Mitratel (MTEL) Pede Suku Bunga Tinggi Tak Berpengaruh, Profitabilitas Tetap Tinggi
LABUAN BAJO, investortrust.id - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menyatakan bisnis perusahaan masih belum terpengaruh oleh perkembangan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate.
Menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Mitratel Ian Sigit Kurniawan, sepanjang semester I-2024, bisnis Mitratel masih belum terpengaruh suku bunga acuan BI. Sebab, pinjaman perusahaan tidak terlalu besar dan masih didominasi pinjaman dengan bunga tetap (fixed rate).
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Incar Rasio Pengguna Menara 1,56 Kali, Kinerja Tumbuh 8% Tahun 2024
Ian menyebut kreditur Mitratel terbanyak berasal dari bank-bank Himpunan Bank Negara (Himbara) dengan komposisi sebesar 45%. Kemudian disusul pinjaman bank swasta sebesar 43% dan bank asing sebesar 8%.
Selain itu, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu juga menerbitkan obligasi dan sukuk. Terakhir, perusahaan menerbitkan obligasi berkelanjutan Dayamitra Telekomunikasi Tahap I Tahun 2024 dengan jumlah pokok maksimal Rp 240,22 miliar dengan kupon bunga 6,5%.
“Ini semua (komposisi pinjaman dari sisi suku bunga dan kreditur) memang sangat berimbang. Jadi, perbankan yang menawarkan skema pinjaman yang paling efisien itu yang selalu kami manage,” ujarnya dalam acara Media Gathering Mitratel 2024 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (7/8/2024).
Lebih lanjut, Ian menjelaskan, kemampuan perusahaan untuk membayar pinjaman atau leverage ratio berada pada posisi yang sehat sepanjang paruh pertama tahun ini. Hal ini tercermin dari rasio debt to equity tercatat di level 0,4, kemudian debt to EBITDA di level 2,0 dan net debt to EBITDA di level 1,8. “Leverage ratio kami berada di bawah rata-rata industri menara telekomunikasi di Indonesia,” tegasnya.
Baca Juga
Jajaki BTS Terbang, Begini Dampaknya bagi Prospek Keuangan dan Saham Mitratel (MTEL)
Menurut Ian, leverage ratio Mitratel yang berada di bawah rata-rata industri menunjukkan bahwa bisnis perusahaan masih akan terus berkembang. Perusahaan akan terus menambah jumlah menara telekomunikasi dan jaringan kabel serat optik untuk mendukung menara tersebut, khususnya di luar Jawa.
“Secara leverage kami masih siap sekali untuk terus berkembang untuk memanfaatkan leverage yang dimiliki sekarang untuk mengembangkan bisnis ke depan,” kata Ian
Pada semester I 2024, Ian menyebut, Mitratel membukukan laba Rp1 triliun. Pendapatan yang diraih Mitratel pada periode yang sama mencapai Rp4,45 triliun atau meningkat 7,8% (year-on-year/YoY) dan EBITDA mencapai Rp3,69 triliun atau meningkat 10,2% yoy.
Baca Juga
Merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN) Berkah Buat Mitratel (MTEL), Kok Bisa?
Sementara itu, laba bersih atau net income Mitratel hanya tumbuh 4,1% (YoY) menjadi Rp1,06 triliun didukung pangsa pasar yang terbilang besar. “Pada semester pertama tahun ini, market share (pangsa pasar) kami 54% untuk menara telekomunikasi dan 29% untuk fiber optic (serat optik),” ujarnya.
Kemudian untuk jumlah menara telekomunikasi, tercatat tumbuh 5,1% YoY menjadi 38.581 unit dan panjang jaringan kabel serat optik tumbuh 37,9% yoy menjadi 37.602 kilometer.
Pada semester I-2024, rasio operator seluler pengguna menara perusahaan atau tenancy ratio mencapai 1,56x ayau tenancy ratio Mitratel telah mencapai 1,52x atau meningkat dari yang sebelumnya 1,49x pada semester I-2023. Mitratel menargetkan tenancy ratio dapat mencapai 1,56x sampai dengan akhir 2024.
Grafik Saham MTEL

