Batuk Pilek Saat Musim Hujan, Apoteker Jelaskan Cara Penanganannya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada akhir 2026 kembali menjadi perhatian terkait meningkatnya keluhan batuk dan pilek di masyarakat. Perubahan kondisi cuaca juga membuat pemahaman mengenai gejala dan penggunaan obat secara mandiri menjadi penting sebelum masyarakat menentukan penanganan.
Di tengah kondisi tersebut, Actifed menggelar kegiatan edukasi yang melibatkan 100 apoteker dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) serta sejumlah tenaga kesehatan. Kegiatan itu membahas gejala batuk dan pilek serta pertimbangan penanganan berdasarkan kondisi yang dialami setiap orang. Dalam kegiatan tersebut, Actifed bersama IAI juga meluncurkan modul edukasi berjudul “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care”.
Modul tersebut disiapkan sebagai panduan bagi apoteker dalam memberikan konsultasi kepada masyarakat. Materinya mencakup penggunaan obat secara bertanggung jawab serta pengenalan kondisi yang membutuhkan saran medis lebih lanjut.
General Manager Haleon Indonesia Dhanica Mae Dumo-Tiu mengatakan edukasi kesehatan menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk membantu masyarakat mengambil keputusan terkait perawatan diri.
“Di Haleon, tujuan kami untuk menghadirkan solusi kesehatan sehari-hari yang lebih baik dengan kemanusiaan, melampaui sekadar menyediakan produk-produk terpercaya,” ujar Dhanica dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, pendekatan tersebut juga mencakup penyediaan informasi yang dapat membantu masyarakat memahami kondisi kesehatan dan menentukan langkah yang sesuai.
“Kami ingin mendukung hal tersebut dengan membuat informasi mengenai swamedikasi untuk batuk dan pilek menjadi lebih mudah dipahami, khususnya di masa seperti sekarang ini, ketika masyarakat mungkin lebih cermat dalam memikirkan cara mempersiapkan diri serta merawat kesehatan diri sendiri dan keluarga,” katanya.
Baca Juga
Apoteker menjadi salah satu tenaga kesehatan yang dapat diakses masyarakat ketika menghadapi keluhan kesehatan ringan. Peran tersebut mencakup pemberian informasi mengenai obat, cara penggunaan, serta kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Penulis modul sekaligus Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Lucy Novianti mengatakan masyarakat kerap menentukan obat atau penanganan berdasarkan pengalaman sebelumnya maupun rekomendasi orang lain.
“Kami sering menjumpai orang yang telah menentukan sendiri obat atau penanganan medis berdasarkan kebiasaan pribadi sebelumnya atau rekomendasi orang lain saat mengalami gangguan kesehatan umum, khususnya flu, batuk, pilek, atau masalah pernapasan ringan lainnya,” kata Lucy.
Menurut dia, kondisi dan gejala yang dialami setiap orang dapat berbeda, termasuk tingkat keparahan dan perkembangan keluhannya. Karena itu, keputusan melakukan swamedikasi perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing individu.
“Melalui modul edukasi baru yang dikembangkan bersama antara Actifed dengan IAI, apoteker akan memiliki sarana panduan tambahan untuk membantu memberikan konseling kepada konsumen, mendukung praktik swamedikasi yang bertanggung jawab, sekaligus mengidentifikasi situasi yang memerlukan saran medis lebih lanjut,” ujar Lucy.
Dokter Umum dr. Ikhsanuddin Qoth’i mengatakan gejala batuk dan pilek dapat muncul dengan karakteristik, intensitas, dan durasi yang berbeda pada setiap orang. Masyarakat perlu memperhatikan perkembangan gejala dari waktu ke waktu. Gejala yang menetap, semakin berat, atau disertai tanda peringatan tertentu dapat membutuhkan perhatian lebih lanjut karena bisa berkaitan dengan gangguan kesehatan pernapasan lain, termasuk infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan influenza.
Dengan mengenali perubahan gejala lebih awal, masyarakat dapat mempertimbangkan kapan perawatan mandiri masih sesuai dan kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter
Edukasi untuk Keluarga
Kebutuhan informasi mengenai batuk dan pilek juga berkaitan dengan kondisi keluarga. Orang tua dan anggota keluarga sering menjadi pihak pertama yang memperhatikan perubahan kondisi kesehatan anggota keluarga lainnya.
Kreator konten sekaligus pembawa acara siniar “Curhat Bapak Ibu” Nucha Bachri mengatakan periode akhir tahun kerap menjadi masa yang padat bagi keluarganya karena aktivitas sekolah anak dan pekerjaan.
“Beberapa bulan terakhir di setiap tahun biasanya menjadi masa yang paling sibuk bagi seluruh anggota keluarga; anak-anak saya sibuk dengan tugas sekolah, sementara suami saya memiliki segudang jadwal pekerjaan. Ini juga merupakan saat di mana batuk dan pilek lebih sering terjadi akibat perubahan cuaca,” ujar Nucha.
Baca Juga
Menurut Nucha, informasi mengenai gejala membantu keluarga menentukan langkah yang perlu dilakukan ketika salah satu anggota keluarga mulai mengalami gangguan kesehatan.
Senior Brand Manager OTC Haleon Indonesia Anindita Pranawestri mengatakan kampanye tersebut diarahkan untuk membuat informasi mengenai gejala batuk dan pilek lebih mudah dipahami masyarakat.
“Selama bertahun-tahun, Actifed telah mendukung masyarakat Indonesia dalam menangani gejala batuk dan pilek. Melalui ‘Beda Gejalanya, Beda Warnanya’, kami ingin membantu konsumen memahami gejala mereka dengan lebih baik dan mengambil keputusan swamedikasi yang lebih tepat, khususnya terkait kesehatan pernapasan sehari-hari,” kata Anindita.
Ia mengatakan informasi kesehatan dalam kampanye tersebut disajikan dengan pendekatan yang lebih sederhana agar masyarakat dapat menggunakannya ketika menghadapi keluhan kesehatan sehari-hari.
