Menkeu Sri Mulyani Sebut Kenaikan FFR 500 Bps Lebih Berat Ketimbang Taper Tantrum
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) sebesar 500 basis poin (bps) berdampak sangat besar bagi perekonomian dunia dan Indonesia. Kenaikan FFR dari 0%-0,25% menjadi 5%-5,25% selama kurun waktu 16 bulan sejak 2022 hingga 2023 membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 bekerja sangat keras.
“Dalam situasi seperti itu, instrumen APBN diandalkan. APBN bekerja keras, istilah yang sudah kita gunakan sejak pandemi Covid-19, ketika penerimaan turun, masyarakat terancam, waktu itu untuk melindungi rakyat, ekonomi, dan APBN itu sendiri,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan Komisi XI, di gedung DPR, Rabu (21/8/2024).
Sri Mulyani mengatakan kebijakan the Fed menaikkan suku bunga itu untuk merespons kondisi inflasi AS. Pada Juni 2022 inflasi AS tercatat sebesar 9,1% secara tahunan. Inflasi ini tercatat tertinggi selama 41 tahun. Pada Januari 2023, inflasi masih tinggi di posisi 6,4%.
“2023 dianggap suasana dari sisi politik dan ekonomi global ini adalah sesuatu yang membuat policy maker waspada. Inflasi terburuk selama 40 tahun terakhir di AS terjadi di akhir 2022 dan 2023, sehingga direspons dengan kebijakan moneter yang juga terekstrem dalam 30 tahun terakhir,” kata dia.
Baca Juga
Ditopang Sentimen Pemangkasan The Fed dan Transisi Pemerintah Berjalan Mulus, IHSG ATH!
Sri Mulyani mengatakan negara lain dalam G7 juga sangat kaget dengan inflasi ini sehingga kemudian menimbulkan kebijakan moneter yang ketat dan suku bunga, sehingga terminologi higher for longer mulai muncul pada 2023.
“Untuk emerging market dampaknya luar biasa, kenaikan 100 bps di AS berpotensi membuat capital outflow yang luar biasa besar. Untuk itu emerging market banyak yang belum pulih dari pandemi dihantam cap outflow dan higher borrowing cost,” kata dia.
Meski demikian, Sri Mulyani cukup percaya diri karena kondisi tersebut mampu dikonsolidasikan. Dia mengatakan, pihaknya bersama Bank Indonesia (BI) mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5,05% secara tahunan.
“Komisi XI masih ingat pada 2013-2015, terjadi taper tantrum. Waktu itu FFR belum dinaikkan. Baru mau diumumkan, Indonesia masuk kategori fragile,” kata dia.
Baca Juga
Sementara itu, kata Bendahara Negara, pada 2023 suku bunga AS mengalami kenaikan hingga 500 bps. Dia menyebut gelombang dari FFR lebih besar dari kondisi taper tantrum tadi.
“Makanya saya sampaikan, Indonesia bisa menjaga inflasi 2,6% dan pertumbuhan ekonomi terjaga 5,05% pada 2023, saat kenaikan suku bunga AS terjadi, ini adalah prestasi,” kata dia.
Dia mengatakan selama kondisi ini, kinerja APBN tidak dikorbankan. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan APBN yang bekerja keras juga dijaga kesehatannya.
“Hanya dua tahun setelah pandemi kita sudah fokus untuk konsolidasi,” ujar dia.

