Ketegangan Geopolitik Meningkat, Harga Minyak Melonjak Hampir 6%
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak naik lebih dari 5% pada Jumat waktu setempat atau Sabtu (14/10/2023) WIB karena investor masih khawatir dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga
Israel Perintahkan Separuh Populasi Gaza Mengungsi ke Selatan
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS melonjak 5,8% menjadi $87,7 per barel, seperti dikutip dari CNBC internasional. Patokan internasional minyak mentah berjangka Brent dengan masa berlaku Desember naik $4,89, atau 5,7%, menjadi $90,89 per barel.
Minyak mentah WTI naik lebih dari 4% minggu ini, membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak 1 September.
Konflik Israel-Hamas telah meningkatkan kekhawatiran bahwa pertempuran tersebut dapat mempengaruhi produksi energi regional. Timur Tengah menyumbang lebih dari sepertiga perdagangan global melalui laut.
Badan Energi Internasional pada hari Kamis menggambarkan kondisi pasar sebagai “penuh dengan ketidakpastian” namun mengatakan perang Israel-Hamas belum berdampak langsung pada pasokan fisik.
IEA berusaha meredakan kekhawatiran pasar dengan mengatakan pihaknya siap bertindak untuk memastikan pasar tetap “pasokan cukup” jika terjadi kekurangan pasokan secara tiba-tiba.
Tanggapan badan energi ini mencakup negara-negara anggota mengeluarkan stok darurat dan/atau menerapkan langkah-langkah pengendalian permintaan. Israel bukanlah produsen minyak utama dan tidak ada infrastruktur minyak besar yang beroperasi di dekat Jalur Gaza.
Baca Juga
Amerika Serikat pada Kamis memperketat sanksi terhadap ekspor minyak mentah Rusia, membatasi dua perusahaan pelayaran yang dianggap melanggar batasan harga minyak G7. Ini merupakan mekanisme untuk mempertahankan pasokan aliran Rusia yang dapat diandalkan di pasar sambil membatasi dana perang Kremlin.
G7, Australia dan Uni Eropa menerapkan batasan harga minyak Rusia sebesar $60 per barel pada 5 Desember tahun lalu. Hal ini terjadi bersamaan dengan langkah UE dan Inggris yang memberlakukan larangan impor minyak mentah Rusia melalui laut.
Secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut dianggap mencerminkan langkah paling signifikan dalam membatasi pendapatan ekspor bahan bakar fosil yang mendanai perang Rusia di Ukraina.
Baca Juga
Potensi Krisis Minyak Perang Hamas-Israel, Indonesia Kena Imbas?

