Lapangan Kerja AS Menguat, Signal Suku Bunga The Fed Tetap Tinggi
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar global terpukul setelah laporan menguatnya angka lapangan kerja di AS. Kondisi tersebut makin memperdalam kekhawatiran bahwa tingkat suku bunga The Fed kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka waktu lama.
Pertumbuhan lapangan kerja melonjak di AS pada bulan September, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih cukup kuat bagi Bank Sentral AS, Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga tahun ini, meskipun pertumbuhan upah sedang melambat.
Hal ini juga membuat gejolak di pasar modal Eropa. Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Eropa naik, dengan yield obligasi Jerman 10 tahun diperdagangkan pada tingkat 2,91%, Irlandia di angka 3,36%, dan surat utang Italia 10 tahun diperdagangkan dengan yield 4,95%.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-tahun Sentuh 4,8%, Tertinggi dalam 16 Tahun. Bagaimana The Fed?
Laporan dari kantor statistik AS memaparkan bahwa non-farm payrolls meningkat sebanyak 336.000 orang pada bulan September, jauh di atas ekspektasi penambahan sebanyak 170.000.
"Payrolls melampaui perkiraan dengan selisih yang besar, perekonomian terlihat sangat baik dan narasi ' suku bunga tinggiuntukjangka-panjang' kemungkinan mengarah pada frase 'lebih tinggi'," kata Neil Birrell, chief investment officer di Premier Miton Diversified Growth Fundsyang dilansir Irish Exeminers, Jumat waktu setempat atau Sabtu (7/10/2023).
"Situasi ini akan membuat The Fed sakit kepala, sementara bagi kita yang lain banyak yang berpikir bahwa ekonomi AS sekali lagi menunjukkan ketangguhannya," katanya.
Di pasar saham AS, saham Big Tech turun seperti yang dialami oleh Nvidia, Meta Platforms, dan Amazon turun sebanyak 0,8%.
Baca Juga
Para trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin pada bulan November dan Desember sekitar 28% dan 45%, masing-masing.
Pasar tenaga kerja AS telah berhasil menahan serangan kampanye kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve, yang membuat investor khawatir bahwa bank sentral akan menjaga kebijakan moneter yang lebih ketat untuk jangka waktu yang lebih lama untuk menekan inflasi.
Ke depannya, data akan kembali menjadi fokus utama, dengan data inflasi harga konsumen dan indeks harga produsen bulan September tengah ditunggu sebelum diumumkan dalam waktu dekat.
Sementara itu, saham Tesla sempat turun lebih dari 2% pada satu titik, setelah produsen mobil listrik tersebut memotong harga Model 3 dan Model Y-nya di AS. Saham Exxon Mobil turun 2,3%, padahal produsen minyak AS tersebut diberitakan dalam pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Pioneer Natural Resources.
"Seiring bertumbuhnya pasar tenaga kerja, begitu juga dengan (tingkat suku bunga, red) Federal Reserve," kata Gregory Faranello, kepala perdagangan dan strategi suku bunga AS untuk AmeriVet Securities.
Penurunan harga saham seperti memperpanjang penjualan besar-besaran yang melanda pasar obligasi pekan ini, kondisi yang membebani harga saham karena adanya ancaman terjadinya perlambatan ekonomi AS karena peningkatan utang dari berbagai jenis instrumen.

