Investasi Pendidikan Freeport Melahirkan Dokter-Dokter Muda Papua
Poin Penting
|
TIMIKA, Investortrust.id – PT Freeport Indonesia (PTFI), perusahaan tambang mineral yang beroperasi di Papua, mendukung pendidikan anak Papua melalui program beasiswa yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro. Tahun ini, tiga penerima beasiswa asal suku Amungme dan Kamoro menyandang gelar dokter setelah menuntaskan pendidikan kedokteran di berbagai universitas di Indonesia. Pencapaian ini mempertegas dampak sosial perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Papua.
“Kami mengapresiasi pencapaian ketiga anak penerima beasiswa PTFI ini. Mereka membuktikan bahwa kerja keras, kedisiplinan, ketekunan, sikap yang adaptif, serta kegigihan dalam belajar telah mengantarkan mereka meraih cita-cita. Freeport Indonesia melalui program beasiswa turut bangga dapat menjadi bagian dari langkah besar anak-anak Papua terus berprestasi di tingkat nasional dan global,” kata Director & Executive Vice President Sustainable Development PTFI Claus Wamafma di Timika, dalam keterangannya, Senin (24/11/2025.
Ketiga dokter tersebut terdiri atas dr. Thalia Thomas Karupukaro sebagai dokter perempuan pertama dari suku Kamoro, dr. Christanto Beanal sebagai dokter laki-laki pertama dari suku Amungme, serta dr. Sephia Jangkup sebagai dokter perempuan pertama dari suku Amungme. Ketiganya menempuh perjalanan pendidikan yang panjang sejak menerima beasiswa pada jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
Baca Juga
Bahlil Kaji Tambang Freeport Bisa Beroperasi Sebagian Pascabencana Longsor
Claus mengatakan beasiswa PTFI yang dikelola melalui YPMAK menjadi wujud komitmen perusahaan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Papua. Ia menambahkan, kolaborasi perusahaan dan YPMAK bersama pemerintah terus diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan di wilayah setempat.
Program beasiswa YPMAK telah berjalan sejak 1996. Selama hampir 30 tahun, program ini berkembang menjadi instrumen penting pemberdayaan masyarakat lokal. Penerima manfaatnya meliputi masyarakat Suku Amungme dan Suku Kamoro yang tinggal di sekitar area operasi PTFI, serta lima suku kekerabatan lainnya. Melalui investasi sosial jangka panjang, PTFI menempatkan pendidikan sebagai prioritas dalam meningkatkan daya saing generasi muda Papua.
Ketua Pengurus YPMAK Leonardus Tumuka mengatakan pencapaian ketiga dokter tersebut mencerminkan hasil nyata dari investasi pendidikan yang konsisten.
“Kami akan siapkan sumber daya manusia yang kuat melalui dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia untuk menghasilkan masyarakat yang lebih berkualitas, yang pada akhirnya mereka bisa menciptakan sesuatu yang bisa membantu masyarakatnya sendiri,” kata Leo.
Perjalanan Thalia menjadi salah satu cerita paling inspiratif. Ia memperoleh beasiswa sejak 2013 ketika masih duduk di bangku SMP di Tomohon, Sulawesi Utara, hingga menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Atma Jaya. Selama 12 tahun mengikuti program beasiswa, ia mengalami perkembangan emosional, akademik, dan spiritual yang membentuk ketangguhannya.
Pengakuan Penerima
Thalia mengenang dua momen penting selama masa pendidikannya. Pertama, ketika ia terpilih menjadi wakil Sulawesi Utara pada lomba nasional bidang geosains di Padang. “Saya bangga karena salah satu anak Papua bisa mewakili bidang geologi di tingkat nasional,” kata Thalia.
Momen kedua terjadi saat ia sudah menjadi mahasiswa kedokteran, ketika seorang pasien kembali hanya untuk mengucapkan terima kasih. “Sesederhana itu, tetapi sangat membanggakan. Saya merasa benar-benar bermanfaat,” katanya.
Thalia menyelesaikan studi kedokteran pada 4 November 2025. Ia mengatakan keinginannya menjadi dokter tumbuh dari keterbatasan akses layanan kesehatan di Papua. “Beasiswa yang saya dapatkan ini sangat berpengaruh dan bisa menjadi pintu bagi semua generasi muda Papua untuk meraih mimpi yang lebih besar. Saya memilih menjadi dokter karena saya adalah anak yang tahu persis bagaimana susahnya layanan akses kesehatan di Papua. Saya ingin menjadi solusi dari masalah ini,” kata Thalia.
Baca Juga
Freeport Siapkan Investasi di 2026 untuk Keberlanjutan Tambang dan Hilirisasi
Christanto Beanal juga menikmati perjalanan akademik panjang sebagai penerima beasiswa. Ia menuntaskan pendidikan kedokteran di Unika Atma Jaya dan kini tengah menjalani pendidikan S2 Manajemen Rumah Sakit di Universitas Pelita Harapan di Tangerang.
Christanto mengatakan beasiswa yang diterimanya bukan hanya dukungan finansial, tetapi juga dukungan moral dan emosional. “YPMAK menyediakan support system yang sangat berarti. Kami bisa berkonsultasi dengan kakak-kakak pembina, bukan hanya soal administrasi, tetapi juga untuk dukungan psikis dan emosional,” katanya.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan kedokteran adalah kebutuhan memiliki lingkungan pendukung. “Struggling di pendidikan kedokteran itu bukan cuma soal belajar, tapi tentang punya teman-teman sebaya yang mengerti perjuangannya. Kami saling mendukung, saling menguatkan,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Sephia Jangkup yang menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia pada awal 2025, kini menjalani program internship di RSUD Mimika. Ia menerima beasiswa PTFI sejak jenjang SMP. “Saya bangga bisa menunjukkan bahwa anak-anak dari Timika, khususnya dari suku Amungme dan Kamoro, bisa menjadi dokter,” katanya. Ia berharap pencapaiannya menjadi motivasi bagi generasi berikutnya di kampung halaman.

