Investor Cerna Ancaman Tarif Baru Trump, Yield Obligasi AS Turun
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi AS turun pada Kamis (13/03/2025). Investor mencerna data inflasi dan ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif 200% pada Sampanye Prancis dan Minuman Beralkohol Uni Eropa
Dikutip dari CNBC, imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin menjadi 4,264%, sedangkana imbal hasil USTreasury 2 tahun turun hampir 5 basis poin menjadi 3,947%.
Indeks harga produsen tidak berubah pada bulan Februari, sementara ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan kenaikan 0,3% dari bulan ke bulan.
Laporan indeks harga konsumen pada hari Rabu juga lebih rendah dari perkiraan, naik hanya 0,2% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan, menunjukkan bahwa harga barang dan jasa naik lebih sedikit dari yang diharapkan pada bulan Februari.
Baca Juga
Hasil ini telah meredakan kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi dan potensi dampak tarif Presiden AS Donald Trump terhadap inflasi. Namun, masih ada pertanyaan mengenai bagaimana Federal Reserve akan melanjutkan kebijakan suku bunganya tahun ini.
“The Fed masih menunggu di belakang. Saya rasa The Fed ingin suku bunga lebih rendah, dan ekonomi juga ingin suku bunga lebih rendah... tetapi kita belum melihat sinyal dari The Fed bahwa mereka akan segera mengubah kebijakan mereka,” urai Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, seperti dikutip CNBC.
Perang dagang AS semakin memanas pada hari Kamis, setelah Presiden Donald Trump mengancam di Truth Social untuk memberlakukan tarif 200% pada semua produk alkohol yang berasal dari negara-negara Uni Eropa sebagai balasan atas tarif 50% yang dikenakan blok tersebut terhadap wiski asal AS.
“Ini akan sangat menguntungkan bisnis anggur dan sampanye di AS,” tulisnya.
Pada hari yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan di acara CNBC bahwa pemerintahan Trump lebih fokus pada kesehatan jangka panjang ekonomi dan pasar, daripada ketidakpastian jangka pendek. “Saya tidak khawatir dengan sedikit volatilitas selama tiga minggu,” katanya.

