Ungkapan Syukur Mari Pangestu di Wolobobo, Negeri di Atas Awan (Bagian 2 dari 5 tulisan)
Poin Penting
|
Bersama rombongan Camino de Flores, Mari Pangestu merayakan ulang tahun di Wolobobo, Ngada, salah satu destinasi favorit di Flores. Keindahan dataran tinggi Flores menjadi bingkai untuk mensyukuri kehidupan, merawat persahabatan, dan melanjutkan perjalanan berbagi.
NGADA, Investortrust.id — Ada tempat yang membuat orang ingin berhenti sejenak, memandang lebih jauh, lalu mendengarkan dirinya sendiri. Wolobobo, perbukitan di dekat Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menawarkan ruang seperti itu. Di tempat yang dikenal sebagai “negeri di atas awan” tersebut, Mari Pangestu merayakan ulang tahunnya yang ke-70 pada Jumat, 23 Oktober 2026, bersama rombongan Camino de Flores.
Perayaan ini mempertemukan dua perjalanan: perjalanan menapaki usia dan perjalanan menyusuri Flores. Di tengah bentang pegunungan, pertambahan usia menemukan suasana yang dekat dengan semangat Camino: mengambil jeda, mensyukuri kehidupan, dan memberi tempat bagi perjumpaan dengan sesama.
Wolobobo memberikan latar yang istimewa. Berada pada ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut, kawasan ini membuka pandangan ke arah Bajawa, perkampungan di sekitarnya, serta bentang Gunung Inerie dan Ebulobo. Dari ketinggian, luasnya alam seolah mengajak siapa pun untuk melihat kembali perjalanan hidup dengan lebih tenang.
Bagi Mari dan rombongan, kebersamaan di Wolobobo menjadi bagian dari Camino de Flores Etape Tengah, yang menghubungkan Bajawa, Nagekeo, dan Ende. Perjalanan yang berlangsung 23–27 Oktober 2026 itu mengusung tema “A Spiritual Journey of Reflection & Recovery”, perjalanan spiritual untuk refleksi dan pemulihan diri.
Dalam bingkai itulah ulang tahun Mari memperoleh maknanya: sebuah kesempatan untuk bersyukur, hadir bersama teman seperjalanan, dan menyambut langkah berikutnya.
Bentang Alam yang Mengundang Hening
Pesona Wolobobo terletak pada keluasan pemandangan dan perubahan suasananya. Pada pagi hari, ketika kondisi cuaca mendukung, hamparan awan dapat menyelimuti kawasan yang lebih rendah, menghadirkan kesan seolah pengunjung berdiri di atas lautan putih. Dari pengalaman alam itulah julukan “negeri di atas awan” mendapatkan daya tariknya.
Dari ketinggian Wolobobo, bentang pegunungan Flores memperlihatkan pesonanya. Gunung Inerie menjulang di arah barat daya, sedangkan Ebulobo berdiri di timur, sedikit ke utara. Ketiganya membentuk hubungan geografis yang membantu pengunjung mengenali lanskap dataran tinggi di bagian tengah Pulau Flores.
Berdasarkan perhitungan koordinat geografis, jarak garis lurus dari puncak Wolobobo ke puncak Inerie sekitar 5,6 kilometer. Kedekatan tersebut menjadikan Inerie bagian yang menonjol dalam panorama dari Wolobobo. Sosok gunung berbentuk kerucut itu memberikan karakter kuat pada bentang alam Ngada.
Ebulobo berada lebih jauh, sekitar 23 kilometer dalam garis lurus dari puncak Wolobobo. Gunung di Kabupaten Nagekeo tersebut melengkapi cakrawala di arah timur. Saat cuaca cerah dan pandangan terbuka, pengunjung dapat menikmati bentang pegunungan yang menghubungkan lanskap Ngada dengan wilayah tetangganya.
Angka tersebut merupakan perkiraan jarak antarpuncak berdasarkan koordinat peta, bukan jarak perjalanan melalui jalan raya maupun jalur pendakian. Jarak dari titik pandang wisata di kawasan Wolobobo juga dapat sedikit berbeda, bergantung pada posisi pengamatan.
Daya tarik Wolobobo terletak pada kesempatan menikmati gunung-gunung itu dalam satu bentang pandang. Inerie terasa dekat, sementara Ebulobo memberi kedalaman pada cakrawala. Perbukitan di antaranya menghadirkan lapisan pemandangan yang berubah mengikuti cahaya, awan, dan kabut.
Bagi wisatawan, Wolobobo menawarkan ruang untuk berhenti sejenak dan membaca wajah Flores dari ketinggian. Dari tempat ini, kedekatan Inerie dan kejauhan Ebulobo menghadirkan pengalaman yang berbeda dalam satu panorama.
Rombongan Camino de Flores sudah berada di lokasi ini sekitar pukul 04.30 Witeng. Inilah waktu yang tepat agar bisa melihat fajar pagi dan keindahan Gunung Ineria. Hanya separuh rombongan yang beruntung menyaksikan keindahan Ineria dari Wolobobo. Sebagian rombongan Camino de Flores tertahan di Labuan Bajo karena tidak ada penerbangan malam ke Soa, Bajawa.
Gunung Inerie menjadi salah satu pusat perhatian dalam panorama tersebut. Sosoknya yang menjulang memberi ketegasan pada lanskap perbukitan Flores. Sementara itu, pandangan menuju Bajawa dan kampung-kampung di sekitarnya memperlihatkan hubungan yang dekat antara kehidupan masyarakat dan alam pegunungan.
Wolobobo memang dikenal sebagai tempat menikmati matahari terbit dan terbenam. Cahaya pagi, kabut, serta perubahan warna langit menjelang petang menawarkan wajah yang berbeda dari tempat yang sama. Keindahannya mengundang orang untuk tinggal lebih lama, memperlambat langkah, dan memperhatikan hal-hal yang kerap terlewat dalam keseharian.
Suasana seperti ini selaras dengan perjalanan reflektif Mari Pangestu dan rekannya yang tergabung di Camino de Flores. Berjalan memberi ruang untuk memperhatikan napas, mengenali batas diri, dan menyadari kehadiran orang lain. Berhenti di sebuah bukit pun dapat menjadi bagian penting dari perjalanan: ada waktu untuk memandang alam, ada waktu untuk menengok ke dalam diri.
Perayaan ulang tahun di Wolobobo menghadirkan kedekatan antara rasa syukur dan pengalaman sederhana tersebut. Tempat, waktu, dan kebersamaan memberi bingkai bagi sebuah momen pribadi di tengah perjalanan bersama.
Menapaki Flores, Memaknai Kehidupan
Camino de Flores membawa pesan “70 Years of Life, 70 KM to Give Back”. Semangat yang ditawarkan adalah menghubungkan rasa syukur atas kehidupan dengan kesediaan untuk memberi kembali.
Dalam rute Etape Tengah, peserta menempuh sekitar 70 kilometer berjalan kaki melalui sejumlah ruas perjalanan, diselingi perpindahan menggunakan kendaraan. Gereja, kampung adat, pegunungan, dan kawasan danau menjadi bagian dari lintasan yang mempertemukan pengalaman spiritual dengan alam serta kebudayaan Flores.
Kebersamaan Mari dengan rombongan di Wolobobo menempatkan perayaan ulang tahunnya dalam semangat tersebut. Pertambahan usia menjadi kesempatan untuk memandang kembali apa yang telah diterima dan memikirkan apa yang masih dapat dibagikan.
Ada makna tersendiri ketika ulang tahun dirayakan dalam sebuah perjalanan. Orang-orang yang menemani perjalanan adalah karabat dan teman Mari Pangestu, berasal dari dalam dan luar negeri. Mereka berbagi langkah, waktu, dan pengalaman. Tujuan bersama memberi ruang bagi percakapan dan persahabatan untuk tumbuh.
Di Flores, pengalaman itu memperoleh latar yang kaya. Jalan berkelok, kampung-kampung, bentang gunung, dan kehidupan masyarakat menghadirkan banyak alasan untuk berhenti serta memperhatikan. Perjalanan menjadi kesempatan mengenali sebuah tempat sekaligus memperluas cara memandang kehidupan.
Alam, Budaya, dan Kehidupan Warga
Wolobobo merupakan bagian dari kawasan Kebun Raya Wolobobo. Selain menawarkan panorama, kawasan ini memiliki fungsi konservasi, penelitian, pendidikan, dan rekreasi. Keindahan yang dinikmati pengunjung berhubungan erat dengan upaya merawat lingkungan.
Daya tariknya juga berada dalam lingkungan budaya Ngada yang kaya. Kopi, bambu, dan tenun menjadi bagian dari identitas daerah, menghubungkan hasil bumi, keterampilan, dan tradisi masyarakat.
Kekayaan tersebut turut diangkat dalam Wolobobo Ngada Festival 2026 yang mengusung tema “Kopi, Bambu, dan Tenun dalam Harmonisasi Musik dan Tari”. Rangkaian festival mencakup pasar seni, pasar bambu, kegiatan fesyen bertema tenun, pertunjukan musik dan tari, serta kuliner lokal. Agenda ini memperlihatkan bagaimana nama Wolobobo juga menjadi ruang promosi kebudayaan, pariwisata, dan usaha masyarakat.
Dengan latar tersebut, kunjungan ke Wolobobo membuka kesempatan untuk mengenali Flores lebih dekat: alamnya, karya warganya, dan tradisi yang terus dirawat.
Bagi Mari Pangestu, Jumat di Wolobobo menjadi penanda pertambahan usia di tengah perjalanan Camino de Flores. Di ketinggian yang memperluas pandangan, bersama teman-teman seperjalanan, rasa syukur menemukan tempatnya.
Usia terus bertambah, perjalanan terus berlanjut. Dari negeri di atas awan, langkah berikutnya membawa harapan yang sederhana sekaligus dalam: tetap sehat untuk berjalan, tetap terbuka untuk belajar, dan tetap memiliki sesuatu untuk diberikan. (Bersambung)
