Giliran Pelatih Argentina Lionel Scaloni Kritik Hydration Break di Piala Dunia 2026
Poin Penting
|
ARLINGTON, investortrust.id – Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengkritik penerapan hydration break di Piala Dunia 2026. Menurutnya, jeda minum yang kini diberlakukan di setiap pertandingan membuat ritme permainan terputus dan bahkan bisa memberikan keuntungan bagi tim yang kualitasnya berada di bawah lawannya.
FIFA mulai menerapkan jeda minum berdurasi tiga menit di tengah setiap babak sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan para pemain selama turnamen yang berlangsung di musim panas Amerika Utara. Aturan tersebut berlaku di seluruh pertandingan, tanpa memandang kondisi cuaca atau tingkat panas di stadion.
Namun, penerapan hydration break menuai respons beragam dari para penonton. Di beberapa stadion, suporter bahkan terdengar mencemooh karena menilai kondisi cuaca tidak cukup ekstrem untuk memerlukan penghentian pertandingan.
Baca Juga
Di Ujung Tanduk, Uruguay Wajib Kalahkan Spanyol Demi Lolos ke Babak 32 Besar
Kritik juga sempat datang dari kapten tim nasional Belanda, Virgil van Dijk, yang menilai hydration break memutus ritme pertandingan. Dia mengusulkan jeda untuk minum diperlakukan dalam situasi-situasi khusus, terutama di pertandingan dengan cuaca panas.
Sama seperti Virgil van Dijk, Lionel Scaloni juga mengeluarkan pendapat yang sama. Dia menilai kebijakan itu mengubah dinamika pertandingan secara signifikan. “Tidak ada pertandingan yang mudah, terutama di fase grup. Secara historis memang seperti itu, dan sekarang dengan format 48 tim juga semakin sulit,” katanya, dilansir ESPN.
“Ditambah lagi dengan kondisi cuaca dan adanya hydration break. Pertandingan terus-menerus terhenti. Mungkin itu membantu tim yang lebih lemah karena mereka punya waktu untuk memperbaiki keadaan dan melakukan penyesuaian,” lanjut Lionel Scaloni.
Pelatih yang membawa Argentina menjuarai Piala Dunia sebelumnya itu menyebut pertandingan kini terasa seperti terbagi menjadi empat babak, bukan dua babak seperti biasanya.
“Konsep empat periode itu memang nyata. Ketika pemain masuk dan keluar lapangan, kami hanya punya sekitar tiga setengah menit saat jeda babak pertama untuk berbicara dengan mereka,” ujar Scaloni.
“Semua rencana yang sudah kami siapkan bisa berubah hanya dalam 22 atau 23 menit pertama. Kami harus mencari solusi seperti saat jeda pertandingan biasa, tetapi ritme permainan benar-benar terpecah,” lanjut Scaloni.
Meski sempat menyebut aturan tersebut menguntungkan tim yang lebih lemah, Scaloni kemudian mengakui bahwa jeda minum juga bisa dimanfaatkan tim yang lebih kuat untuk melakukan koreksi taktik. “Mungkin saya kurang tepat ketika mengatakan aturan ini membantu tim yang lebih lemah. Tim yang menyerang juga bisa memanfaatkannya untuk melakukan penyesuaian,” katanya.
“Rasanya masih aneh beradaptasi dengan situasi ini. Tapi, saya yakin pada akhirnya semua orang akan terbiasa, seperti halnya perubahan-perubahan lain dalam sepak bola. Untuk saat ini, yang terasa adalah alur pertandingan menjadi sangat terputus,” pungkas Scaloni.
Baca Juga
Kisah Alireza Beiranvand, Benteng Tangguh Iran Pemegang 2 Rekor Dunia Guinness

