Kolaborasi Esgin dan 2 Koperasi Dorong Pertanian, Ekonomi Sirkular, dan Proyek Karbon
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Esgin Global Partners, perusahaan dalam pengembangan ekosistem lingkungan dan ekonomi hijau, Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI) dan Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC) menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk memperkuat kolaborasi pertanian berkelanjutan, ekonomi sirkular, green project, hingga proyek karbon di Jakarta, pada Kamis (10/9/2026).
Penandatanganan dilakukan oleh Vice President PT Esgin Global Partners Yayang Ruzaldy, Ketua Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI) Marwah Daud Ibrahim, serta Ketua Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC) Rhesa Yogaswara di Ballroom Bank Mega Syariah, Jakarta Selatan.
MoU tersebut menjadi bagian dari seminar nasional "Green Education: Talenta Masa Depan, Talenta Melek Ketahanan Energy dan Pangan, yang Ramah Lingkungan, Bersahabat dengan Alam". Kegiatan itu turut melibatkan Bank Mega Syariah dalam agenda penguatan pendidikan, literasi ekonomi hijau, ketahanan pangan dan energi serta pemanfaatan teknologi.
Vice President PT Esgin Global Partners Yayang Ruzald yang menjadi keynote speaker menyampaikan pentingnya pendidikan hijau sebagai fondasi untuk mempersiapkan generasi yang akan menghadapi transformasi ekonomi.
"Talenta masa depan harus memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan bukan dua agenda yang terpisah. Anak-anak kita hari ini akan menjadi entrepreneur, profesional, konsumen, pemimpin, dan pengambil keputusan di masa depan. Karena itu, wawasan ekonomi hijau perlu mulai dibangun sejak mereka masih berada di bangku sekolah," ujar Yayang dikutip Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, green education perlu bergerak dari pemahaman konseptual menuju aktivitas yang dapat dilakukan langsung oleh generasi muda. "Kita perlu memberikan ruang kepada generasi muda untuk melakukan aktivitas nyata, mulai mengurangi sampah dan food waste, menghemat energi dan air, menjaga lingkungan, hingga berpartisipasi dalam ekonomi sirkular," kata dia.
Teknologi kata dia, dapat membantu mencatat dan mengukur aktivitas tersebut sehingga green sction dapat berkembang menjadi measurable green impact.
Ketua KPCI Marwah Daud Ibrahim mengatakan pembangunan ekonomi hijau perlu bertumpu pada kekuatan ekonomi masyarakat. Pertanian menjadi salah satu fondasi penting karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan sekaligus kehidupan masyarakat.
"Melalui kolaborasi ini, kami ingin memperkuat posisi petani dan koperasi dalam ekosistem yang menghubungkan produksi pangan berkelanjutan dengan kepastian pasar, teknologi, ekonomi sirkular, serta peluang pengembangan green project," ujar Marwah.
Menurut Marwah, ketahanan pangan perlu dikembangkan tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga melalui ekosistem usaha yang menghubungkan petani dengan pasar, teknologi dan peluang ekonomi baru.
MoU antara ESGIN, KPCI dan KKDC menjadi kerangka awal untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan pendidikan, pertanian, koperasi, rantai pasok, pasar, masyarakat, ekonomi sirkular, teknologi lingkungan dan pengembangan green project.
KPCI mengambil peran pada sisi hulu melalui jaringan petani, kelompok tani, koperasi, wilayah dan komoditas pertanian potensial. Koperasi tersebut juga diarahkan untuk mengembangkan pola kemitraan usaha pertanian, termasuk contract farming atau pola kerja sama produksi antara petani dan pembeli berdasarkan kesepakatan tertentu.
Sementara KKDC memperkuat sisi hilir melalui rantai pasok, distribusi, pemasaran, akses pasar, jaringan konsumen dan komunitas. Jaringan tersebut juga dapat terhubung dengan Bank Sampah Unit atau BSU serta aktivitas ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Baca Juga
PGE (PGEO) Dorong Panas Bumi untuk Pasok 'Green Data Center' dan AI
Adapun Esgin SGIN mendukung pengembangan green project dan infrastruktur digital lingkungan. Dukungan tersebut mencakup pemanfaatan platform ESG-in, traceability atau penelusuran aktivitas, pengukuran dampak lingkungan, Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV), serta identifikasi potensi green project, climate project dan kegiatan penurunan emisi gas rumah kaca.
Green Action Dibawa ke Proyek Karbon
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk menghubungkan pendidikan hijau dengan kegiatan ekonomi yang menghasilkan dampak terukur. Green education diharapkan mendorong sekolah, petani, koperasi dan masyarakat menjalankan berbagai green action.
Smeentara pertanian menjadi salah satu sektor strategis dalam kolaborasi karena berkaitan dengan ketahanan pangan, penggunaan lahan, air dan energi, biomassa, limbah organik serta emisi gas rumah kaca. Melalui jaringan KPCI, para pihak dapat memetakan wilayah, petani, kelompok tani, koperasi, komoditas serta praktik pertanian yang berpotensi dikembangkan dengan pendekatan produktif dan berkelanjutan.
Selain pertanian, kerja sama tersebut membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui jaringan Bank Sampah Unit. Ekosistem tersebut dapat menghubungkan sekolah, siswa, keluarga, komunitas, koperasi dan masyarakat dalam aktivitas pemilahan sampah, recycling, pemanfaatan kembali material, pengurangan food waste serta kegiatan lingkungan lainnya.
Khusus untuk proyek karbon, pengembangan proyek tetap harus memenuhi berbagai persyaratan, termasuk metodologi, baseline atau kondisi awal sebagai pembanding, additionality, penghitungan penurunan atau pengurangan emisi, MRV, validasi, verifikasi, registrasi dan regulasi yang berlaku. Digital MRV dalam konteks tersebut berfungsi sebagai infrastruktur pendukung untuk menjaga integritas data dan membantu mengukur dampak suatu kegiatan.
Kolaborasi dalam Seminar Nasional Green Education juga memperlihatkan keterlibatan lintas sektor dalam pengembangan ekonomi hijau. Dunia pendidikan berperan membentuk talenta dan perilaku, koperasi menghubungkan masyarakat dengan aktivitas ekonomi, pertanian mendukung ketahanan pangan, sementara teknologi membantu proses digitalisasi dan pengukuran dampak.
Sektor keuangan juga memiliki ruang untuk memperkuat ekosistem melalui layanan dan instrumen yang relevan dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan Bank Mega Syariah dalam kegiatan tersebut memperluas perspektif sektor keuangan syariah dalam pengembangan Green Education. Seminar turut menghadirkan pembahasan mengenai pemanfaatan Learning Management System sebagai solusi pengelolaan institusi pendidikan yang mendukung program tersebut.
Sebagai tindak lanjut MoU, Esgin, KPCI dan KKDC dapat membentuk tim kerja bersama untuk melakukan pemetaan wilayah, petani, kelompok tani, komoditas, koperasi, komunitas, BSU, rantai pasok, pasar serta potensi green project dan climate project.
Baca Juga
Hampir Tiga Tahun Beroperasi, Transaksi Bursa Karbon Baru Rp 93,90 Miliar
Hasil pemetaan tersebut dapat digunakan untuk menentukan program prioritas dan calon pilot project. Setiap calon proyek kemudian perlu dikaji dari sisi teknis, operasional, komersial, lingkungan, sosial, finansial, hukum dan regulasi.
Proyek yang dinilai layak dapat dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama atau PKS maupun perjanjian definitif tersendiri. Perjanjian tersebut dapat mengatur investasi, pembagian peran, teknologi, data, model bisnis, hak dan kewajiban serta ketentuan komersial masing-masing proyek.
Dengan skema tersebut, MoU menjadi payung awal untuk membangun pipeline green project yang menghubungkan potensi pertanian dan komunitas dengan rantai pasok, pasar, ekonomi sirkular, teknologi lingkungan dan peluang investasi hijau.
