Yield Treasury AS 10 Tahun Anjlok ke Bawah 5%, Pasar Cerna Data PDB dan Inflasi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun turun tajam di bawah level psikologis 5% pada Kamis (29/10/2026). Investor mencermati laporan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dan inflasi yang kembali meningkat.
Imbal hasil atau yield Treasury AS 10 tahun turun lebih dari 8 basis poin menjadi 4,964%. Sementara itu, yield obligasi bertenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), merosot lebih dari 10 basis poin menjadi 4,629%.
Yield Treasury bertenor 30 tahun juga turun lebih dari 5 basis poin menjadi 5,31%.
Pergerakan itu terjadi setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 3,4% pada tingkat tahunan di kuartal III-2026. Angka tersebut melampaui perkiraan ekonom sebesar 3,1%.
Baca Juga
Namun, laporan yang sama menunjukkan tekanan inflasi meningkat pada September. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) naik 0,5% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan.
Angka inflasi tahunan tersebut sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,7%, tetapi tetap lebih tinggi daripada pembacaan Agustus dan jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Perkembangan ini menempatkan pasar obligasi dalam situasi yang kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat meningkatkan ekspektasi suku bunga bertahan tinggi, sementara inflasi yang meningkat berpotensi memperkuat kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter dan biaya pendanaan pemerintah.
Sehari sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%–4%. Dalam pernyataan setelah rapat Oktober, bank sentral mengakui inflasi masih berada pada tingkat yang tinggi.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa pembuat kebijakan tidak akan menentukan arah kebijakan hanya berdasarkan satu laporan ekonomi. Bank sentral akan menilai tren mendasar dari berbagai indikator sebelum mengambil keputusan.
Stephen Coltman, kepala makro di 21shares, menilai Warsh memandang ekonomi AS masih kuat, inflasi berada di atas target, dan kondisi keuangan belum cukup ketat untuk membatasi aktivitas ekonomi secara signifikan.
“Data terbaru belum mengubah penilaian mendasar tersebut. Karena itu, investor perlu memperhitungkan kemungkinan suku bunga acuan masih bergerak naik,” kata Coltman dilansir CNBC.
Peluang Kenaikan Bunga Fed Desember
Pasar keuangan saat ini memperkirakan peluang lebih dari 77% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, berdasarkan perangkat CME FedWatch.
Ali Hassan, manajer portofolio di Thornburg Investment Management, menilai pasar sebelumnya cenderung membaca komunikasi The Fed sebagai sinyal jalur kebijakan yang lebih lunak, bukan sebagai peringatan bahwa inflasi kembali menjadi ancaman besar.
Baca Juga
Inflasi Masih Jadi Ancaman, The Fed Tahan Bunga Acuan di 3,75%-4%
Hassan mengatakan investor masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember, tetapi keyakinan terhadap kenaikan lanjutan setelah itu telah berkurang.
Perhatian pasar juga tertuju pada berakhirnya periode pembatasan komunikasi pejabat The Fed menjelang dan setelah rapat kebijakan. Pernyataan para pejabat bank sentral berikutnya berpotensi mengubah kembali ekspektasi investor terhadap suku bunga.
Bagi pasar obligasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan harga obligasi yang telah beredar dan mendorong yield naik. Sebaliknya, penurunan yield dapat mengurangi biaya pinjaman yang menjadi acuan berbagai produk pembiayaan, termasuk kredit perumahan dan kartu kredit.
Karena itu, penurunan yield Treasury 10 tahun di bawah 5% menjadi perkembangan penting bagi pasar keuangan, meskipun belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan biaya pinjaman akan mereda secara berkelanjutan.
Investor kini menghadapi dua sinyal yang saling bertentangan: ekonomi AS masih tumbuh kuat, tetapi inflasi belum terkendali. Jika The Fed mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga, biaya pendanaan pemerintah dan sektor swasta berpotensi tetap tinggi.
Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mereda tanpa memperlambat pertumbuhan secara tajam, pasar obligasi berpeluang memperoleh ruang untuk bergerak lebih stabil.
Arah yield dalam beberapa pekan mendatang akan sangat bergantung pada data inflasi berikutnya, perkembangan ekonomi, serta sinyal kebijakan dari The Fed menjelang rapat Desember.
