Ketegangan Meningkat di Laut Merah, Minyak Naik 1% Lebih
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak mentah naik pada hari Selasa (2/1/2024) setelah Iran mengirim kapal perang ke Laut Merah.
Baca Juga
Minyak Anjlok 10% di 2023, Penurunan Tahunan Pertama sejak 2020
Situasi masih tegang di jalur perairan penting untuk pengiriman global itu. Konflik telah menyebabkan kapal-kapal diserang oleh pemberontak Houthi di Yaman.
Patokan minyak mentah global, Brent, melonjak 1,6% menjadi $78,27 per barel, sedangkan West Texas Intermediate AS naik 1,42% menjadi $72,67 per barel selama jam perdagangan Asia.
Iran pada hari Senin mengumumkan pihaknya mengirim kapal perusak Alborz melalui Selat Bab al-Mandeb yang strategis, media pemerintah negara itu melaporkan, tanpa menjelaskan rincian misi kapal perang tersebut. Ia menambahkan bahwa operasi secara berkala dilakukan di Laut Merah untuk mengamankan rute pelayaran.
Langkah ini dilakukan setelah Angkatan Laut AS menghancurkan tiga kapal pemberontak Houthi yang didukung Iran, menewaskan 10 militan, menurut laporan AP. Angkatan Laut menanggapi panggilan darurat dari kapal berbendera Singapura Maersk Hangzhou yang diserang Houthi, kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara pemberontak pada hari Minggu, kelompok Houthi menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut sedang melakukan “tugas resmi untuk mengamankan rute maritim”, sebuah saluran berita milik pemberontak menyatakan.
“Setiap eskalasi konflik di wilayah ini tentu akan menambah premi risiko pada Brent,” kata Analis Energi Senior Bernstein, Neil Beveridge, kepada CNBC. Namun, dia mencatat bahwa belum akan ada dampak besar.
“Kami belum pernah melihat serangan angkatan laut Iran sebelumnya. Dan selama hal itu benar-benar tidak mengarah pada eskalasi, maka saya tidak melihat dampak yang signifikan pada level ini,” tambahnya.
Kelompok Houthi telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah, menargetkan kapal-kapal Israel dan kapal-kapal lain yang menuju atau dari Israel, sebagai pembalasan atas perang di Gaza yang sejauh ini telah menewaskan hampir 22.000 orang di sana.
Perusahaan pelayaran besar berhenti melintasi rute Terusan Suez dan Laut Merah pada awal Desember, dan memilih mengubah rute melalui Afrika bagian selatan. Perjalanan menjadi lebih lama dan lebih mahal dengan tarif angkutan laut yang mencapai $10.000 per kontainer.
Pengirim kontainer Jerman Hapag-Lloyd mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya akan terus mengalihkan kapalnya di sekitar Terusan Suez.
Namun, peluncuran Operation Prosperity Guardian, sebuah kekuatan maritim multinasional, oleh AS, telah meningkatkan kepercayaan perusahaan pelayaran.
Raksasa pelayaran Denmark, Maersk, pada Minggu mengatakan akan melanjutkan operasinya di Laut Merah dan Teluk Aden.
Baca Juga

