Bikin Miris! Remaja Indonesia Habiskan Separuh Pengeluaran untuk Membeli Rokok
JAKARTA, investortrust.id – Sungguh ironis! Kalangan remaja Indonesia menghabiskan uang Rp 30.000 sampai Rp 200.000 per minggu untuk membeli rokok secara eceran atau ketengan. Jumlah ini setara dengan separuh dari pengeluaran per kapita mingguan rata-rata penduduk Indonesia.
Hal itu terungkap dalam hasil studi Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang dipaparkan Kepala Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Vid Adrison dalam diskusi panel CISDI di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Selasa (12/12/2023).
Baca Juga
Kemenkeu: Cukai Jadi Instrumen Efektif Tekan Konsumsi dan Produksi Rokok
“Berdasarkan temuan kami, siswa menghabiskan setidaknya separuh uang saku mingguan mereka untuk membeli rokok eceran, dari Rp 30.000 sampai Rp200.000 per minggu. Jumlah ini setara dengan separuh dari pengeluaran per kapita mingguan rata-rata penduduk kita,” kata Vid.
Menurut Vid Adrison, harga rokok yang relatif murah mendorong remaja mengonsumsi rokok tembakau batangan. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada 2019 menunjukkan, 4 dari 10 siswa berusia 13-15 tahun pernah mencoba rokok batangan, sementara 1 dari 5 siswa adalah perokok aktif.
“Seiring dengan fakta tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi bahwa prevalensi merokok pada remaja tidak akan menurun dalam waktu dekat, kecuali ada langkah-langkah komprehensif yang serius diterapkan,” ujar dia.
Vid mengungkapkan, pada 2019 rokok eceran masih bisa dibeli seharga Rp 1.000 per batang, sedangkan sebagian besar siswa memiliki uang saku lebih dari Rp 50.000 per minggu.
Baca Juga
“Harga produk tembakau masih terjangkau oleh anak-anak remaja, bahkan dijual secara masif. Sekitar 85% pedagang kaki lima maupun toko kecil di Indonesia masih menjual rokok eceran,” tutur dia.
Berdasarkan hasil penelitian di Amerika Serikat (AS), kata Vid Adrison, risiko kematian pada perokok nonharian 1,6 kali lebih tinggi. “Risiko kematian akibat berbagai sebab mencapai 1,6 kali lebih tinggi terjadi pada perokok nonharian dibandingkan orang yang tidak pernah merokok, dengan hazard ratio 2,60:95% dan confidence interval 2,45-2,75,” papar dia.(CR-3)

