Esgin Jalin Kemitraan dengan AEKI Dorong Industri Kopi Berkelanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Esgin Global Partners dan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (DPP AEKI) menjalin kemitraan strategis untuk membangun ekosistem ekonomi hijau berbasis komoditas kopi di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Kerja sama ini menjadi langkah awal perdagangan karbon, digitalisasi data lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG), serta pemberdayaan petani kopi.
Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) berlangsung di kantor Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Dokumen tersebut ditandatangani Chief Executive Officer PT Esgin Global Partners Brandon Keam dan Ketua Umum DPP AEKI Irfan Anwar. Penandatanganan turut disaksikan Ketua AEKI Provinsi Lampung Juprius serta jajaran Pemerintah Kabupaten Tanggamus yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Hendra Wijaya Mega.
Chief Executive Officer PT Esgin Global Partners Brandon Keam mengatakan keberhasilan transisi menuju ekonomi hijau hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, investor, akademisi, dan masyarakat.
Baca Juga
"Esgin percaya bahwa investasi hijau harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami tidak hanya membangun proyek, tetapi juga membangun kapasitas daerah, meningkatkan kesejahteraan petani, menciptakan lapangan kerja hijau, serta membantu pemerintah daerah menyusun arah pembangunan Green Economy yang berkelanjutan," kata dia dikutip Jumat (24/7/2026).
Dia mengatakan, Tanggamus memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi model nasional pengembangan ekonomi hijau berbasis kopi yang dapat direplikasi di berbagai daerah penghasil kopi Indonesia.
Menurut Brandon, pendekatan tersebut dirancang agar selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Program ini juga mendukung implementasi Paris Agreement, target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, serta sasaran Net Zero Emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.
Melalui kemitraan tersebut, kedua pihak akan mengembangkan rantai nilai ekonomi hijau yang mencakup produksi biochar, penerapan Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV), sistem digital untuk mengukur, melaporkan, dan memverifikasi pengurangan emisi karbon, sertifikasi, hingga komersialisasi kredit karbon dari sektor perkebunan kopi.
Tanggamus dipilih sebagai lokasi awal implementasi karena merupakan salah satu sentra produksi kopi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tanggamus, produksi kopi daerah tersebut mencapai 39.165 ton pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Daerah ini juga memiliki areal perkebunan kopi seluas sekitar 41.526 hektare yang dikelola oleh sekitar 40.084 kepala keluarga petani, menjadikan komoditas kopi sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat.
Sementara Kecamatan Ulu Belu menjadi kawasan produksi terbesar dengan hasil mencapai 12.067 ton dari lahan sekitar 10.720 hektare. Potensi tersebut dinilai ideal sebagai lokasi percontohan pengembangan biochar sekaligus proyek perdagangan karbon berbasis perkebunan kopi.
Besarnya aktivitas perkebunan juga menghasilkan biomassa dalam jumlah besar, mulai dari kulit kopi, ranting hasil pemangkasan, hingga limbah organik lainnya. Selama ini sebagian besar limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki nilai ekonomi apabila diolah menjadi biochar, yakni material kaya karbon yang mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus menyimpan karbon dalam jangka panjang.
Pemanfaatan biochar tersebut diharapkan tidak hanya mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, tetapi juga membuka peluang sumber pendapatan baru bagi petani melalui perdagangan kredit karbon. Skema ini memungkinkan pengurangan emisi karbon dari sektor perkebunan memperoleh nilai ekonomi di pasar karbon.
Dalam kerja sama tersebut, kata Brandon, Esgin menegaskan perannya tidak hanya sebagai perusahaan investasi proyek hijau, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam merancang pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Model yang dikembangkan ESGIN mengintegrasikan investasi, inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola daerah.
"Perusahaan akan mendukung investasi pada proyek-proyek ekonomi hijau yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan," kata Brandon.
ESGIN turut mendampingi pemerintah daerah dalam menyusun peta jalan atau roadmap ekonomi hijau, mengidentifikasi potensi proyek rendah karbon, menyusun strategi investasi, hingga merancang kebijakan pembangunan yang sejalan dengan agenda nasional. Di sisi lain, perusahaan akan membantu memobilisasi investasi dari dalam maupun luar negeri untuk mempercepat implementasi proyek-proyek hijau di daerah.
Tingkatkan Daya Saing Kopi Indonesia
Ketua Umum DPP AEKI Irfan Anwar menilai kemitraan tersebut menjadi momentum penting bagi transformasi industri kopi nasional menuju komoditas berkelanjutan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi di pasar global.
Baca Juga
Analogikan dengan Warung Kopi, Prabowo Sebut Ekonomi Bukan Ilmu Dewa
"Ke depan, daya saing kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji kopi, tetapi juga oleh kemampuan kita menerapkan praktik produksi yang berkelanjutan, rendah karbon, dan memenuhi standar ESG global. Melalui kemitraan ini, kami berharap petani kopi Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus meningkatkan daya saing ekspor nasional."
Sementara Pemerintah Kabupaten Tanggamus menyambut positif kerja sama tersebut karena mampu memperkuat posisi daerah sebagai pusat pengembangan kopi berkelanjutan. Kemitraan ini juga diharapkan membuka akses terhadap investasi hijau, inovasi teknologi, serta pasar karbon yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
