Naik 25 Bps, FFR Masih Mungkin Naik Lagi
WASHINGTON, investortrust.id - Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), Rabu waktu setempat (26/7/2023). Kenaikan tersebut membuat suku bunga acuan The Fed berada di level tertinggi sejak awal 2001 atau lebih dari 22 tahun.
Hasil Federal Open Market Committee (FOMC) itu, sebagaimana dikutip dari CNBC international, mendorong suku bunga acuan The Fed ke kisaran target 5,25-5,5%. Sebelumnya, pasar mengamati tanda-tanda bahwa kenaikan itu bisa menjadi yang terakhir sebelum pejabat The Fed mengambil jeda sejenak untuk melihat dampak kenaikan pada kondisi ekonomi.
Selama konferensi pers, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan inflasi agak moderat sejak pertengahan tahun lalu, tetapi ia mengakui untuk mencapai target The Fed sebesar 2% ‘masih jauh’.
Pernyataan ini mengindikasikan FFR masih terbuka kemungkinan untuk naik lagi. Meski tidak menutup kemungkinan naik lagi, The Fed sepertinya akan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan The Fed berikutnya, tanggal 19-20 September mendatang.
“Mungkin kami akan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan September jika datanya membenarkan itu. Tapi, mungkin saja kami akan memilih untuk tetap stabil dan membuat penilaian yang cermat, seperti yang saya katakan di berbagai pertemuan,” ungkap Powell.
Sebelumnya, ada beberapa pendapat yang menyarankan The Fed agar tidak menaikkan FFR. Salah satunya, ekonom pemenang Hadiah Nobel, Christopher Pissarides.
Dia menyarankan Federal Reserve tidak perlu terus menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. “Pembuat kebijakan di bank sentral AS sebaiknya “mengambil napas” di tengah pertempuran melawan inflasi,” katanya.
Data pada hari Rabu menunjukkan inflasi AS turun tajam ke level terendah dua tahun sebesar 3% pada bulan Juni. Ini menggarisbawahi keberhasilan relatif The Fed dalam menahan kenaikan harga menyusul kenaikan suku bunga yang cepat. Powell mengatakan FOMC akan menilai berdasarkan ‘data total yang masuk’ serta implikasinya terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi.

