Harga Emas Turun Mendekati US$ 4.050, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah tipis mendekati US$ 4.050 per troy ounce pada awal perdagangan sesi Asia, Kamis (29/10/2026), setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuannya. Pelaku pasar kini mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dan data inflasi AS untuk memperkirakan arah kebijakan moneter berikutnya.
The Fed mempertahankan suku bunga dana federal pada kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan kebijakan Oktober. Bank sentral menyatakan data ekonomi yang akan dirilis berikutnya akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya.
Baca Juga
Keputusan tersebut membuat perhatian pasar beralih pada sinyal yang disampaikan para pejabat The Fed. Investor berusaha mengukur apakah tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga atau membuka ruang bagi perubahan kebijakan pada periode berikutnya.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kesiapan bank sentral untuk merespons perkembangan ekonomi. Ia mengatakan para pejabat telah menjelaskan kesiapan mereka untuk bertindak sesuai dengan kondisi yang diperlukan. “Menurunkan inflasi adalah tanggung jawab kita,” kata Warsh.
Ia menambahkan, diskusi Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) selama beberapa hari terakhir terutama berfokus pada aspek stabilitas harga.
Arah suku bunga menjadi faktor penting emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga naik, biaya peluang untuk memegang emas meningkat karena investor memiliki alternatif aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Data PCE Jadi Fokus Berikutnya
Pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Namun, berdasarkan laporan Bloomberg, investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan pada 2027. Pasar berjangka juga tidak lagi sepenuhnya memperhitungkan 3 kali kenaikan suku bunga tambahan dalam siklus kebijakan saat ini.
Perhatian berikutnya tertuju pada data inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk September yang dijadwalkan rilis pada Kamis (29/10/2026). Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Data PCE dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral. Apabila inflasi menunjukkan tekanan yang lebih kuat dari perkiraan, pasar berpotensi memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Sebaliknya, perlambatan inflasi dapat mengubah perkiraan investor terhadap arah suku bunga.
Baca Juga
Kilau Emas Antam (ANTM) Kembali Menguat, Harga Naik Rp 20.000
OCBC menilai pemulihan harga emas belakangan ini cukup menggembirakan, terutama karena terjadi ketika dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. OCBC juga menilai pemulihan saham teknologi kemungkinan membantu meredakan tekanan likuidasi yang lebih luas di pasar keuangan.
Meski demikian, OCBC mencatat imbal hasil obligasi Pemerintah AS masih tinggi, sementara pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan harga emas.
Di sisi lain, penurunan harga minyak yang diikuti pelemahan imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi mendukung pemulihan emas. Sebaliknya, sinyal kebijakan The Fed yang lebih ketat atau gelombang penjualan saham yang kembali meluas dapat menekan harga logam mulia tersebut.
