AI Belum Bisa Gantikan Dokter dalam Transplantasi Ginjal, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perkembangan teknologi robotik dan kecerdasan buatan (AI) belum dapat menggantikan peran dokter dalam operasi transplantasi ginjal. Kompleksitas dan perbedaan kondisi anatomi setiap pasien membuat keterlibatan dokter bedah tetap menjadi faktor utama dalam proses operasi.
Dokter urologi Siloam Hospital Asri Nur Rasyid mengatakan, teknologi robotik saat ini masih berfungsi sebagai alat bantu bagi dokter dalam melakukan operasi transplantasi ginjal. “Operasi meskipun sama-sama transplantasi, kamu, dia, bentuknya [ginjal] beda. Maka robot belum bisa pakai AI, bervariasi dan terlalu kompleks,” kata Rasyid usai memberikan paparan dalam The 6th Siloam Urology-Nephrology Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Rasyid, robotik membantu dokter saat melakukan operasi. Dalam prosedur bedah dengan robot, dokter cukup duduk di kursi dan mengamati layar. Sistem robotik juga dapat mengurangi gerakan tangan yang gemetar saat operasi.
Baca Juga
Siloam Hospital Catat 543 Transplantasi Ginjal, Kini Kembangkan Teknologi Robotik
Meski transplantasi ginjal menggunakan robotik merupakan salah satu operasi bedah yang paling rumit, teknologi tersebut juga dapat digunakan dalam sejumlah operasi lain, seperti penanganan kista hingga penyempitan saluran.
Rasyid menjelaskan, salah satu kriteria pasien yang dapat menjalani operasi transplantasi menggunakan robotik adalah pasien dengan berat badan berlebih berdasarkan Body Mass Index (BMI).
Pasien dengan berat badan berlebih umumnya memiliki tubuh yang tertutup lemak sehingga menyulitkan proses bedah secara terbuka atau konvensional.
Dengan teknologi robotik, kondisi tersebut dapat lebih mudah ditangani karena dokter dapat melihat area operasi melalui sistem pembesaran. “Tapi, kalau robotik ‘barangnya’ datang ke muka saya. Jadi, robot itu mau sedalam apa, sejauh apapun, jaraknya sama di depan mata karena pembesaran bisa 12 kali,” ujar Rasyid.
Investasi Robot Rp 50 Miliar
Direktur Siloam Hospital Group Grace Frelita mengatakan, investasi pembelian robot untuk transplantasi ginjal mencapai sekitar Rp50 miliar.
Meski membutuhkan investasi besar, teknologi tersebut tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk mengoperasikannya. “SDM [Sumber Daya Manusia] dan teamwork itu yang paling penting,” ujar Grace.
Baca Juga
Siloam Asri Sukses Lakukan Transplantasi Ginjal Robotik Pertama di Indonesia
Grace mengatakan, meski menggunakan teknologi canggih, Siloam Hospitals Group juga terus melakukan riset. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan setiap tindakan transplantasi ginjal memiliki risiko infeksi yang kecil serta meningkatkan angka kesembuhan pasien.
Saat ini, Siloam Hospital Asri mampu menyelesaikan prosedur mulai dari pratransplantasi hingga pascatransplantasi terhadap pasien selama satu pekan. Angka tersebut lebih singkat dibandingkan sejumlah rumah sakit di dunia yang rata-rata menyelesaikan keseluruhan prosedur selama dua pekan.
Grace menambahkan, rehabilitasi medis juga menjadi salah satu aspek yang menonjol, khususnya dalam tahap pascatransplantasi. “Yang sangat menonjol juga adalah rehab medisnya. Sangat baik, khusus untuk pascatransplantasi. Jadi pasien-pasien memberikan tanggapan bahwa ini sangat membantu percepatan pemulihan,” ucap Grace.

