Harga Emas Naik 3%, Pasar Menanti Data Ketenagakerjaan AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua minggu, mendekati US$ 4.085 per troy ounce pada perdagangan Asia, Jumat (6/11/2026). Pelemahan dolar dan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah menopang kenaikan logam mulia menjelang rilis data ketenagakerjaan AS.
Pergerakan data tenaga kerja AS menjadi perhatian utama investor karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar juga mencermati perubahan sentimen setelah hasil pemilihan paruh waktu AS memicu penilaian ulang terhadap prospek inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan fiskal.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Menguat ke Rp 2,557 Juta Seiring Pelemahan Dolar AS
Logam mulia melanjutkan penguatan setelah Partai Demokrat menyapu bersih pemilihan paruh waktu AS. Kemenangan tersebut mendorong harga minyak turun tajam di tengah spekulasi bahwa dinamika politik baru dapat mempercepat berakhirnya perang Iran. Harga minyak yang lebih rendah dipandang dapat membantu meredakan tekanan inflasi sehingga kebutuhan pengetatan kebijakan moneter berpotensi berkurang.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang dari pasar. “Bukan berarti ekspektasi kenaikan suku bunga telah sepenuhnya hilang saat ini,” kata David Meger dilansir FXStreet.
Menurut dia, pelemahan harga energi telah memunculkan harapan bahwa sebagian tekanan inflasi akan mereda. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. “Kita akan melihat beberapa kekhawatiran inflasi mereda dan potensi kebutuhan kenaikan suku bunga yang lebih sedikit di masa mendatang,” tambah David.
Menanti Data Nonfarm Payrolls
Pasar kini mengalihkan perhatian ke laporan ketenagakerjaan AS untuk September, terutama data Nonfarm Payrolls (NFP), indikator jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian. Konsensus pasar memperkirakan ekonomi AS menambah 65.000 lapangan kerja pada September. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,2%.
Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan dolar AS. Kondisi tersebut dapat memberi tekanan pada harga emas dan komoditas lain yang diperdagangkan menggunakan mata uang dolar karena menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Berdasarkan perangkat FedWatch CME, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai hampir 70,9%. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi.
Para ahli strategi OCBC menilai pemulihan emas setelah pemilihan paruh waktu AS didukung kombinasi pelemahan dolar, turunnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS, dan harga minyak yang lebih rendah.
Baca Juga
Harga Emas Pulih ke US$ 3.950, Pasar Cermati Pemilu Paruh Waktu AS
Menurut OCBC, pasar sedang menilai kembali dampak kebuntuan politik terhadap kebijakan fiskal dan pertumbuhan ekonomi AS. Emas pun naik sekitar 3% dan kembali menembus level US$ 4.000 per troy ounce.
OCBC mencatat emas mulai merespons lebih positif terhadap kondisi makroekonomi yang sebelumnya belum sepenuhnya mampu mendorong kenaikan harga. Bank tersebut tetap berhati-hati, meski melihat peluang emas menemukan pijakan untuk melanjutkan penguatan.
