Camino de Flores, Perjalanan 70 Kilometer Mari Pangestu untuk Bersyukur dan Berbagi
(Bagian 1 dari 5 tulisan)
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perjalanan menyusuri Flores menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menata batin, dan menemukan kembali makna kehidupan. Semangat tersebut menjadi inti Camino de Flores Etape Tengah, yang berlangsung 23–27 Oktober 2026 melalui wilayah Bajawa, Nagekeo, dan Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mengusung tema “A Spiritual Journey of Reflection & Recovery”, Camino de Flores menempatkan kegiatan berjalan kaki sebagai bagian dari perjalanan spiritual untuk berefleksi dan memulihkan diri. Peserta diarahkan melewati perkampungan, gereja, kawasan adat, hingga bentang alam pegunungan dan pesisir.
Baca Juga
Camino de Flores: 70 Tahun Dr Mari Pangestu, 70 Kilometer untuk Kebangkitan Pariwisata Flores
Mari Pangestu memilih Flores karena sejumlah alasan. Pertama, Flores baru saja diguncang gempa bermagnitudo 7,7 Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo pada kedalaman 15 kilometer itu dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. Guncangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan rumah dan bangunan. Gempa tersebut memicu tsunami yang teramati di sejumlah pesisir, dan diikuti ribuan gempa susulan. Pemulihan Flores membutuhkan pembangunan kembali hunian dan layanan dasar, sekaligus penguatan sumber penghidupan masyarakat, termasuk pertanian, usaha kecil, dan pariwisata.
Kedua, hampir seperempat penduduk Flores berada dalam kemiskinan yang hanya menggantungkan kehidupan pada pertanian subsisten. Camino de Flores diharapkan menjadi penggerak pariwisata Flores. Dengan berjalan kaki, makan di rumah penduduk, belanja jualan di sepanjang jalan, membeli produk UMKM, ekonomi Flores bisa terbantu.
Pengembangan pariwisata dapat membuka pasar bagi keluarga petani yang masih menjalankan pertanian subsisten, yakni bertani terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Kebutuhan penginapan, restoran, dan wisatawan terhadap sayuran, buah, kopi, serta bahan pangan lokal berpeluang menambah pendapatan petani. Peluang itu perlu ditopang kemitraan pembelian yang berkelanjutan, pendampingan mutu produksi, dan distribusi yang lancar, sambil tetap menjaga kecukupan pangan keluarga.
Pengalamannya sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia, 19 Oktober 2011 hingga 20 Oktober 2014, membuat Mari tahu persis bagaimana menggerakkan ekonomi lewat pariwisata. Diharapkan, wisata Camino de Flores diikuti oleh para wisatawan nusatanra (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman).
Baca Juga
Ketiga, Flores memiliki tempat tersendiri di hati Mari Pangestu. Ya, karena alamnya, ya karena orang-orang dan budayanya, ya karena agama Katolik yang sudah berakar dalam di Flores. Ia memilih Flores untuk ziarah iman.
Dalam bahasa Spanyol, camino berarti jalan atau rute. Dalam tradisi ziarah, kata ini memperoleh makna lebih dalam, perjalanan yang memberi ruang untuk mengenal diri, memperkuat iman, dan membangun kedekatan dengan sesama. Setiap langkah dapat menjadi kesempatan melepaskan diri sejenak dari kesibukan, mendengarkan suara batin, serta menemukan kembali hal-hal yang berharga dalam kehidupan.
Istilah ini dikenal luas melalui Camino de Santiago, atau Jalan Santo Yakobus, yakni jaringan jalur ziarah menuju Katedral Santiago de Compostela di Galicia, Spanyol. Menurut tradisi Kristen, di tempat itulah makam Rasul Yakobus Tua berada. Tradisi ziarah tersebut berkembang sejak abad ke-9. Jalur Camino Francés masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1993, kemudian pengakuannya diperluas pada 2015 dengan mencakup sejumlah jalur di Spanyol utara.
Camino de Santiago memiliki beragam jalur dengan karakter masing-masing. Camino Francés merupakan jalur klasik yang dapat dimulai dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis menuju Santiago. Camino Portugués berasal dari Portugal, dengan pilihan jalur pedalaman dan pesisir. Camino del Norte mengikuti kawasan pantai utara Spanyol, sedangkan Camino Primitivo dikenal sebagai jalur awal dalam sejarah ziarah menuju Compostela. Keragaman itu memberi pilihan pengalaman, dari perkampungan dan kota bersejarah hingga pesisir serta pegunungan.
Seiring waktu, daya tarik Camino meluas melampaui tujuan keagamaan. Perjalanan ini juga diminati orang yang mencari ketenangan, pengalaman budaya, tantangan fisik, dan kesempatan mengambil jarak dari rutinitas. Berjalan berhari-hari mengajarkan kesabaran serta kesadaran akan keterbatasan diri. Persinggahan menghadirkan pertemuan, berbagi makanan, menerima pertolongan, dan mendengarkan kisah orang yang sebelumnya tidak dikenal. Dimensi budaya dan pengalaman pribadi inilah yang turut mewarnai perkembangan Camino hingga sekarang.
Semangat tersebut menginspirasi Camino de Flores. Dalam konteks Flores, perjalanan berjalan kaki dirangkai dengan kunjungan ke tempat ibadah, kampung adat, desa wisata, dan bentang alam. Warisan Katolik yang kuat berpadu dengan kebudayaan lokal serta kehidupan masyarakat. Perjalanan ini memberi ruang bagi doa dan refleksi, sekaligus kesempatan memahami bagaimana penduduk merawat tradisi, mengolah tanah, dan menjalani kesehariannya.
Etape Tengah Camino de Flores pada Oktober 2026 menghadirkan sekitar 70 kilometer perjalanan kaki dalam rangkaian kegiatan yang melintasi Ngada, Nagekeo, dan Ende. Pada bagian akhir perjalanan, peserta mengunjungi Kelimutu dan Desa Wisata Waturaka, kemudian melanjutkan agenda sejarah serta penutupan di Ende. Perjumpaan dengan masyarakat menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut, bersama semangat kepedulian dan dukungan bagi pemulihan Flores.
Camino de Flores juga membawa peluang ekonomi. Ketika pelancong berjalan, singgah, menginap, menikmati makanan setempat, dan membeli hasil kerajinan, desa-desa memperoleh kesempatan menjadi bagian dari kegiatan pariwisata. Pengembangan perjalanan ini diarahkan untuk memperluas kunjungan ke daratan Flores dengan menghubungkan situs religi, desa wisata, alam, dan tradisi budaya.
Makna Camino de Flores terletak pada kedalaman pengalaman itu, mengenal Flores melalui langkah kaki dan perjumpaan. Keindahan alam mengundang orang datang; keramahan, cerita, dan kehidupan masyarakat memberi isi pada perjalanan. Jalan membawa pelancong menuju suatu tempat, sementara pengalaman sepanjang Camino dapat membawanya pulang dengan cara pandang yang baru.
Flores menyimpan kekayaan spiritual yang membekas dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. Tasuku Sato, perwira Angkatan Laut Jepang yang bertugas di Flores pada masa Perang Dunia II, mengenang pulau ini sebagai “Pulau Iman”. Dalam kesaksiannya yang dikutip sebuah ulasan Aku Terkenang Flores, ia menulis: “Tidak sulit melihat tangan Tuhan dalam penempatan saya di Pulau Iman selama tahun-tahun perang.” Sebutan itu mengungkapkan betapa mendalam pengalaman perjumpaannya dengan kehidupan iman masyarakat Flores.
Dalam semangat itulah Camino de Flores memperoleh makna. Menapaki Flores menjadi kesempatan untuk mengenal iman yang hidup dalam doa, keramahan, ketekunan, dan kepedulian masyarakatnya. Jalan-jalan yang menghubungkan gereja, kampung adat, kebun, dan pegunungan membuka ruang bagi pejalan untuk berefleksi sekaligus berjumpa dengan kehidupan sehari-hari penduduk. Bagi orang dengan beragam latar belakang, perjalanan ini dapat menjadi pengalaman menemukan keheningan, membangun persaudaraan, dan menumbuhkan penghargaan terhadap alam serta budaya setempat. Camino de Flores adalah undangan menyusuri Pulau Iman dan menemukan makna dalam setiap perjumpaan.
Baca Juga
Upbit Indonesia Gelar Kegiatan Kemanusiaan di Flores dan Edukasi Anak di Medan
Pesan “70 Years of Life, 70 KM to Give Back” memberikan bingkai khusus bagi perjalanan ini, mensyukuri 70 tahun kehidupan melalui perjalanan sekita bersama 70 karabat dan sahabat dengan semangat memberi kembali. Usia dan jarak dipertemukan dalam sebuah ajakan untuk memaknai pengalaman hidup serta memperkuat kepedulian kepada sesama. Dengan menapaki jalan sepanjang 70 kilometer sambil menyapa masyarakat di kiri-kanan jalan dan di tempat perhentian, Mari hendak menegaskan orientasi perjalanannya, yakni ungakapan rasa syukur, refleksi iman, dan kepedulian terhadap sesasma.
Etape Tengah disusun dengan memadukan perjalanan berjalan kaki dan perpindahan menggunakan mobil atau bus. Karena itu, jarak sekitar 70 kilometer merupakan akumulasi ruas jalan kaki, bukan keseluruhan jarak antardaerah yang dilintasi. Rincian empat hari perjalanan dalam panduan mencatat jarak berjalan kaki masing-masing 2,2 kilometer, 28 kilometer, 30 kilometer, dan 10,7 kilometer. Jika dijumlahkan, totalnya mencapai 70,9 kilometer, atau sekitar 70 kilometer sebagaimana pesan utama kegiatan.
Pesona Alam dan Budaya serta Tantangan Kemiskinan
Flores menyimpan kekayaan bentang alam, tradisi, dan kehidupan spiritual. Namun, pembangunan di kawasan ini masih menghadapi tantangan mendasar: bagaimana menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan kampung, lahan pertanian yang sangat sempit, dan permukiman yang tersebar di lereng pegunungan dan perbukitan. Data BPS tahun 2025 menunjukkan, penduduk di delapan kabupaten di kawasan Flores sekitar 2,197 juta dengan jumlah penduduk miskin mencapai 349.090 jiwa.
Pulau Flores terbagi dalam delapan kabupaten. Dari barat ke timur, wilayah tersebut meliputi Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur. Sebuah kajian dalam Jurnal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menyebut luas Pulau Flores sekitar 13.540 kilometer persegi. Angka luas perlu disertai rujukan karena terdapat perbedaan dalam berbagai publikasi.
Dalam membaca statistik kawasan ini, daratan utama Flores perlu dibedakan dari wilayah administratif delapan kabupatennya. Sejumlah kabupaten juga mencakup pulau-pulau di sekitarnya. Karena itu, penjumlahan penduduk kabupaten menggambarkan kawasan administratif Flores beserta pulau-pulau tersebut, bukan semata-mata penduduk yang tinggal di daratan utama.
Berdasarkan tabel penduduk BPS NTT tahun 2025, Sikka memiliki sekitar 345.300 penduduk, disusul Manggarai 340.200 jiwa, Manggarai Timur 301.500 jiwa, dan Flores Timur 296.800 jiwa. Ende dihuni sekitar 284.200 penduduk, Manggarai Barat 281.700 jiwa, Ngada 176.500 jiwa, serta Nagekeo 170.700 jiwa. Penjumlahan angka yang telah dibulatkan tersebut menghasilkan sekitar 2.196.900 penduduk.
Identitas Flores juga lekat dengan kehidupan masyarakat Katolik. Berdasarkan penghitungan atas tabel Kanwil Kementerian Agama NTT berlabel 31 Desember 2023, jumlah umat Katolik di delapan kabupaten mencapai sekitar 1,898 juta orang, atau 85,48% dari total penduduk dalam sumber yang sama. Angka ini merupakan gambaran komposisi keagamaan tahun 2023, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai statistik terbaru 2026.
Komposisinya berbeda antardaerah. Proporsi umat Katolik di Manggarai mencapai sekitar 94,91%, sedangkan di Flores Timur sekitar 79,16%, Manggarai Barat 77,34%, dan Ende 75,51%. Perbedaan tersebut memperlihatkan keragaman masyarakat Flores, tempat komunitas dengan latar agama berbeda menjadi bagian dari kehidupan kawasan ini.
Di balik kekayaan sosial dan budaya itu, kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar. Data BPS 2025 menunjukkan Manggarai Timur memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi di antara delapan kabupaten, yakni 70.990 jiwa atau 23,51% dari penduduknya. Manggarai mencatat 65.810 penduduk miskin atau 18,10%, sedangkan Ende sebanyak 58.920 jiwa atau 21,31%.
Di Manggarai Barat, jumlah penduduk miskin mencapai 49.550 jiwa atau 16,09%. Sikka mencatat 36.740 jiwa atau 11,25%, Flores Timur 28.920 jiwa atau 10,88%, Ngada 19.530 jiwa atau 11,22%, dan Nagekeo 18.630 jiwa atau 12,18%. Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin delapan kabupaten tersebut mencapai 349.090 jiwa.
Konektivitas menjadi salah satu unsur penting dalam menjawab tantangan pembangunan tersebut. Jalur utama Trans-Flores menghubungkan Labuan Bajo di bagian barat dengan Larantuka di bagian timur melalui sejumlah pusat permukiman dan kegiatan ekonomi. Ruas jalan ini umumnya melewati daratan Flores bagian tengah dan selatan. Referensi perjalanan menyebut panjang rute ini sekitar 660 kilometer. Angka tersebut merupakan perkiraan panjang perjalanan, bukan ukuran resmi inventaris seluruh ruas jalan nasional.
Selain jalur utama, pemerintah menyiapkan peningkatan Jalan Lintas Utara Flores sepanjang 472,48 kilometer yang menghubungkan Labuan Bajo dengan Maumere. Berdasarkan keterangan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pada Oktober 2026, penuntasan jalur tersebut ditargetkan paling lambat akhir 2028.
Dari keseluruhan panjang jalur utara, sepanjang 385,07 kilometer telah beraspal, sedangkan 87,41 kilometer lainnya belum beraspal. Penanganannya mencakup pengaspalan ruas yang tersisa serta pelebaran jalan menuju standar nasional, dengan lebar sekitar 6–7 meter sesuai kondisi lapangan. Pemerintah mengharapkan peningkatan jalan ini memperlancar mobilitas warga, distribusi hasil pertanian dan komoditas lokal, serta akses menuju pusat ekonomi dan kawasan pariwisata.
Bagi Flores, pembangunan jalan akan semakin berarti apabila diikuti oleh kesempatan ekonomi yang menjangkau masyarakat sepanjang jalurnya. Petani membutuhkan akses pasar, pelaku usaha memerlukan distribusi yang lancar, dan warga membutuhkan perjalanan yang lebih mudah menuju sekolah serta layanan kesehatan. Keberhasilan pembangunan pada akhirnya perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari: pendapatan yang meningkat, pelayanan yang terjangkau, dan semakin sedikit keluarga yang hidup dalam kemiskinan.
Flores Tak Berhenti di Labuan Bajo
Flores terlalu kaya untuk dinikmati hanya dari satu pintu. Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo telah memperkenalkan pesonanya kepada dunia. Namun, perjalanan menuju pedalaman, Flores Mainland, membuka pengalaman lain: kampung adat di kaki gunung, danau vulkanik, kebun kopi, kain tenun, gereja, serta masyarakat yang menjaga hubungan erat dengan alam dan leluhurnya.
Delapan kabupaten di Flores—Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur—menawarkan rangkaian pengalaman yang dapat saling melengkapi. Perjalanan itu dapat diteruskan ke Lembata, pulau dan kabupaten tersendiri di sebelah timur Flores, untuk mengenal kehidupan pesisir dan warisan budaya masyarakatnya.
Gagasan memperluas perjalanan ke Flores mainland, atau daratan utama Flores, memperoleh bentuk melalui Tour de Flores pada 2016 dan 2017. Balap sepeda internasional tersebut membawa perhatian publik menyusuri pulau dari Larantuka hingga Labuan Bajo. Pada penyelenggaraan 2016, lintasan menghubungkan Larantuka, Maumere, Ende, Bajawa, Ruteng, dan Labuan Bajo. Rute 2017 turut menghadirkan Mbay dan Borong sebagai kota etape. Dengan demikian, Flores diperkenalkan sebagai satu rangkaian destinasi yang terbentang dari timur ke barat.
Camino de Flores membawa semangat penjelajahan itu melalui pengalaman berjalan kaki. Terinspirasi Camino de Santiago di Spanyol, program ini memadukan perjalanan spiritual, budaya, sejarah, alam, dan perjumpaan dengan masyarakat. Orang diajak memperlambat langkah, mendengarkan cerita, serta melihat kehidupan yang sering terlewat dari jendela kendaraan.
Etape Tengah Camino de Flores pada Oktober 2026 melintasi Ngada, Nagekeo, dan Ende, dengan total perjalanan berjalan kaki sekitar 70 kilometer dalam rangkaian kegiatan. Angka tersebut merupakan akumulasi perjalanan kaki peserta, bukan panjang keseluruhan jalan raya Bajawa–Ende. Menurut laporan BPOLBF, perjalanan hari terakhir mencakup Kelimutu dan Desa Wisata Waturaka, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan sejarah serta penutupan di Ende.
Perbedaan cara menjelajah justru memperkaya tawaran Flores. Tour de Flores memperkenalkan bentang pulau melalui olahraga dan perjalanan lintas kota. Camino membuka ruang untuk mengenal desa, menyapa petani, mengunjungi tempat ibadah, dan menikmati perjalanan sebagai pengalaman pribadi yang reflektif.
Baca Juga
Pemerintah Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami Pascagempa Flores
Di Manggarai Barat, penjelajahan daratan dapat membawa wisatawan menuju kawasan Sano Nggoang dan hutan di sekitarnya. Danau, lanskap pedesaan, serta kegiatan pengamatan burung memperluas pilihan wisata di kabupaten yang selama ini sangat lekat dengan Labuan Bajo. BPOLBF mencatat Sano Nggoang dan Puar Lolo sebagai bagian dari lokasi pengamatan burung di Flores bagian barat.
Memasuki Kabupaten Manggarai, Wae Rebo menawarkan perjumpaan dengan arsitektur dan kehidupan adat. Rumah-rumah berbentuk kerucut yang dikenal sebagai mbaru niang berdiri di tengah lanskap pegunungan. Perjalanan kaki menuju kampung menjadi bagian dari pengalaman: wisatawan memasuki lingkungan masyarakat dengan ritme yang berbeda, lalu mengenal rumah, ruang bersama, dan tradisi yang terus dirawat.
Manggarai Timur memiliki daya tarik alam seperti Danau Ranamese dan kawasan Poco Ndeki. Keduanya juga tercatat dalam pengembangan wisata pengamatan burung di Flores. Potensi ini memberi ruang bagi wisata minat khusus, dengan pengalaman yang bertumpu pada kualitas lingkungan dan pengetahuan pemandu lokal.
Di Ngada, Kampung Adat Bena menjadi salah satu tempat penting untuk memahami hubungan masyarakat dengan warisan leluhur. Berada di kaki Gunung Inerie, kampung ini mempertemukan rumah adat, peninggalan megalitik, tenun, dan kehidupan sehari-hari. Bena merupakan permukiman yang terus hidup; kunjungan wisata memperoleh makna ketika pengunjung mengenal masyarakat dan menghormati tata adatnya.
Bentang Ngada juga dapat dinikmati dari Bukit Wolobobo. Sementara itu, Taman Rohani Maria Ratu Alam Semesta Wolowio menawarkan ruang doa dan permenungan di kawasan perbukitan Bajawa. Wolowio menjadi titik awal perjalanan Camino de Flores Etape Tengah, mempertemukan pengalaman spiritual dengan lanskap alam dan kehidupan budaya setempat.
Perjalanan ke bagian utara Ngada menghadirkan suasana berbeda. Kawasan Taman Wisata Alam Tujuh Belas Pulau di Riung menawarkan gugusan pulau dan kekayaan perairan. Wisata bahari di sini dapat melengkapi kunjungan ke kampung adat dan pegunungan, sehingga pelancong memperoleh alasan untuk tinggal lebih lama di Ngada.
Di Nagekeo, Kampung Adat Tutubhada membuka kesempatan mengenal arsitektur tradisional, ingatan leluhur, dan ritual masyarakat. Rumah-rumah adat mengelilingi ruang bersama yang juga menjadi tempat pelaksanaan kegiatan adat. Tradisi tinju adat sebagai ungkapan syukur atas panen memperlihatkan eratnya hubungan kebudayaan dengan kehidupan agraris. Kunjungan perlu mengikuti waktu dan ketentuan masyarakat, sebab ritual memiliki makna yang melampaui pertunjukan bagi wisatawan.
Ende memiliki salah satu ikon alam Flores, yakni danau tiga warna Kelimutu. Kawasan ini dapat menjadi pintu untuk menjelajahi desa-desa di sekitarnya, termasuk Waturaka di kaki Gunung Kelimutu. Di Waturaka, kegiatan pertanian dan interaksi dengan penduduk menjadi bagian dari pengalaman wisata berbasis masyarakat. Pengunjung memperoleh kesempatan mengenal proses menanam, kehidupan desa, serta hubungan warga dengan lingkungan.
Pantai Batu Biru di kawasan Nangapanda menambah variasi perjalanan di Ende dengan hamparan batu berwarna khas di pesisir. Adapun di kota Ende, jejak pengasingan Bung Karno memberi dimensi sejarah kebangsaan. Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, yang dikunjungi dalam rangkaian Camino de Flores, mengingatkan pada masa ketika Bung Karno membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan selama pengasingannya pada 1934–1938.
Bergerak ke Sikka, wisatawan dapat menemukan perpaduan pantai, tenun, sejarah, dan kehidupan keagamaan. Pantai Koka, kawasan pesisir Maumere, kampung tenun Sikka dan Watublapi, serta taman doa Nilo menawarkan pengalaman yang beragam. Menyaksikan proses menenun memberi kesempatan memahami waktu, keterampilan, dan pengetahuan yang terkandung dalam selembar kain. Pembelian langsung dari perajin juga dapat memperkuat manfaat ekonomi kunjungan.
Di Flores Timur, Larantuka dikenal melalui tradisi Semana Santa. Pekan Suci menjelang Paskah menghadirkan perjalanan iman, pertemuan keluarga, dan tradisi pulang kampung. Kekayaan budaya Lamaholot serta hubungan masyarakat dengan pulau-pulau Adonara dan Solor memperluas pengalaman kawasan timur Flores. Wisata religi di sini memerlukan sikap hormat terhadap kekhusyukan ibadah dan peran masyarakat sebagai pemilik tradisi.
Lembata melanjutkan kisah tersebut dengan karakter kepulauannya sendiri. Lamalera, antara lain, menyimpan pengetahuan maritim yang diwariskan antargenerasi, terlihat dalam perahu tradisional, pembagian peran, dan hubungan sosial masyarakat pesisir. Pengalaman wisata dapat diarahkan pada pengenalan sejarah kampung, keterampilan pembuatan perahu, serta cerita tentang kehidupan di laut.
Rangkaian destinasi itu menunjukkan peluang ekonomi yang luas. Wisatawan yang tinggal lebih lama membutuhkan penginapan, makanan, kendaraan, pemandu, dan berbagai layanan. Belanja mereka dapat menjangkau pemilik homestay, petani, perajin tenun, pengolah kopi, pengemudi, serta pelaku usaha kecil. Manfaat tersebut akan lebih besar apabila kebutuhan pariwisata dipenuhi oleh produk dan tenaga kerja setempat.
Karena itu, pengembangan Flores memerlukan paket perjalanan lintas kabupaten yang terhubung dengan baik. Jalan yang layak, informasi destinasi yang jelas, sanitasi, pengelolaan sampah, pelayanan yang ramah, dan pemandu yang memahami budaya menjadi kebutuhan dasar. Pemerintah daerah, komunitas adat, gereja, pengelola desa wisata, serta pelaku usaha dapat membangun kerja sama agar perjalanan lebih mudah direncanakan dan manfaatnya tersebar.
Camino de Flores memberi contoh bagaimana desa wisata, situs religi, lanskap alam, dan kegiatan budaya dapat dirangkai menjadi pengalaman perjalanan. BPOLBF menempatkan pengembangan tersebut sebagai peluang memperluas kunjungan ke kabupaten-kabupaten di luar Labuan Bajo sekaligus melibatkan masyarakat dalam kegiatan pariwisata.
Labuan Bajo dapat menjadi pintu pembuka bagi perjalanan yang lebih panjang. Dari sana, wisatawan diajak masuk ke daratan Flores, berhenti di kampung, menikmati kopi, mendengarkan kisah, dan melanjutkan langkah hingga ke timur. Semakin banyak ruang bagi perjumpaan itu, semakin besar peluang pariwisata menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Flores layak dijelajahi lebih jauh. Keindahannya memikat orang datang; manusia dan kebudayaannya memberi alasan untuk tinggal lebih lama dan kembali.
Memulai Langkah dari Bajawa
Pada hari pertama Camino de Flores, Jumat, 23 Oktober 2026 pagi, Mari Pangestu dan rombongan ke Wolobobo untuk melihat keindahan Ineria dan fajar pagi. Di negeri di atas awan inilah, Mari mengawali hari baru dengan mengucap syukur atas ulang tahunya yang ke-70.
Agar bisa diikuti seluruh rombongan, perjalanan Camino de Flores dimulai dari Bandara Soa. Peserta yang sudah tiba sehari sebelumnya dan yang tiba hari itu melanjutkan perjalanan menuju Bajawa menggunakan mobil atau bus, kemudian menuju Wolowio dengan kendaraan. Tapi rombongan terakhir tertahan di Labuan Bajo dan baru bergabung, Sabtu pagi, 24 Oktober 2026.
Dari Wolowio, peserta berjalan kaki menuju Beiposo sejauh 2,2 kilometer. Setelah menyelesaikan ruas pembuka tersebut, peserta melanjutkan perjalanan menuju hotel menggunakan kendaraan.
Dibandingkan hari-hari berikutnya, lintasan pembuka ini relatif singkat. Susunan tersebut memberikan awal yang lebih ringan sebelum peserta memasuki dua hari dengan jarak berjalan kaki paling panjang.
Bajawa berada pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Kawasan dataran tinggi ini menjadi titik awal perjalanan yang selanjutnya menghubungkan sejumlah lokasi di Ngada, Nagekeo, dan Ende.
Dalam budaya lokal, nama Bajawa tersusun dari dua kata: ba, yang berarti piring, dan jawa, yang berarti kebersamaan atau perdamaian. Bajawa pun dimaknai sebagai “piring perdamaian”, sebuah gambaran tentang tempat manusia berkumpul, berbagi makanan, dan merawat persaudaraan. Piring menjadi lambang kesediaan untuk berbagi kehidupan: menerima tamu, mendengarkan cerita, dan memberi ruang bagi sesama.
Makna itu terasa dekat dengan semangat Camino de Flores. Ketika peziarah duduk dan makan bersama masyarakat, kebersamaan memperoleh bentuknya yang paling sederhana sekaligus mendalam. Hidangan mempertemukan orang-orang yang sebelumnya belum saling mengenal; percakapan menumbuhkan kedekatan. Di Bajawa, “piring perdamaian” menjadi ajakan untuk menghadirkan persaudaraan melalui keramahan dan kesediaan berbagi.
Menyusuri Bena hingga Mataloko
Hari kedua, Sabtu, 24 Oktober 2026, memuat dua ruas utama berjalan kaki dengan total jarak 28 kilometer. Perjalanan dimulai dari gereja yang dalam panduan disebut Gereja MBC menuju Bena sejauh 15 kilometer.
Bena dikenal sebagai desa adat Ngada. Kehadiran kampung adat dalam lintasan memberi dimensi budaya pada perjalanan spiritual tersebut. Peserta tidak hanya bergerak dari satu titik menuju titik lain, tetapi juga melewati ruang kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari identitas Flores.
Dari Bena, peserta bergerak menuju Raketada menggunakan mobil atau bus. Perjalanan berjalan kaki kemudian dilanjutkan dari Raketada menuju Kemah Tabor di Mataloko sejauh 13 kilometer.
Dengan demikian, jarak 28 kilometer pada hari kedua merupakan gabungan ruas Gereja MBC–Bena sepanjang 15 kilometer dan Raketada–Kemah Tabor sepanjang 13 kilometer. Ruas Bena–Raketada ditempuh menggunakan kendaraan.
Mataloko menjadi penghubung penting dalam susunan perjalanan. Selain menjadi tujuan pada hari kedua, kawasan ini menjadi titik keberangkatan untuk lintasan hari berikutnya.
Lintasan Terpanjang Menuju Nangapanda
Hari ketiga, Minggu, 25 Oktober 2026, merupakan bagian dengan akumulasi jarak berjalan kaki terpanjang, yakni 30 kilometer. Rutenya menghubungkan Mataloko, Gako, Nangaroro, dan Nangapanda.
Peserta dijadwalkan berangkat dari Kemah Tabor di Mataloko menuju Gako dengan berjalan kaki sejauh 20 kilometer. Ruas ini menjadi segmen jalan kaki terpanjang yang dicantumkan dalam rincian harian panduan.
Setelah tiba di Gako, peserta melanjutkan perjalanan ke Nangaroro menggunakan mobil atau bus. Dari Nangaroro, perjalanan kembali dilakukan dengan berjalan kaki menuju Nangapanda sejauh 10 kilometer.
Kombinasi kedua ruas tersebut menghasilkan total 30 kilometer berjalan kaki dalam sehari. Bersama lintasan hari kedua, dua hari ini menyumbang 58 kilometer, atau sebagian besar dari seluruh jarak jalan kaki Etape Tengah.
Peta panduan juga menandai gereja paroki di Nangapanda sebagai salah satu titik utama. Penempatan gereja, kampung adat, dan bentang alam dalam satu rangkaian rute memperlihatkan karakter perjalanan yang mempertemukan pengalaman spiritual dengan kehidupan masyarakat setempat.
Kelimutu dan Waturaka
Pada hari keempat, Senin, 26 Oktober 2026, perjalanan diarahkan menuju kawasan Kelimutu, kemudian berlanjut ke Waturaka dan Ende.
Dari hotel, peserta dijadwalkan menuju kawasan Taman Nasional Kelimutu menggunakan mobil atau bus. Panduan mencantumkan ruas berjalan kaki dari area parkir menuju Danau Kelimutu sepanjang 2,2 kilometer.
Danau Kelimutu ditandai berada pada ketinggian sekitar 1.639 meter di atas permukaan laut. Lokasi tersebut menjadi titik alam utama dalam rangkaian perjalanan hari keempat.
Baca Juga
Prabowo Pantau Pemulihan Pascagempa Flores: Sekolah hingga Aktivitas Warga Berangsur Normal
Panduan selanjutnya mencatat ruas berjalan kaki dari area parkir Kelimutu menuju Waturaka sejauh 8,5 kilometer. Dengan mengacu pada kedua ruas yang dicantumkan, total jarak jalan kaki hari keempat mencapai 10,7 kilometer.
Waturaka berada pada ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut berdasarkan penanda dalam peta. Dari Waturaka, peserta melanjutkan perjalanan menuju Ende menggunakan mobil atau bus.
Peta menempatkan Ende pada ketinggian sekitar 10 meter di atas permukaan laut dan turut mencantumkan Katedral Ende sebagai salah satu titik utama. Rangkaian ini memperlihatkan perubahan bentang perjalanan dari dataran tinggi menuju kawasan yang lebih rendah di pesisir Flores.
Meski rentang kegiatan pada sampul panduan berlangsung hingga Selasa, 27 Oktober 2026, bahan yang tersedia hanya memuat rincian perjalanan sampai Senin, 26 Oktober 2026. Agenda hari terakhir belum dijelaskan.
Refleksi dalam Setiap Langkah
Susunan rute Camino de Flores menghadirkan perjalanan dengan beberapa lapis pengalaman. Gereja menjadi penanda dimensi iman, kampung adat menghadirkan perjumpaan dengan budaya, sedangkan pegunungan, danau, dan pesisir menjadi ruang untuk menghayati alam.
Dalam bingkai reflection, perjalanan ini dapat dimaknai sebagai kesempatan menengok kembali pengalaman hidup: memahami pencapaian, menerima keterbatasan, serta mempertimbangkan hal-hal yang masih ingin dikerjakan dan diberikan kepada sesama.
Sementara itu, recovery membawa pesan pemulihan diri dalam konteks perjalanan spiritual. Berjalan, mengambil jeda, dan memberi perhatian pada lingkungan sekitar menjadi bagian dari ajakan untuk menemukan kembali ketenangan dan arah hidup.
Perpaduan jalan kaki dan perjalanan menggunakan kendaraan juga menjadi bagian penting dari desain rute. Peserta berjalan pada ruas-ruas yang telah ditentukan, kemudian menggunakan kendaraan untuk menghubungkan titik berikutnya. Seluruh rangkaian tidak dirancang sebagai perjalanan berjalan kaki tanpa putus.
Baca Juga
Melalui pesan “70 Years of Life, 70 KM to Give Back”, Camino de Flores menghubungkan rasa syukur dengan kesediaan untuk terus memberi. Setiap kilometer membawa pertanyaan yang dekat dengan kehidupan: apa yang telah diterima, apa yang telah dipelajari, dan apa yang masih dapat dibagikan.
Di sepanjang Bajawa, Nagekeo, hingga Ende, perjalanan sekitar 70 kilometer itu menawarkan ruang untuk menghayati pertanyaan tersebut. Langkah-langkah menuju tujuan menjadi kesempatan untuk pulang kepada diri sendiri—dan kembali kepada sesama dengan kepedulian yang lebih besar.
Di usia 70 tahun, Mari Pangestu membawa rasa syukur sepanjang 70 kilometer jalan Flores. Setiap perjumpaan memberi makna pada langkahnya: kehidupan yang telah menerima begitu banyak anugerah selalu memiliki sesuatu untuk dibagikan. Langkah boleh berhenti di Ende. Syukur harus terus berjalan menjadi kepedulian, membuka penghidupan, dan menumbuhkan harapan. (Bersambung)
