Harga Emas Turun ke US$ 4.155, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah mendekati US$ 4.155 per troy ounce pada awal perdagangan sesi Asia, Rabu (14/10/2026), di tengah kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Investor menanti data Indeks Harga Konsumen (consumer price index/CPI) Amerika Serikat (AS) untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Tekanan terhadap logam mulia tersebut meningkat karena lonjakan harga energi berisiko mempertahankan inflasi pada tingkat tinggi dan mendorong bank sentral menunda pelonggaran moneter. Perhatian pasar juga tertuju pada risiko kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah serta tingginya utang publik.
Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (13/10/2026) menyoroti risiko yang muncul dari besarnya utang pemerintah dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Baca Juga
Situasi geopolitik turut menambah ketidakpastian pasar. Kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan rudal ke sejumlah kota di Arab Saudi. Militer Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat proyektil tersebut, meskipun pecahan peluru dilaporkan jatuh di Dhahran dan melukai sedikitnya empat orang di Riyadh.
Di tengah tekanan tersebut, pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams memberikan sedikit dukungan bagi harga emas melalui pergerakan imbal hasil obligasi. Williams pada Selasa mengatakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini masih dinilai tepat, tetapi ia tidak memperkirakan pengetatan kebijakan moneter berlanjut pada 2027.
Pernyataan tersebut diikuti penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun menghapus kenaikan sebelumnya hingga 3 basis poin. Penurunan imbal hasil biasanya mendukung emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau pendapatan berkala seperti obligasi.
Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih menunjukkan kehati-hatian. Pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 77,3% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 87,8%.
Data CPI AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu menjadi salah satu indikator utama bagi investor untuk menilai tekanan harga dan kemungkinan perubahan kebijakan moneter. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, sedangkan inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap emas.
Posisi Perdagangan Belum Menghilangkan Risiko Penurunan
Tekanan terhadap pasar logam mulia juga terlihat dari strategi perdagangan pelaku pasar. Upaya short covering, yakni pembelian kembali aset untuk menutup posisi yang sebelumnya dipasang dengan harapan harga turun, belum menghilangkan risiko pelemahan harga emas dan platinum.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun Rp 20.000 ke Rp 2,574 Juta
TD Securities menyatakan para penasihat perdagangan komoditas atau Commodity Trading Advisors (CTA) mulai mengurangi eksposur bearish, yaitu posisi yang mengantisipasi penurunan harga. Lembaga tersebut mencatat CTA telah menutup sebagian posisi short pada emas dan platinum.
Namun, TD Securities memperingatkan bahwa harga kedua logam mulia tersebut masih rentan terhadap tekanan jual lanjutan. Penutupan posisi short memang dapat memberikan dukungan sementara karena pelaku pasar harus membeli kembali aset yang sebelumnya dijual, tetapi pergerakan itu belum tentu menandakan perubahan tren harga.
