Harga Emas Naik Mendekati US$ 4.180, 'Yield Treasury' AS Turun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik mendekati US$ 4.180 pada sesi awal Asia, Jumat (2/10/2026), setelah imbal hasil obligasi Treasury AS turun dari level tertingginya dalam beberapa dekade. Pergerakan tersebut memberi ruang logam mulia pulih, meski kenaikan masih menghadapi tekanan dari risiko inflasi akibat tingginya biaya energi.
Imbal hasil Treasury AS 10 tahun, yang menjadi acuan biaya pinjaman global dan valuasi berbagai aset, turun menjadi 5,24% setelah sebelumnya melonjak hingga 5,34% dalam sesi perdagangan. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade. Imbal hasil Treasury AS 30 tahun juga sempat mendekati level yang terakhir terlihat 24 tahun lalu sebelum bergerak turun menjelang penutupan perdagangan.
Penurunan yield tersebut memberikan dukungan terhadap emas karena logam mulia tidak memberikan bunga. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, biaya peluang memegang emas cenderung ikut naik.
Baca Juga
“Ketidakpastian geopolitik, khususnya seputar terhentinya diskusi gencatan senjata AS-Iran, terus memberikan landasan tempat berlindung yang aman, sementara harga minyak yang lebih tinggi tetap menjadi risiko inflasi,” kata analis komoditas Motilal Oswal Financial Services Ltd, Manav Modi, dilansir FX Street.
Pergerakan emas juga berlangsung ketika pasar menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk September. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam membaca kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Para ekonom memperkirakan nonfarm payrolls atau penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian mencapai 90.000 pekerjaan pada September, turun dari 162.000 pada bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap 4,1%.
“Apa pun yang meningkatkan kemungkina
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidasi Hari Ini, Tiga Saham Dipimpin EMAS Layak Dilirik
n kenaikan suku bunga Fed pasti akan merusak sentimen di pasar emas. Kenaikan harga energi yang signifikan atau peningkatan ketegangan di Timur Tengah juga akan memberikan dampak yang sama,” kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai 24,9%. Untuk Desember, probabilitas kenaikan suku bunga berada di 79,4%, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Dari sisi inflasi, data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures AS menunjukkan kenaikan 0,3% secara bulanan pada Agustus, sesuai dengan perkiraan pasar. Secara tahunan, angka tersebut turun menjadi 3,4% dari 3,7% pada bulan sebelumnya.
UOB Group menilai revisi metodologi yang dilakukan Bureau of Economic Analysis (BEA) telah memperbaiki persepsi terhadap data tersebut, tetapi tidak mengubah secara material gambaran inflasi yang mendasarinya.
