PMI Manufaktur Tiongkok Anjlok, Ini penyebabnya
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id – Aktivitas manufaktur Tiongkok kembali menyusut pada Juli, memperpanjang tren penurunan selama empat bulan berturut-turut. Data resmi yang dirilis Kamis (31/7/2025) menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur turun ke level 49,3.
Baca Juga
Angka itu lebih rendah dari proyeksi 49,7 dalam jajak pendapat Reuters, dan semakin menegaskan bahwa sektor industri belum keluar dari tekanan.
Penurunan ini terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik dan ketegangan dagang yang belum mereda dengan Amerika Serikat. Sejak April, PMI terus berada di bawah angka 50, batas psikologis yang membedakan ekspansi dan kontraksi aktivitas industri. Sementara itu, harapan pasar akan stimulus fiskal tambahan pupus setelah Politbiro tidak mengisyaratkan dukungan besar dalam pertemuan tingkat tinggi pada Rabu lalu.
Tanda tanya juga muncul seputar arah kebijakan dagang antara Washington dan Beijing. Gencatan tarif selama 90 hari yang disepakati pada Mei akan segera berakhir, namun pertemuan lanjutan di Stockholm pekan ini tidak menghasilkan perpanjangan kesepakatan seperti yang diharapkan pasar global.
Ekspor Tiongkok naik 5,8% secara tahunan pada bulan Juni, lebih dari cukup untuk menutupi penurunan ekspor ke AS, menurut data bea cukai yang dirilis awal bulan ini.
Baca Juga
Ekspor China Melesat 5,8% di Tengah Diversifikasi Pasar dan Gencatan Tarif
Dalam pertemuan tingkat tinggi Politbiro pada hari Rabu, para pemimpin tertinggi Tiongkok tidak mengisyaratkan adanya rencana untuk stimulus besar-besaran yang baru, meskipun negara itu telah meningkatkan subsidi guna mendorong masyarakat untuk memiliki lebih banyak anak.
Kelebihan Kapasitas
Meskipun pejabat AS dan Tiongkok sepakat untuk mencari perpanjangan gencatan tarif 90 hari, para pembuat kebijakan di ekonomi terbesar kedua dunia ini masih harus menangani kelebihan kapasitas di industri-industri utama, kelemahan pasar properti yang berkepanjangan, dan lemahnya permintaan rumah tangga.
"Momentum ekspor kemungkinan akan melambat setelah penumpukan besar-besaran pada paruh pertama tahun ini," kata Xu Tianchen, ekonom senior di Economist Intelligence Unit, dikutip dari Reuters.
"Namun satu sisi positif bagi Tiongkok adalah negara ini tidak akan menghadapi kesulitan bersaing dari sisi biaya setelah Trump memberlakukan tarif 15%-20% terhadap mitra dagang utama lainnya."
Menurut survei NBS, sub-indeks pesanan ekspor baru tetap dalam wilayah kontraksi untuk bulan ke-15 berturut-turut, turun tipis ke 47,1 dari 47,7 pada Juni.
Secara keseluruhan, pesanan baru jatuh ke wilayah kontraksi dari ekspansi di bulan Juni, menunjukkan bahwa permintaan dalam negeri juga sedang lesu.
Statistikus NBS, Zhao Qinghe, menyatakan bahwa musim sepi tradisional untuk manufaktur, suhu tinggi, hujan deras, dan banjir di beberapa wilayah pada Juli turut mendorong PMI turun.
Pertumbuhan produksi melambat dan lapangan kerja tetap lemah karena produsen berupaya menekan biaya, menurut survei NBS.
Harga input bahan baku juga meningkat, dan harga output naik ke 48,3 dari 46,2 pada Juni, sejalan dengan upaya otoritas menekan perang harga antar produsen.
Para analis menekankan perlunya Tiongkok untuk beralih dari ekonomi manufaktur yang digerakkan oleh ekspor dan negara, menuju model yang lebih digerakkan oleh permintaan konsumen domestik.
Mereka menyebut pengumuman subsidi anak pekan ini sebagai langkah kecil namun menjanjikan menuju rebalancing ekonomi. Dalam upaya mendorong tingkat kelahiran yang menurun, Tiongkok akan memberikan subsidi anak tahunan sebesar 3.600 yuan (sekitar 501 dolar AS) hingga usia tiga tahun.
Namun demikian, PMI non-manufaktur — yang mencakup sektor jasa dan konstruksi — turun ke 50,1 pada Juli dari 50,5 pada Juni, menjadi yang terendah sejak November, menurut data NBS.

