk kemudian menyalurkannya kepada pelanggan industri melalui jaringan gas.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Kejar Hilirisasi, Batu Bara Jadi Gas hingga Bahan Baterai
Proyek tersebut diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan gas industri, termasuk di wilayah yang menghadapi keterbatasan pasokan. Bukit Asam dan PGN juga telah menandatangani head of agreement untuk kerja sama studi kelayakan gasifikasi batu bara menjadi SNG. Studi kelayakan bersama proyek tersebut dinyatakan selesai.
Tahap berikutnya mencakup penentuan keputusan keberlanjutan proyek, koordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait, serta penjajakan mitra teknologi, dan pelaksana rekayasa, pengadaan, serta konstruksi (EPC). Bukit Asam mencantumkan potensi peningkatan nilai tambah sekitar 5,7 kali untuk jalur SNG.
Cadangan Besar, Tantangan Besar
Rencana hilirisasi Bukit Asam bertumpu pada ketersediaan batu bara nasional dalam jumlah besar. Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia Tahun 2025 dengan data hingga Desember 2024, Indonesia memiliki sumber daya batu bara sekitar 97,96 miliar ton dan adangan sekitar 31,9 miliar ton. Sebaran sumber daya dan adangan tersebut terutama berada di Kalimantan dan Sumatra.
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batu bara Indonesia pada 2025 mencapai 817,48 juta ton, melampaui target 710 juta ton. Dari jumlah tersebut, realisasi pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) mencapai 246,88 juta ton.
Baca Juga
Target Harga Saham Bukit Asam (PTBA) Direvisi Naik, Laba Melonjak dan Potensi Dividen 10%
Besarnya produksi memperlihatkan peran penting batu bara dalam dalah energi dan perekonomian nasional. Komoditas ini memasok kebutuhan pembangkit dalah dalahc sekaligus menjadi salah satu andalan ekspor. Tantangannya dalah memperluas pemanfaatan batu bara agar tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah atau produk dengan pengolahan terbatas.
Data neraca nasional yang sama mencatat cadangan batu bara sekitar 31,9 miliar ton, terdiri atas cadangan terkira sebesar 14,418 miliar ton dan cadangan terbukti sebesar 17,536 miliar ton. Dengan membandingkan cadangan tersebut dan tingkat produksi tahunan, umur cadangan secara matematis berada di kisaran 39–40 tahun. Perhitungan ini hanya ilustrasi berdasarkan tingkat produksi saat ini.
Peluang pengembangan industri pengolahan juga ditopang oleh besarnya sumber daya batu bara berkalori rendah. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM dalam neraca 2023, sumber daya batu bara kalori rendah mencapai sekitar 66,27 miliar ton, dengan cadangan sekitar 23,70 miliar ton. Karakteristik batu bara tersebut membuka peluang pengembangan gasifikasi, meskipun pemilihan teknologi dan kelayakan ekonomi tetap harus mempertimbangkan kualitas bahan baku serta kebutuhan energi proses.
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri dalam sebuah forum diskusi ekonomi pernah mengingatkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Kunci keberhasilannya terletak pada rantai pasok dan pasar yang menyerap produk akhir.
Baca Juga
Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan
Hilirisasi batu bara bukan sekadar upaya mencari pengganti minyak atau gas. Strategi ini merupakan pilihan untuk memperluas sumber pasokan energi dan bahan baku industri, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik. Ketika harga minyak dunia melonjak, produk alternatif berpotensi memberikan manfaat lebih besar—sepanjang biaya produksinya mampu bersaing.
Cadangan Bukit Asam, 1,145 miliar ton merupakan modal untuk mengembangkan bisnis tersebut. Tantangannya adalah mengubah potensi itu menjadi proyek yang layak secara ekonomi, memiliki pembeli yang jelas, dan benar-benar beroperasi. Ibarat sedia payung sebelum hujan, hilirisasi perlu dipersiapkan sebelum gejolak energi datang. Sebab, cadangan batu bara yang melimpah baru menjadi kekuatan ketika mampu diolah menjadi produk yang dibutuhkan dan terjangkau bagi pasar.
