Memprihatinkan! Pengeluaran Keluarga Indonesia untuk Rokok dan Protein Hewani Hampir Sama
JAKARTA, investortrust.id - Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Maria Endang Sumiwi mengungkapkan, pengeluaran belanja keluarga untuk rokok dan tembakau hampir setara dengan pengeluaran untuk protein hewani.
“Ini cukup memprihatinkan dan menjadi tantangan tersendiri dalam kaitannya dengan upayameningkatkan kualitas gizi masyarakat,” ujar Endang dilansir dari laman resmi Kemenkes, Senin (27/1/2025).
Mengutip data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023, Endang menjelaskan,pada berbagai kuintil (pengelompokan data) pengeluaran, persentase belanja untuk rokok dan tembakau cukup signifikan. Kuintil 1 mencapai 11,54%, kuintil 2 sebesar 13,39%, kuintil 3 sebesar 14,17%, kuintil 4 sebesar 14,30%, dan kuintil 5 mencapai 11,35%.
Baca Juga
Peneliti Ini Kembangkan Aplikasi untuk Bantu Hentikan Kebiasaan Merokok
Angka-angka itu, menurut Maria Endang Sumiwi, tak berbeda jauh dengan pengeluaran untuk protein hewani yang mencakup ikan, udang, cumi, kerang, daging, telur, dan susu. Pada kuintil 1, pengeluaran untuk protein hewani mencapai 14,83%, kuintil 2 sebesar 16,27%, kuintil 3 sebesar 17,26%, kuintil 4 sebesar 18,41%, dan kuintil 5 mencapai 20,6%.
Tidak hanya rokok dan tembakau, kata Endang, tantangan di bidang gizi semakin kompleks dan beragam, sepertimasalah gizi kurang, kekurangan mikronutrien, serta overweight atau obesitas.
“Indonesia mengalami tiga masalah besar terkait gizi, yaitu gizi kurang (undernutrition), kekurangan mikronutrien, dan obesitas. Salah satu masalah yang signifikan adalah stunting pada balita mencapai 21,5%, sehingga berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia kita,” tutur dia.
Endang menjelaskan, masalah gizi kurang pada balita tercatat 8,5%, sedangkan anemia pada remaja mencapai 16,3% dan anemia pada ibu hamil 27,7%. Selain itu, obesitas pada remaja tercatat 12,1%,. “Obesitas pada orang dewasa juga menjadi perhatian serius,” tandas dia.
Menurut Endang, pola makan masyarakat Indonesia saat ini memunculkan kekhawatiran tersendiri. Konsumsi protein hewani pada balita masih rendah, yakni hanya 21,6%. Sementara itu, konsumsi minuman manis tinggi mencapai 52%, makanan asin 32%, makanan instan 11%, dan penggunaan penyedap rasa tercatat 78%. “Bahkan, 65% masyarakat Indonesia cenderung tidak sarapan setiap hari,” ucap dia.
Maria Endang Sumiwi mengemukakan, data ini menunjukkan bahwa tantangan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia masih sangat besar. Salah satu upaya penting adalah mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung banyak gula, garam, dan lemak serta meningkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang.
Baca Juga
Kenaikan Tarif Cukai Rokok Dibatalkan, Sahamnya bisa Bangkit di 2025?
“Untuk itu, kita perlu memberikan prioritas pada pola makan bergizi seimbang, terutama bagi anak-anak. Gizi seimbang sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan,” tegas dia.
Endang menambahkan, makanan bergizi seimbang harus mencakup beragam jenis makanan, termasuk sayur dan buah, serta lauk yang kaya protein. Masyarakat juga perlu mengurangi konsumsi makanan manis, asin, dan berlemak secara berlebihan, serta membiasakan sarapan dan cukup minum air putih setiap hari.
Kualitas SDSM Masa Depan
Sementara itu, Staf Ahli Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha mengungkapkan, kualitas gizi turut menentukan kualitas SDM di masa depan. Presiden Prabowo Subianto telah membentuk BGN, yang bertugas memastikan pemenuhan gizi nasional secara optimal.
“Fungsi utama BGN adalah melaksanakan pemenuhan gizi di seluruh Indonesia. Implementasinya akan dilakukan dengan berkolaborasi dengan Kemenkes dan berbagai daerah, serta lembaga dan kementerian (K/L) terkait lainnya,” ucap Ikeu.
Di sisi lain, Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy menegaskan pentingnya dukungan terhadap program prioritas nasional dalam memutus mata rantai stunting. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu inisiatif penting untuk mencapai tujuan tersebut.
Baca Juga
Prabowo Targetkan Seluruh Anak Indonesia Dapat Makan Bergizi Gratis pada Akhir 2025
“Upaya untuk memutus mata rantai gagal tumbuh harus terus dilakukan, karena ini sangat berpengaruh terhadap tercapainya Indonesia Emas 2045 dan pencapaian SDGs 2030,” ujar Doddy.
Ahli gizi, kata Doddy Izwardy, memiliki peran penting, antara lain dalam mengawasi kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, mengembangkan menu makanan bergizi, serta memberikan pelatihan kepada petugas pengolah makanan.
“Ahli gizi juga berperan dalam mengawasi proses pengolahan dan penyajian makanan untuk memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi masyarakat benar-benar bergizi,” tandas dia.

