Optimisme Suku Bunga The Fed Tetap Flat Menguat
JAKARTA, Investortrust.id - Pertemuan FOMC atau "Federal Open Market Committee", sebuah komite yang merupakan bagian dari Federal Reserve System di Amerika Serikat pada Rabu (1/11/2023) waktu Amerika Serikat kemungkinan besar akan berlangsung tanpa adanya tindakan signifikan atau perubahan besar dalam kebijakan bank sentral. Ini sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pelaku pasar keuangan saat ini.
Hampir tidak ada kemungkinan bahwa para pembuat kebijakan akan mengambil kebijakan apapun terkait suku bunga. Data-data terbaru tampaknya akan memberikan waktu atau jeda kepada pejabat Federal Reserve untuk memutuskan langkah selanjutnya. Meskipun laju inflasimelambat, Bank Sentral masih menganggap terlalu tinggi. Sementara itu ekonomi AS terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun dalam kondisi suku bunga tertinggi dalam 22 tahun terakhir.
Yang akan diamati oleh para investor, bukanlah langkah konkret yang diambil oleh Federal Reserve, tetapi sinyal yang datang dari sang Gubernur Fed, Jerome Powell dan anggota lainnya dari Federal Open Market Committee mengenai kecenderungan kebijakan mereka ke depan.
"Kecil kemungkinan Federal Reserve akan menetapkan kebijakan (terkait suku bunga). Tidak akan masuk akal untuk pertemuan kali ini. Tetapi, apa pesannya?" kata Josh Emanuel, Chief Investment Strategist di Wilshire. "Saya kira Powell akanbersikap sangat berhati-hati dalam menyuarakan pendapat yang terlalu hawkish,” ujarnya seperti dilansir CNBC.com, Selasa (31/10/2023) waktu setempat.
Menurut Emanuel, Powell sejatinya telah berhasil menemukan keseimbangan yang tepat dalam mengelola kebijakan moneter, dan Powell bisa jadi ingin melanjutkan pendekatannya yang cermat dan seimbang dalam komunikasi kebijakannya kepada publik dan pasar.
Kendati Gubernur Federal Reserve berusaha untuk menjaga keseimbangan dalam mengelola kebijakan moneternya, antara menahan inflasi sambil memperhatikan dampak suku bunga tinggi terhadap ekonomi, namun pasartelah kadung sensitif.
Meskipun mulai bergerak menguat, saham-saham di bursa AS telah bergerak fluktuatif dan cenderung melemah dua bulan terakhir, menyusul tingkat imbal hasil surat utang pemerintah AS yang telah berada pada level tertinggi dalam 16 tahun.
Concern pelaku pasar saat ini masih berpusat pada seberapa tinggi suku bunga akan naik, dan seberapa lama Federal Reserve akan menjaga suku bunga tersebut di level yang tinggi, maka konferensi pers Powell dan serta pernyataan FOMC nanti akan sangat memengaruhi pasar.
"Powell (akan) menghindari kesalahan dan terlihat terlalu mendukung kenaikan suku bunga (terlalu hawkish). Karena implikasinya adalah kondisi pasar yang lebih berisiko. Anda sudah mulai melihat sedikit keruntuhan teknikal di pasar saham," kata Emanuel.
Sementara itu pada Rabu 1 November 2023 pelaku pasar akan fokus pada dua hal. Pada saat bersamaan Departemen Keuangan akan melansir informasi tentang kebutuhan pendanaan di masa depan, yang bisa menjadi momen penting bagi investor yang amat penasaran tentang cara pemerintah mengelola utang sebesar US$33,7 triliun. Satu hal lagi yang mereka tunggu tentunya laporan Departemen Tenaga Kerja mengenai serapan tenaga kerja bulan September, dan perkiraan ADP tentang pertumbuhan gaji swasta.
ADP adalah "Automatic Data Processing", yang fokus pada layanan manajemen sumber daya manusia (HR) dan administrasi bisnis. Mereka menyediakan berbagai solusi dan layanan terkait dengan penggajian, manajemen waktu, manajemen sumber daya manusia, administrasi pensiun, manajemen tunjangan karyawan, dan berbagai layanan lainnya yang membantu perusahaan dalam mengelola aspek-aspek administratif yang terkait dengan tenaga kerja mereka.
Semua ini terjadi dua hari sebelum Departemen Tenaga Kerja menerbitkan laporan nonfarm payrolls untuk bulan Oktober, yang diumumkan setelah laporan soal pertumbuhan ekonomi dan proyeksi pada kuartal ketiga.
"Federal Reserve kemungkinan akan tetap menjaga suku bunga tetap stabil meskipun pertumbuhan PDB dan lapangan kerja membaik," kata Divisi Kredit Strategis Bank of America dalam catatan untuk kliennya. The Fed lewat Jerome Powell sebelumnya juga sempat mengemukakan pihaknya akan mengambil langkah yang hati-hati, menyusul tingginya tingkat imbal hasil surat utang AS bertenor panjang, yang menurutnya tingkat imbal hasil yang tinggi tersebut telah berperan besar dalam pengetatan likuiditas, tanpa harus diikuti oleh kenaikan suku bunga.
Dalam catatan kepada para nasabahnya Bank of America juga menyampaikan perkiraannya bahwa pernyataan Powell nanti akan serupa dengan apa yang ia sampaikan pada awal Oktober lalu di New York. Dalam pernyataannya Powell mengemukakan mengatakan bahwa ia masih menganggap inflasi masih terlalu tinggi, namun The Fed akan bertindak lebih berhati-hati di tengah potensi peningkatan angka inflasi.
David Doyle, Kepala Ekonom Macquarie Group mengatakan bahwa komentar Powell "mungkin akan lebih memengaruhi pasar" daripada pernyataan FOMC.Ia juga menyebut pasar akan memperhatikan pandangan Powell soal pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah. Dia juga mencatat bahwa Federal Reserve sekarang ikut memperhitungkan hasil survei triwulanan terkait pinjaman senior yang mengukur seberapa ketatkondisi kucuran kredit pada perbankan.

