Perkuat Ekonomi Sirkular, Delegasi 13 Negara Kunjungi Koperasi Pemulung
Poin Penting
|
TANGERANG SELATAN, Investortrust.id - Delegasi dari 13 negara mengunjungi Koperasi Pemulung Berdaya di Serpong, Tangerang Selatan untuk mempelajari model pengumpulan dan daur ulang sampah plastik yang melibatkan pekerja sektor informal. Kunjungan tersebut memperlihatkan peran koperasi dalam menghubungkan industri dan pemulung untuk memperkuat rantai daur ulang.
Kunjungan itu menjadi bagian dari Jakarta Informal Consultation Meeting – Intergovernmental Negotiating Committee on Plastic Pollution, forum pertukaran pembelajaran mengenai penanganan polusi plastik. Pertemuan yang digelar Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia pada Selasa–Rabu (13–14/10/2026) tersebut turut membahas pentingnya transisi yang adil atau just transition dalam perubahan sistem pengelolaan sampah.
Baca Juga
Perkuat Digitalisasi, Industri Daur Ulang Plastik Indonesia Didorong Punya Sistem 'Traceability'
Public Affairs & Sustainability Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan Koperasi Pemulung Berdaya menunjukkan bagaimana pekerja sektor informal dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah dan pengembangan ekonomi sirkular.
“Transisi yang adil bukan tentang menggantikan peran mereka, melainkan memperkuat jalur menuju kondisi kerja yang lebih baik, akses terhadap perlindungan, infrastruktur dan pasar, serta peluang ekonomi yang lebih tangguh," kata Karyanto dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Melalui Koperasi Pemulung Berdaya, Aqua menunjukkan kolaborasi antara industri, pemerintah, koperasi, dan pelaku informal dapat memperkuat rantai nilai daur ulang sekaligus mendorong ekonomi sirkular yang lebih inklusif.
Koperasi Pemulung Berdaya mengumpulkan dan memilah botol plastik bekas jenis polyethylene terephthalate (PET), yang banyak digunakan untuk kemasan minuman, dari berbagai wilayah Jabodetabek. Koperasi tersebut diinisiasi Aqua pada 2010 dan memperoleh badan hukum koperasi pada 2013. Fasilitas itu mampu menerima hingga 6 ton botol PET bekas per hari.
Kegiatan koperasi menopang penghidupan 59 anggota dan terhubung dengan mata pencaharian sekitar 4.000 pemulung. Material yang terkumpul kemudian disalurkan ke rantai daur ulang agar dapat diolah kembali menjadi bahan baku.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly mengatakan penguatan sistem pengumpulan menjadi salah satu kebutuhan untuk meningkatkan pengelolaan sampah nasional. Pemerintah juga terus menyempurnakan kebijakan yang mendorong produsen bertanggung jawab atas sampah dari produk dan kemasannya.
“Sejalan dengan upaya global, Indonesia terus memperkuat kebijakan pengurangan sampah, termasuk melalui penyempurnaan Peraturan Menteri LHK Nomor P.75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Penguatan tanggung jawab produsen penting untuk mendorong pengurangan sampah sejak dari sumber sekaligus meningkatkan tanggung jawab terhadap produk dan kemasan setelah digunakan,” ujar Agus.
Ia mengatakan pelaksanaan kebijakan tersebut memerlukan kesiapan infrastruktur, kapasitas pelaku usaha, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan sektor informal.
Baca Juga
Prabowo Ingin Ganti Seng Berkarat dengan Genteng dari Daur Ulang Sampah
Jaringan Daur Ulang Terhubung dengan 25.000 Pemulung
Koperasi Pemulung Berdaya merupakan bagian dari Gerakan #BijakBerplastik yang dijalankan Aqua sejak 2018. Gerakan tersebut mencakup pengembangan infrastruktur pengumpulan, edukasi konsumen dan masyarakat, serta inovasi kemasan yang lebih berkelanjutan.
Program itu juga mendukung target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30% pada 2029 sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Dalam upaya memperkuat pengumpulan material, Aqua mengembangkan dan mendampingi 10 unit bisnis daur ulang di sejumlah wilayah. Bersama mitra, jaringan tersebut terhubung dengan sekitar 25.000 pemulung dan mengumpulkan 51.000 ton plastik sepanjang 2024.
