Yield Obligasi AS 10-Tahun Merosot di Bawah 5%, Pasar Cerna Kebijakan The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat turun, sehari setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.
Yield Treasury AS 10 tahun, yang menjadi acuan pasar global, turun lebih dari 7 basis poin menjadi 4,93% pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Yield Treasury 30 tahun melemah lebih dari 6 basis poin menjadi 5,282%, sedangkan yield Treasury 2 tahun turun lebih dari 5 basis poin menjadi 4,67%.
Pergerakan tersebut terjadi setelah The Fed pada Rabu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%. Ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Pasar sebelumnya memang telah memperkirakan kenaikan suku bunga Fed itu. Tekanan inflasi yang masih tinggi serta gejolak di pasar obligasi menjadi sejumlah faktor yang mendorong bank sentral AS kembali memperketat kebijakan moneternya.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut terlalu lama.
“Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju sasaran kita secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai,” kata Warsh dalam konferensi pers setelah keputusan suku bunga.
Menurut dia, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menilai standar tersebut belum terpenuhi.
Arah Suku Bunga
The Fed juga memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan tahun ini.
Proyeksi suku bunga para pejabat The Fed menunjukkan 16 dari 18 peserta memperkirakan akan ada setidaknya satu kenaikan tambahan. Sementara itu, empat pejabat melihat kemungkinan dua kali kenaikan lagi.
Sinyal tersebut menunjukkan bahwa perjuangan The Fed melawan inflasi belum selesai, meskipun pasar obligasi pada Kamis justru mencatat penurunan yield.
Investor kini mencermati bagaimana kebijakan suku bunga akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang, terutama karena tekanan harga energi masih menjadi risiko terhadap inflasi.
Perhatian pasar juga tertuju pada hubungan kerja antara Warsh dan Presiden AS Donald Trump.
Trump selama ini secara terbuka mendesak The Fed menurunkan suku bunga. Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump mengatakan suku bunga AS seharusnya berada pada level 1% atau lebih rendah.
Sehari sebelumnya, Trump juga mengatakan dewan The Fed “sangat bermusuhan” dan “sangat politis”, serta menilai bank sentral tersebut mengambil kebijakan yang salah.
Peluang di Obligasi
Bob Edwards, chief investment officer Edwards Asset Management, mengatakan pergerakan terbesar di pasar obligasi kemungkinan telah berlalu.
Menurut Edwards, penurunan harga obligasi yang sebelumnya mendorong yield ke level tinggi kini dapat membuka peluang bagi investor untuk mengunci tingkat imbal hasil tersebut.
“Sekarang ada peluang bagus bagi investor, setelah pergerakan besar ini, untuk mengunci yield yang tinggi tersebut,” kata Edwards, dikutip CNBC.
Ia memperkirakan jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, kemungkinan keputusan tersebut baru dilakukan pada pertemuan Desember.
Baca Juga
Keputusan The Fed Guncang Pasar, Yield Treasury AS 10-Tahun Bercokol di Level 5%
Menurut Edwards, The Fed kemungkinan tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan Oktober yang hanya berjarak beberapa hari dari pemilihan paruh waktu AS karena dapat menimbulkan persepsi bahwa keputusan tersebut bermuatan politik.
Sementara itu, data ekonomi terbaru memberikan sinyal yang beragam.
Klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 12 September tercatat 196.000, lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 207.000.
Namun, pembangunan rumah baru pada Agustus juga berada di bawah ekspektasi.
Data tersebut menjadi perhatian karena The Fed harus menyeimbangkan dua risiko sekaligus, yakni inflasi yang masih tinggi dan potensi pelemahan ekonomi serta pasar tenaga kerja.
