Pasar Abaikan Data Inflasi AS, Yield Treasury 10-Tahun Naik Mendekati 5,3%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali naik, meski data inflasi melunak. Investor mulai mengalihkan perhatian ke laporan ketenagakerjaan September yang akan dirilis akhir pekan ini.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 30-Tahun Tembus 5,6%, Level Tertinggi dalam 2 Dekade
Yield Treasury 2 tahun bergerak relatif datar di 4,895% pada Rabu (30/9/2026). Sementara itu, yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 4 basis poin menjadi 5,298%, setelah sempat turun sesaat pada awal perdagangan.
Yield acuan tersebut kembali mendekati level tertinggi yang terakhir terlihat pada 2007.
Yield Treasury 30 tahun juga meningkat hampir 4 basis poin menjadi 5,632%, mendekati level tertinggi sejak 2002.
Pergerakan Treasury terjadi setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan pada Agustus.
Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga personal consumption expenditures (PCE) naik 0,3% secara bulanan pada Agustus. Secara tahunan, PCE meningkat 3,4%, lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 3,7%.
PCE inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, naik 0,2% secara bulanan. Secara tahunan, inflasi inti PCE mencapai 3%, juga lebih rendah dari perkiraan 3,3%.
Baca Juga
Inflasi PCE AS Agustus Melunak, Ekspektasi Kenaikan Bunga Fed Menurun
"Secara keseluruhan, tekanan inflasi tidak sepanas yang diperkirakan pasar pada Agustus, dan yield obligasi sedang menyesuaikan diri ketika investor menilai kembali berapa banyak kenaikan suku bunga Fed yang dibutuhkan," kata Christopher Rupkey, chief economist FWDBONDS, dikutip CNBC.
Data inflasi tersebut sempat mendorong yield Treasury turun. Namun, pergerakan kemudian berbalik ketika investor mulai mempersiapkan diri menghadapi laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat.
Ekonom memperkirakan perekonomian AS menciptakan 84.000 lapangan kerja pada September.
Data tenaga kerja akan menjadi perhatian penting bagi pasar karena memberikan petunjuk tambahan mengenai kondisi perekonomian dan arah kebijakan Federal Reserve.
Sebelumnya, peluang kenaikan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober sempat mencapai lebih dari 80% pada bulan ini. Namun, setelah data inflasi terbaru, probabilitas tersebut turun menjadi sekitar 37%, berdasarkan CME FedWatch.
Pasar kini menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya ke Desember.
Namun, apabila laporan ketenagakerjaan Jumat menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan, yield Treasury berpotensi kembali mendapatkan tekanan naik.
Data ADP yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan sektor swasta AS menambah 90.000 lapangan kerja pada September, jauh di atas ekspektasi ekonom sebesar 68.000.
Dengan demikian, investor menghadapi dua sinyal ekonomi yang berbeda. Inflasi memberikan ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, sementara data tenaga kerja yang kuat dapat mempertahankan tekanan terhadap bank sentral untuk melanjutkan pengetatan kebijakan.
