Ketegangan Geopolitik Meningkat, Harga Minyak Lanjut Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mengalami kenaikan pada hari Jumat (5/4/2024) dan diproyeksikan berlanjut menguat di pekan kedua bulan ini, kondisi ini didukung oleh ketegangan geopolitik di Eropa dan Timur Tengah.
Selain itu, kekhawatiran atas pengetatan pasokan dan optimisme tentang pertumbuhan permintaan bahan bakar global saat ekonomi membaik.
Melansir Reuters Jumat, (5/4/2024), harga minyak mentah Brent berjangka naik 59 sen atau 0,7%, ke level US$ 91,24 per barel pada 0646 GMT. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 87,02 per barel, naik 43 sen, atau 0,5%.
Kedua tolak ukur minyak mentah tersebut berada di level tertinggi sejak Oktober. Harga minyak diprediksi akan naik lebih jauh dalam jangka pendek karena latar belakang ekonomi yang lebih positif, disamping ketatnya pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik.
“Bank menaikkan target harga tiga bulan untuk Brent menjadi US$ 95 per barel,” kata analis ANZ, Daniel Hynes dan Soni Kumari.
Brent dan WTI diprediksi mencapai keuntungan lebih dari 4% minggu ini, naik untuk pekan kedua berturut-turut, setelah produsen Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terbesar ketiga Iran bersumpah membalas dendam terhadap Israel atas serangan yang menewaskan personel militer Iran berpangkat tinggi.
Baca Juga
OPEC dan sekutu yang dipimpin oleh Rusia, pekan ini mempertahankan kebijakan pasokan minyak mereka tidak berubah, dan menekan beberapa negara untuk meningkatkan kepatuhan dengan pemotongan produksi.
"Penindakan lebih lanjut pada kepatuhan terhadap kuota akan melihat output turun lebih jauh di Q2," ujar analis ANZ. Menurutnya, prospek pasar yang lebih ketat harus melihat penarikan persediaan selama kuartal kedua.
“Pasokan minyak berat juga telah diperketat secara global setelah Meksiko dan Uni Emirat Arab memangkas ekspor kelas ini. Ini terjadi di tengah pertumbuhan permintaan minyak global yang solid sebesar 1,4 juta barel per hari (bph) pada kuartal pertama,” ucap analis JPMorgan.
“Indikator permintaan frekuensi tinggi kami memperkirakan bahwa total konsumsi minyak pada bulan Maret rata-rata 101,2 juta barel per hari, 100.000 barel per hari di atas perkiraan kami yang dipublikasikan," lanjut dia.
Sementara itu, investor sedang menunggu laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) bulan Maret untuk petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi AS dan arah kebijakan moneternya. (CR-5)

