Wall Street Dibayangi Ketegangan Geopolitik, Dow Futures Anjlok 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) melemah pada Senin (7/9/2026), mengawali pekan perdagangan yang lebih pendek karena Senin libur. Futures saham turun di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memburuknya hubungan dagang antara AS dan Kanada.
Kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average turun 308 poin atau 0,6%. S&P 500 futures melemah 0,2%, sementara Nasdaq-100 futures justru naik 0,1%.
Baca Juga
Pasar saham AS tutup pada Senin karena libur Labor Day.
Pergerakan kontrak berjangka tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor setelah harga minyak dunia kembali melonjak dan konflik antara AS dan Iran memasuki fase yang semakin berisiko.
Minyak Mendekati US$100
Harga minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi US$97,31 per barel pada Senin malam. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3% menjadi US$92,66 per barel.
Brent bahkan sempat mencapai sekitar US$98 per barel, level tertinggi dalam enam pekan.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Sebelumnya, pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran setelah Iran menargetkan dua kapal perang AS dengan rudal balistik.
Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor bahwa konflik dapat mengganggu produksi dan distribusi minyak dari kawasan Teluk, termasuk lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
Selat Hormuz Makin Berisiko, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel
Kenaikan harga minyak dalam sebulan terakhir menjadi salah satu sumber tekanan baru bagi pasar keuangan global. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi dan konsumsi, sekaligus mendorong inflasi.
Kondisi tersebut menjadi semakin sensitif bagi pasar karena investor sedang memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Imbal Hasil Treasury Melonjak
Kenaikan harga minyak juga ikut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury karena investor memperkirakan inflasi dapat bertahan lebih tinggi.
Imbal hasil Treasury 10 tahun pada pekan lalu naik ke level tertinggi sejak November 2023. Sementara yield Treasury 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan yield menunjukkan bahwa investor semakin meminta kompensasi lebih tinggi untuk memegang obligasi di tengah meningkatnya risiko inflasi dan ketidakpastian fiskal.
“Serangkaian pertemuan bank sentral dalam beberapa pekan mendatang akan menguji apakah ketenangan pasar saham dapat bertahan,” kata Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, dikutip CNBC.
Menurut dia, imbal hasil obligasi juga meningkat di berbagai negara. Pertanyaannya adalah apakah kondisi tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, atau krisis utang fiskal yang semakin dekat.
Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada pekan depan.
Menurut CME Group FedWatch, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah pertemuan tersebut. Namun, ekspektasi tersebut masih sangat mungkin berubah.
Pasar akan mendapatkan sejumlah indikator penting pekan ini, termasuk data inflasi tingkat grosir dan inflasi konsumen yang masing-masing dijadwalkan dirilis pada Kamis dan Jumat.
Data tersebut akan menjadi perhatian utama karena memberikan gambaran mengenai apakah tekanan harga mulai kembali meningkat akibat kenaikan biaya energi.
Jika harga minyak kembali melonjak akibat eskalasi konflik Timur Tengah, ekspektasi inflasi juga dapat bergerak lebih tinggi dan mempersempit ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Selain risiko geopolitik dan inflasi, investor juga menghadapi meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada.
Kanada dijadwalkan memberlakukan tarif balasan terhadap produk AS senilai sekitar US$20 miliar mulai Selasa.
Presiden AS Donald Trump pada Senin kembali meningkatkan tekanan terhadap Kanada. Trump mengatakan produsen pesawat Kanada Bombardier tidak akan dapat menjual produknya di AS kecuali Kanada mulai memproduksi produknya di Amerika Serikat.
“No more selling selling BOMBARDIER in the United State!” tulis Trump melalui Truth Social.
Ancaman tersebut menambah ketidakpastian bagi perusahaan dan investor karena hubungan perdagangan AS-Kanada kembali menjadi sumber risiko bagi pasar.
Tiga Risiko Bayangi Wall Street
Investor Wall Street kini menghadapi setidaknya tiga tekanan utama sekaligus: eskalasi perang AS-Iran, lonjakan harga minyak dan ketegangan perdagangan AS-Kanada.
Risiko terbesar bagi pasar adalah jika kenaikan harga minyak berlangsung lama. Kondisi tersebut dapat menciptakan kombinasi yang tidak menguntungkan bagi pasar saham, yakni inflasi yang lebih tinggi sekaligus suku bunga yang bertahan lebih tinggi.
Perkembangan di Selat Hormuz juga akan menjadi perhatian utama investor. Jika lalu lintas kapal tanker terus menurun dan gangguan terhadap ekspor minyak kawasan Teluk semakin meluas, Brent berpotensi menembus US$100 per barel.
Bagi Wall Street, situasi tersebut akan menjadi ujian baru terhadap reli pasar saham sekaligus ekspektasi investor mengenai arah kebijakan The Fed.
