Harga Minyak Tertekan Pasca Redanya Tensi Ketegangan Geopolitik
Harga minyak pada Senin (29/4/2024) pagi ini terpantau melemah ke level US$ 83 per barel. Pelemahan mengabaikan kenaikan dari hari akhir pekan lalu akibat peningkatan upaya untuk menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Serta adanya kekhawatiran akan suku bunga AS yang lebih tinggi dan penguatan dolar yang membebani pasar minyak mentah.
Melihat dari sudut pandang teknis, menurut riset ICDX (Senin (29/4/2024) harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 88 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 80 per barel.
Sebelumnya sebagai informasi delegasi Hamas akan mengunjungi Kairo untuk melakukan pembicaraan yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata. Delegasi tersebut akan membahas proposal gencatan senjata yang diserahkan oleh Hamas kepada mediator dari Qatar dan Mesir, serta tanggapan Israel.
Baca Juga
Dua Minggu Berturut-turut Melemah, Harga Minyak Dunia Kembali Naik
Namun, ancaman ketegangan geopolitik dan potensi risiko pasokan di pasar minyak masih terjadi dibagian dunia yang lain. Karena Ukraina menyerang lebih banyak kilang minyak Rusia pada akhir pekan, dan juga menyerukan lebih banyak bantuan militer dari AS karena memburuknya kondisi di garis depan.
Serangan terhadap kilang-kilang Rusia menjadi faktor yang menyebabkan berkurangnya pasokan, terutama ketika Rusia mengumumkan lebih banyak pengurangan produksi dan ekspor pada awal tahun ini.
Baca Juga
Elemen Geopolitik Angkat Harga Minyak, Hentikan Penurunan Dua Pekan Berturut-turut
Di sisi The Fed, pasar menarik kembali perkiraan penurunan suku bunga lebih awal oleh Federal Reserve setelah rilis data Indeks PCE yaitu data ukuran inflasi pilihan The Fed lebih panas dari perkiraan untuk bulan Maret.
Hal ini memunculkan kekhawatiran akan suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama menjadi faktor dalam kekhawatiran bahwa permintaan minyak akan melemah pada akhir tahun ini. Terutama karena melemahnya pertumbuhan ekonomi. Gagasan ini diperkuat oleh data pertumbuhan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada minggu lalu.

