Lewat AI Telemedicine, DokterIN Klaim Mampu Tekan Biaya Kesehatan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Platform telemedicine DokterIN mengklaim transformasi layanan kesehatan digital dapat membantu menekan biaya kesehatan melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), sistem rujukan yang lebih tepat, hingga pengendalian penggunaan obat. Ke depan, telemedicine dinilai tidak lagi berfokus pada jumlah konsultasi, melainkan pada efisiensi layanan dan pengendalian biaya.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional DokterIN, Yurid’Ka Azkaa mengatakan, image layanan telemedicine kian bergeser dari pendekatan kuratif menjadi preventif. Menurutnya, edukasi, deteksi dini, dan pemantauan kesehatan harus menjadi bagian dari ekosistem layanan digital.
“Ke depannya (telemedicine) bukan lagi banyaknya konsultasi, tapi bagaimana kita bisa mengendalikan kualitas layanan, utilisasi, sampai dengan biaya kesehatan,” kata Ika dalam acara Investortrust Powertalk bertajuk 'Upaya Pencegahan Overtreatment pada Layanan Medis', di Aryaduta Hotel, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Baca Juga
Kemenkes Ungkap 20% Anggaran Kesehatan Terbuang Percuma untuk Tindakan Medis 'Overtreatment'
DokterIN sendiri mengembangkan konsep Smart Telemedicine yang mengintegrasikan layanan digital secara end to end. Platform tersebut dirancang untuk membantu perusahaan asuransi mengendalikan klaim sekaligus mencegah overclaim, overuse, dan overtreatment.
Salah satu fitur unggulannya, kata Ika, adalah Smart Assessment berbasis AI. Teknologi ini disebut mampu menganalisis keluhan pasien untuk menentukan apakah penanganan cukup dilakukan oleh dokter umum atau perlu dirujuk ke dokter spesialis.
“Kita menggunakan AI sebelum konsultasi ke dokter untuk melihat spesialis yang dibutuhkan dari anamnesa atau indikasi penyakit awal yang dirasakan. Dari sini kita bisa menahan biaya klaim dari sisi asuransi,” ujarnya.
Meski memanfaatkan AI, Ika menegaskan teknologi tersebut tidak menggantikan peran tenaga medis. Konsultasi dengan dokter tetap menjadi bagian utama dalam proses pelayanan, sementara keputusan klinis dan rekomendasi pengobatan tetap mengacu pada regulasi kesehatan.
Di sisi lain, DokterIN juga menerapkan sistem formularium digital yang memungkinkan perusahaan asuransi mengendalikan peresepan obat berdasarkan daftar obat yang telah disepakati. Sistem ini diharapkan dapat menjaga manfaat klinis bagi pasien sekaligus mengendalikan biaya pengobatan tanpa mengurangi kualitas layanan.
Selain pengobatan, platform digital itu juga dilengkapi fitur follow-up untuk memantau perkembangan pasien setelah terapi selesai. Evaluasi dilakukan guna mendorong perubahan gaya hidup dan mencegah pasien mengalami kondisi yang sama di kemudian hari.
“Kita harus melengkapi secara 360 derajat, mulai dari preventif, akses awal, triage klinis, rujukan yang terarah, hingga monitoring setelahnya,” tutur Ika.
Baca Juga
Menurutnya, cara ini membuat telemedicine tidak hanya menjadi kanal konsultasi digital, tetapi juga instrumen untuk meningkatkan efisiensi sistem layanan kesehatan.
Model ini pun diharapkan mampu membantu perusahaan asuransi mengendalikan biaya sekaligus memberikan layanan kesehatan yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat.
