Ditinggal Delegasi, Netanyahu Sampaikan Pidato Keras di PBB
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust— Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membalas kritik internasional dengan pidato keras di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81, New York, Kamis (24/09/2026). Di tengah aksi walkout sejumlah delegasi, Netanyahu membela operasi militer Israel, menolak tuduhan genosida di Gaza, dan menyerang balik negara-negara yang mengecam pemerintahannya.
Delegasi Indonesia termasuk yang meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu bersiap menyampaikan pidato. ANTARA, dalam laporan Jumat (25/09/2026), menyebut aksi tersebut berlangsung di aula Majelis Umum PBB. Rekaman Perutusan Tetap Republik Indonesia di New York yang dirilis Kementerian Luar Negeri juga memperlihatkan para diplomat Indonesia berdiri dan keluar bersama delegasi negara lainnya.
Netanyahu merespons aksi itu dengan sindiran tajam. Dalam pidatonya, ia mempersilakan delegasi lain yang disebutnya sebagai “pengecut moral” untuk ikut meninggalkan ruangan. Pernyataan tersebut mengawali pidato yang berulang kali menempatkan tindakan militer Israel sebagai perjuangan mempertahankan keberadaan negara.
Salah satu sasaran utama pidatonya adalah Iran. Netanyahu mengingatkan penampilannya di podium PBB 14 tahun sebelumnya, ketika ia menggunakan gambar bom dengan garis merah untuk memperingatkan dunia mengenai program nuklir Iran. Kini, ia mengklaim Israel telah menunaikan janjinya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir melalui serangan terhadap fasilitas negara tersebut.
Baca Juga
Tampil di PBB, Meutya Hafid Suarakan Perlindungan 70 Juta Anak Indonesia
Menurut Netanyahu, menyerang fasilitas nuklir Iran merupakan operasi yang sulit, tetapi keputusan yang dianggapnya harus diambil demi keselamatan Israel. Ia bahkan mengklaim bahwa sejumlah pemimpin negara yang delegasinya meninggalkan ruangan sebenarnya telah menyampaikan terima kasih secara pribadi atas tindakan Israel. Klaim mengenai dukungan pribadi tersebut tidak disertai nama pemimpin maupun bukti dalam bahan pidato.
Netanyahu memberikan penghargaan khusus kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyebut Washington sebagai mitra terpenting Israel dalam menghadapi Iran serta memuji kerja sama militer kedua negara. Dalam pembelaannya, operasi tersebut digambarkan sebagai tindakan untuk melindungi Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara lain dari ancaman yang menurutnya ditimbulkan pemerintah Iran.
Untuk menjelaskan sikap pemerintahannya, Netanyahu kembali mengangkat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia menjadikan serangan itu sebagai dasar argumentasi bahwa Israel menghadapi ancaman terhadap keberadaannya. Sepanjang pidato, ia berulang kali menegaskan bahwa negaranya harus menang karena tidak memiliki pilihan lain.
Ia menyebut Israel berperang di tujuh front, meliputi Hamas, Hezbollah, Houthi, Iran, kelompok bersenjata di Irak dan Suriah, serta kelompok bersenjata Palestina di Tepi Barat. Netanyahu mengklaim operasi Israel telah menghancurkan sebagian besar kemampuan lawan-lawannya. Pernyataan mengenai tingkat kehancuran tersebut merupakan penilaian yang disampaikan Netanyahu dalam pidatonya.
Baca Juga
Pembelaan paling keras disampaikan ketika membahas Gaza. Netanyahu menolak tuduhan genosida dan mengklaim militer Israel telah mengambil berbagai langkah untuk mengurangi korban sipil, termasuk memberikan peringatan evakuasi serta memfasilitasi bantuan pangan dan vaksinasi polio. Ia juga menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai dan memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan militer.
Namun, pembelaan itu berlangsung di tengah besarnya korban perang. Reuters, dalam laporan 22 September 2026, menyebut lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas menurut otoritas kesehatan Gaza, dengan angka tersebut mencakup warga sipil dan kombatan. Israel menyatakan operasinya menyasar Hamas dan membantah tuduhan genosida.
Selain medan tempur, Netanyahu menyebut adanya “front kedelapan”, yakni pertarungan informasi di media massa dan media sosial. Ia menuduh Qatar mendanai penyebaran narasi anti-Israel melalui lembaga pendidikan dan media. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menjadi sasaran kritik terkait sikapnya terhadap Israel dan dukungannya kepada Hamas. Tuduhan-tuduhan tersebut disampaikan dari sudut pandang pemerintah Israel.
Netanyahu turut menyerang Wali Kota New York Zohran Mamdani atas kritiknya terhadap operasi Israel di Gaza. Ia menghubungkan retorika anti-Israel dengan meningkatnya rasa tidak aman di kalangan komunitas Yahudi. Akan tetapi, dalam bahan pidato tersebut, ia tidak menyertakan bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara pernyataan tokoh tertentu dan serangan antisemit yang disebutkannya.
Salah satu bagian paling mencolok terjadi ketika Netanyahu mengangkat perangkat internet satelit Starlink. Ia menggunakannya untuk menyindir pembatasan akses informasi di Iran dan menyatakan bahwa kebebasan berkomunikasi merupakan ancaman bagi penguasa di Teheran. Ia kemudian meminta agar perangkat itu diberikan kepada delegasi Iran.
Melalui gestur tersebut, Netanyahu berusaha membedakan pemerintah Iran dengan rakyatnya. Ia menyatakan dukungan terhadap kebebasan masyarakat Iran dan memperkirakan pemerintahan negara itu pada akhirnya akan tumbang. Pernyataan tersebut merupakan prediksi politik Netanyahu, bukan kepastian mengenai perkembangan di Iran.
Di sela-sela serangan terhadap para pengkritiknya, Netanyahu menyisipkan kisah pribadi mengenai kakaknya, Yonatan “Yoni” Netanyahu. Ia mengenang percakapan menjelang Perang Enam Hari 1967 dan kematian Yoni dalam operasi pembebasan sandera di Entebbe, Uganda, pada 1976. Pesan yang dikaitkannya dengan sang kakak—harus menang karena tidak memiliki pilihan lain menjadi benang merah pidatonya.
Pidato Netanyahu akhirnya memperlihatkan dua sikap yang berhadapan di forum dunia: pemerintah Israel yang mempertahankan alasan keamanan bagi tindakan militernya, serta delegasi sejumlah negara yang memilih keluar sebagai bentuk protes. Netanyahu menggunakan podium PBB untuk menegaskan bahwa tekanan internasional tidak akan mengubah tekadnya. Sementara itu, kursi-kursi yang ditinggalkan menjadi pesan penolakan terhadap pemimpin Israel tersebut.
