Bursa Eropa Menguat, Investor Cerna Lanskap Perdagangan Baru Pasca Kebijakan Tarif Trump
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Saham Eropa ditutup lebih tinggi pada Selasa (24/2/2026). Investor mencermati lanskap perdagangan global yang baru setelah gebrakan langkah tarif Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 mengakhiri sesi naik 0,3%. Berbalik dari pelemahan sebelumnya, dengan bursa-bursa regional bergerak ‘mixed’.
Sektor otomotif, salah satu sektor yang paling sensitif terhadap tarif dan kebijakan ekspor, memimpin penguatan dengan kenaikan hampir 2% pada akhir perdagangan Selasa.
Saham regional sebelumnya ditutup melemah pada sesi Senin ketika pasar global bereaksi terhadap ancaman Trump untuk memberlakukan tarif global menyeluruh baru sebesar 15% atas impor ke AS dengan segera. Presiden awalnya mengumumkan rencana mengenakan bea 10% atas impor global, sebelum menaikkan tarif tersebut “ke tingkat 15% yang sepenuhnya diizinkan dan telah diuji secara hukum.”
Namun ketika tarif tersebut mulai berlaku pada Selasa, besarannya ditetapkan 10%. Sebuah memo dari U.S. Customs and Border Protection yang dipublikasikan Senin malam menyebutkan bahwa Temporary Section 122 Duties akan memberlakukan “bea tambahan ad valorem 10% atas barang impor dari setiap negara selama periode 150 hari, kecuali secara khusus dikecualikan.”
Belum jelas apakah tarif tersebut akan berlaku bagi Inggris, yang merupakan negara pertama yang mencapai kesepakatan dagang dengan Washington tahun lalu setelah Trump meluncurkan rezim tarif yang disebutnya sebagai tarif “resiprokal” secara penuh.
Inggris mengamankan tarif 10% dalam kesepakatan tersebut — yang merupakan tingkat terendah yang diberikan Gedung Putih kepada mitra dagang individual mana pun — sehingga negara itu berpotensi menghadapi kerugian lebih besar dibanding beberapa mitra dagang AS lainnya jika tarif 15% yang mengancam itu diterapkan pada barang-barangnya.
“Saya menyadari ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pengumuman terbaru dari AS, tetapi saya sangat fokus melindungi pelaku usaha dan masyarakat Inggris demi kepentingan nasional dan semua opsi tetap terbuka, Itulah sebabnya saya berbicara dengan mitra saya dari AS, Jamieson Greer, kemarin untuk menyampaikan kekhawatiran saya tentang ketidakpastian lebih lanjut bagi bisnis di sini dan perlunya menghormati kesepakatan yang sudah ada,” beber Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris Peter Kyle dalam pernyataan pada Senin.
Pejabat Eropa menyatakan kekhawatiran atas tarif baru Trump, mengisyaratkan bahwa kebijakan itu dapat mengancam kesepakatan dagang mereka dengan AS. Kemudian, Parlemen Eropa pada Senin mengumumkan telah menghentikan sementara proses ratifikasi kesepakatan dagang AS-Uni Eropa yang disepakati musim panas lalu.
Saham AS naik pada Selasa setelah anjlok pada sesi sebelumnya, dengan saham perangkat lunak bangkit dari kekhawatiran berkelanjutan seputar disrupsi kecerdasan buatan (AI), ketika investor bergulat dengan kebijakan perdagangan baru tersebut.
Trump terus menegaskan kemampuannya untuk menaikkan tarif pada Senin, memperingatkan bea yang lebih tinggi bagi negara-negara yang ingin “bermain-main” setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif “resiprokal”-nya pekan lalu.
Baca Juga
Heboh, Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Resiprokal, Trump Bakal Kenakan Tarif 10% ke Mitra Dagang
Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa tarif baru 15% akan segera berlaku, meski belum jelas apakah dokumen resmi telah ditandatangani untuk merinci waktunya. Ia juga menyebutkan bahwa pungutan tambahan akan diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Pemberi pinjaman asal Inggris Standard Chartered merilis laporan laba setahun penuh pada Selasa. Meskipun laba sebelum pajak melonjak 16% secara tahunan, angkanya lebih rendah dari perkiraan yakni sebesar 6,96 miliar dolar AS. Pendapatan bunga bersih naik 1% dari tahun sebelumnya menjadi 11,2 miliar dolar AS, melampaui estimasi konsensus yang dihimpun LSEG.
Bank tersebut menyampaikan bahwa pada 2026, mereka memperkirakan pendapatan operasional yang dilaporkan berada di batas bawah dari proyeksi pertumbuhan 5% hingga 7%. Pada 2025, pendapatan operasional melonjak 6% secara tahunan menjadi 20,9 miliar dolar AS, sejalan dengan estimasi. Sahamnya ditutup turun 1,5%.

