Boy Kelana dan Andre Rahmanto Berbagi Pangalaman di KHI 2026, Ada Filosofi Tengkleng dan Lima Sifat Wajib Humas
Poin Penting
|
SOLO, investortrust.id – Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Boy Kelana Soebroto dan Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhumas Solo, Andre Rahmanto berbagi pengalaman tentang bagaimana membangun kepercayaan dalam ‘Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026’ hari kedua di Solo, Jawa Tengah, Minggu (18/10/2026).
Boy Kelana Soebroto mengungkap lima sifat yang harus dimiliki praktisi hubungan masyarakat (humas). Sedangkan Andre Rahmanto mengangkat filosofi kuliner khas Solo, tengkleng, untuk menjelaskan tiga unsur penting dalam membangun kepercayaan.
Ketua Umum Perhumas yang juga Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk, Boy Kelana Soebroto merangkum lima sifat yang harus dimiliki praktisi humas dalam akronim H-U-M-A-S.
"H-nya: Hati yang beretika. U-nya: Unggul dalam keahlian. Oke, kita harus belajar, punya strategi komunikasi, dan seterusnya," kata Boy Kelana.
Dia melanjutkan, praktisi humas juga harus mampu memimpin dan mengorkestrasi berbagai perspektif.
Baca Juga
'Deepfake' hingga 'Hoax' Mengintai, Perhumas Siapkan 6 Jurus Hadapi Disinformasi Berbasis AI
"M-nya: Mampu memimpin dan berorkestrasi. Jadi, kayak tadi kita bicarakan soal gamelan, bagaimana kita berorkestrasi, setiap orang punya perspektif masing-masing," ujar dia.
Boy Kelana juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dan mengantisipasi perubahan sebagai bagian dari karakter seorang humas.
"Kemudian A-nya adalah: Adaptif dan antisipatif. Nah, ini harus menjadi bagian daripada seorang humas. Dan yang terakhir, S-nya: Sinergis dan bijaksana," tandas Boy.
Sementara itu, Andre Rahmanto membeberkan filosofi tengkleng, masakan khas Solo berupa gulai encer berbahan tulang kambing yang diolah dengan bumbu rempah. Hidangan tersebut awalnya memanfaatkan bagian tulang, kepala, dan jeroan yang tidak menjadi sajian kalangan atas.
“Dari keterbatasan tersebut, tengkleng kemudian diracik dengan bumbu rempah hingga menjadi hidangan yang disukai berbagai kalangan,” tutur dia.
Menurut Andre, filosofi tengkleng berkaitan dengan tema KHI 2026, yakni ‘Menenun Kepercayaan’. Dia menyebut ada tiga unsur yang terkandung dalam kepercayaan atau trust, yaitu kemampuan (ability), niat baik (benevolence), dan integritas (integrity).
"Dari situ ya kita semua sebenarnya tahu bahwa trust paling tidak mengandung tiga unsur, yaitu ability, benevolence, dan integrity,” tandas dia.
Andre mengungkapkan, unsur kemampuan terlihat dari keahlian mengolah tengkleng, mulai dari merebus tulang hingga menghasilkan kuah dengan rasa yang seimbang. Keahlian tersebut juga diwariskan secara turun-temurun.
Adapun niat baik tecermin pada semangat berbagi dan bertahan hidup bersama yang melatarbelakangi lahirnya tengkleng. “Adapun integritas terlihat dari konsistensi rasa dan kejujuran dalam penggunaan bahan masakan,” ucap dia.
Andre juga menyoroti aspek keberlanjutan dalam pengolahan tengkleng. Pemanfaatan tulang, kepala, dan jeroan membuat bagian-bagian hewan tersebut tidak terbuang. Dari sisi sosial ekonomi, tengkleng turut menopang rantai nilai lokal, mulai dari peternak, pedagang, petani rempah hingga warung keluarga.
"Jauh sebelum kita bicara tentang nose-to-tail dan zero waste, jauh sebelum istilah ini populer, para pembuat atau para pemasak tengkleng sudah melakukan itu dengan nyata setiap hari," tegas dia.
Konvensi Humas Indonesia 2026 yang diselenggarakan Perhumas pada 17–18 Oktober 2026 di Solo, Jawa Tengah mengusung tema utama ‘Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia’.
Konvensi ini secara khusus menyoroti tantangan besar di era kecerdasan buatan (AI) yang membawa risiko disinformasi, manipulasi persepsi, serta fenomena deepfake.
Di tengah perubahan perilaku publik yang kini lebih mengandalkan mesin pencari berbasis AI untuk menilai reputasi institusi, KHI 2026 menekankan pentingnya integritas, transparansi, dan standar etika tinggi agar praktisi humas mampu menyajikan data yang valid, tepercaya, dan memiliki kedalaman.
Baca Juga
Redam Polarisasi di Ruang Publik, Perhumas Dorong Gerakan ‘Indonesia Bicara Baik’
Selain merespons disrupsi teknologi, ajang tahunan ini mendiskusikan narasi nasional, keberlanjutan (ESG), serta manajemen krisis melalui rangkaian sesi pleno lintas sektor.
Konvensi ini juga melahirkan Rekomendasi Strategis 2027 yang mendorong transformasi praktisi humas dari sekadar pembuat siaran pers menjadi penasihat strategis dan penjaga reputasi bangsa yang adaptif.
Berikut 6 poin rekomendasi strategis yang dirumuskan Perhumas:
1. Penguatan kompetensi Strategic Communication Leadership. Praktisi humas didorong mengambil peran strategis sebagai penasihat pimpinan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan reputasi, dan pembangunan kepercayaan publik melalui kepemimpinan komunikasi serta pengambilan keputusan berbasis data.
2. Penguatan kompetensi digital, AI, dan etika komunikasi. Praktisi humas dituntut memiliki literasi AI dan analitik data serta memanfaatkan Generative AI secara etis dan bertanggung jawab melalui penyusunan standar kompetensi dan pedoman penggunaan AI yang menekankan verifikasi informasi, perlindungan data, dan pengawasan manusia.
3. Peningkatan kompetensi Crisis, Risk, and Trust Management. Praktisi humas perlu memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi risiko, mengantisipasi krisis, berkomunikasi dalam ketidakpastian, memulihkan kepercayaan publik, serta menangani misinformasi dan disinformasi.
4. Penguatan kompetensi komunikasi lintas budaya dan reputasi global. Praktisi humas didorong menguasai komunikasi antarbudaya, diplomasi komunikasi, dan strategic storytelling untuk memperkuat reputasi Indonesia serta mengomunikasikan agenda keberlanjutan bagi pemangku kepentingan nasional maupun internasional.
5. Standardisasi, sertifikasi, dan pengembangan kompetensi berkelanjutan. Standar kompetensi profesi kehumasan perlu diselaraskan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri melalui kolaborasi antara Perhumas, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan lembaga sertifikasi.
6. Penguatan kompetensi pengukuran dampak komunikasi. Keberhasilan fungsi humas didorong untuk dinilai melalui pendekatan berbasis bukti, seperti perubahan pemahaman dan perilaku, kualitas hubungan, serta tingkat kepercayaan, bukan sekadar jumlah publikasi atau eksposur media.
