Hydration Break Piala Dunia 2026 Berpotensi Ubah Wajah Siaran Langsung Sepak Bola
Poin Penting
|
MIAMI, investortrust.id – Piala Dunia 2026 diperkirakan akan meninggalkan warisan yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Bukan soal kontroversi wasit atau isu politik, melainkan kebijakan hydration break yang diprediksi mendongkrak pendapatan hak siar pertandingan.
Jeda minum selama tiga menit di pertengahan setiap babak yang diwajibkan FIFA pada seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 kini dinilai berpotensi menjadi standar baru. Bukan hanya demi kesehatan pemain, melainkaan juga karena terbukti membuka sumber pendapatan baru yang sangat besar bagi pemegang hak siar dan pengiklan.
Laporan The Hollywood Reporter menyebut jaringan televisi Fox diperkirakan meraup sedikitnya US$250 juta (Rp4,06 triliun) hanya dari penjualan slot iklan selama hydration break sepanjang Piala Dunia 2026.
Baca Juga
Momen Viral Percakapan Johan Manzambi dengan Emi Martinez: Gabung Aston Villa?
Kebijakan tersebut memungkinkan stasiun televisi menjual ruang iklan pada momen yang sebelumnya tidak pernah tersedia di tengah pertandingan sepak bola. Bahkan, menurut The Wall Street Journal, harga satu slot iklan saat jeda itu mencapai US$200 ribu (Rp3,25 miliar) hingga US$750 ribu (Rp12,19 miliar), tergantung pertandingan dan waktu penayangan.
Di sejumlah negara, siaran langsung benar-benar dipotong untuk menampilkan iklan. Sementara di negara lain, penyiar memilih menggunakan format layar terbagi (split screen) agar pertandingan tetap dapat disaksikan bersamaan dengan iklan.
FIFA sebenarnya telah memperkenalkan cooling break sejak Piala Dunia 2014 di Brasil setelah pengadilan ketenagakerjaan mewajibkan pemain beristirahat ketika suhu pertandingan mencapai 32 derajat Celsius.
Namun, pada Piala Dunia 2026, aturan itu diperluas dengan mewajibkan jeda tiga menit di setiap babak tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca, termasuk pertandingan yang digelar di stadion berpendingin udara.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi solusi baru ketika nilai hak siar sejumlah liga besar Eropa mulai mengalami stagnasi. Ligue 1 (Prancis) misalnya, menghadapi penurunan nilai kontrak hak siar setelah beberapa kerja sama penyiaran gagal. Nilai hak siarnya kini diperkirakan hanya berkisar €150 juta (Rp2,84 triliun) hingga €250 juta (Rp4,73 triliun), jauh di bawah liga-liga elite lainnya.
Sementara laporan Deloitte menunjukkan Inggris masih menjadi kompetisi dengan pendapatan terbesar di dunia. Liga Premier diperkirakan menghasilkan £7,4 miliar (Rp160,6 triliun) sepanjang musim lalu, jauh melampaui Bundesliga, La Liga, Serie A. maupun Ligue 1. Tapi, keuntungan klub-klub Liga Premier juga mulai mengalami penurunan sehingga berbagai liga kini mencari sumber pendapatan alternatif.
Sejumlah kompetisi telah mengambil langkah komersial untuk meningkatkan pemasukan. La Liga menjual delapan persen hak media dan penyiarannya selama 50 tahun kepada perusahaan investasi CVC Capital Partners dengan nilai sekitar €2 miliar (Rp37,9 triliun). Sementara Barcelona melepas 25 persen hak siar yang menjadi bagiannya selama 25 tahun kepada perusahaan investasi Sixth Street.
Bundesliga sempat mencoba langkah serupa. Tapi, rencana tersebut dibatalkan setelah mendapat penolakan keras dari suporter.
Baca Juga
Setelah Rekrut Andrey Santos, Manchester United Kini Bidik Youri Tielemans
