Wall Street Berusaha Bangkit, Dow Futures Menguat Lebih 100 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat menguat. Investor mulai kembali membeli saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) setelah aksi jual besar-besaran pada pekan sebelumnya.
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka Nasdaq-100 naik 0,4% pada Minggu malam (18/10/2026). Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average menguat 0,2%, atau sekitar 110 poin, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 bertambah 0,2%.
Stabilnya harga minyak pada awal perdagangan turut memberikan dukungan bagi pasar saham. Namun, investor masih berhati-hati setelah saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan AI mengalami tekanan tajam.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Imbas Harga Minyak dan Kekhawatiran Inflasi, Indeks Nasdaq Anjlok Lebih dari 2%
Pada pekan sebelumnya, indeks S&P 500 turun hampir 2%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni. Nasdaq merosot 4,5%, sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama empat pekan berturut-turut.
Kekhawatiran terhadap Bisnis AI
Perhatian investor tertuju pada keberlanjutan pertumbuhan bisnis AI setelah CNBC melaporkan bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal III mencapai US$16,8 miliar, naik dari US$11,6 miliar pada kuartal II.
Meskipun pendapatan meningkat, angka tersebut memicu pertanyaan mengenai kecepatan pertumbuhan bisnis AI dan besarnya belanja infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukungnya.
Salah satu perusahaan yang berada di pusat kekhawatiran adalah CoreWeave, penyedia layanan komputasi awan yang menggunakan utang dalam jumlah besar untuk membangun pusat data dan menyewakannya kepada perusahaan teknologi.
Baca Juga
Saham CoreWeave anjlok 25% pada pekan sebelumnya, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak November 2025. Investor di pasar obligasi korporasi juga mulai menjauh, sementara biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar perusahaan melalui credit default swaps (CDS) meningkat ke level yang mencerminkan tekanan keuangan.
Sejumlah pedagang Goldman Sachs mencatat bahwa selisih imbal hasil kredit atau credit spreads pada perusahaan AI dan penyedia layanan komputasi berskala besar berada pada level tertinggi tahun ini.
Kondisi itu menunjukkan investor mulai mempertanyakan kemampuan perusahaan AI mempertahankan laju belanja modal yang tinggi, mengingat kebutuhan pendanaan yang besar dan belum meratanya kepastian imbal hasil dari investasi tersebut.
Perdebatan di pasar pun bergeser. Jika sebelumnya investor berfokus pada potensi pertumbuhan pendapatan AI, kini perhatian semakin besar tertuju pada pembiayaan, keberlanjutan belanja modal, dan tingkat pengembalian investasi.
Selain perkembangan sektor AI, pelaku pasar juga mencermati harga minyak. Serangan kapal tanker di Teluk Persia serta serangan Ukraina dan Rusia terhadap infrastruktur energi meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dapat berlangsung hingga 2027.
Meski demikian, harga Brent dan WTI bergerak sedikit lebih rendah pada perdagangan Minggu. Pergerakan ini membantu menopang sentimen saham berjangka, meskipun belum menghapus ketidakpastian geopolitik.
Investor juga menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk Meta Platforms dan Tesla, pada pekan ini. Hasil kinerja keduanya diharapkan dapat memberikan gambaran apakah pertumbuhan bisnis dan investasi teknologi masih mampu menopang valuasi saham.
Pasar saham AS memasuki pekan baru dengan dua pertanyaan besar: apakah koreksi saham AI sudah cukup untuk menarik pembeli kembali, dan apakah perusahaan teknologi mampu membuktikan bahwa investasi besar mereka akan menghasilkan keuntungan yang sepadan.
