Wall Street Anjlok Dipicu Lonjakan Yield Obligasi AS, Dow ‘Drop’ Lebih dari 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrus.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (24/9/2026) WIB. Lonjakan imbal hasil Treasury AS memicu kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve masih perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 352,10 poin atau 0,68% dan ditutup di level 51.511,59. Indeks S&P 500 melemah 0,75% menjadi 7.706,03, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,13% ke 26.936,04.
Penurunan Nasdaq menjadi yang paling dalam di antara tiga indeks utama Wall Street. Saham sektor utilitas dan consumer discretionary menjadi pemberat utama pasar, masing-masing terkoreksi lebih dari 1%.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 5,1%, Tertinggi dalam 19 Tahun
Tekanan terhadap saham meningkat seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,135%, level tertinggi sejak Juli 2007. Kenaikan tersebut juga menjadi lonjakan harian terbesar sejak 7 April 2025.
Sementara itu, yield Treasury 2 tahun menyentuh 4,947%, level tertinggi sejak Mei 2024. Yield tenor dua tahun sangat sensitif terhadap ekspektasi perubahan kebijakan moneter Federal Reserve.
Kenaikan yield terjadi setelah data Purchasing Managers' Index (PMI) AS menunjukkan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat.
"Fundamental laba perusahaan sangat kuat, tetapi kita juga menghadapi tekanan inflasi dan keduanya sedang tarik-menarik," kata Head of U.S. Equities Procyon Massimo Santicchia kepada CNBC.
Menurut dia, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari harga minyak, tetapi juga semakin luas dan terutama terlihat di sektor jasa.
"Tidak mungkin The Fed menurunkan suku bunga atau berhenti pada titik ini. Kemungkinan kita akan melihat dua atau tiga kenaikan suku bunga," ujarnya.
Pernyataan The Fed Tekan Pasar
Tekanan terhadap saham semakin besar setelah Gubernur Federal Reserve Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk membawa inflasi kembali terkendali.
"Pertumbuhan ekonomi kuat dan pasar tenaga kerja solid, tetapi inflasi berada di atas target 2% kami dan belum menunjukkan tren yang jelas menuju target dalam waktu yang tepat," kata Barr.
Dia menambahkan, risiko untuk mencapai target inflasi telah meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja mulai berkurang.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi lebih dari 66%, dibandingkan 55,4% sehari sebelumnya dan hanya 8,8% sebulan lalu.
Kenaikan ekspektasi suku bunga menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dapat membuat aset berisiko seperti saham menjadi relatif kurang menarik. Biaya pendanaan perusahaan juga berpotensi meningkat ketika suku bunga bertahan lebih tinggi.
Harga Minyak Melonjak
Kekhawatiran inflasi juga diperkuat kenaikan harga minyak mentah.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November naik sekitar 3,9% menjadi US$103,08 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% dan ditutup di US$92,16 per barel.
Harga minyak tetap menjadi perhatian investor karena konflik AS-Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.
Di tengah perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat AS dan Iran telah melakukan pertemuan selama sekitar tiga jam pada Selasa.
Trump menyebut pertemuan tersebut sebagai "pertemuan yang sangat baik".
Namun, dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sehari sebelumnya, Trump mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengambil tindakan militer yang lebih keras.
Perkembangan geopolitik tersebut membuat pasar harus memperhitungkan dua risiko sekaligus, yakni tekanan inflasi dari harga energi dan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat.
Baca Juga
Nasdaq Tembus Rekor Baru, Wall Street Cermati Diplomasi AS-Iran
Pada perdagangan Selasa, Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi intraday dan ditutup pada level rekor. Sementara Dow Jones berakhir melemah dan S&P 500 bergerak relatif datar. Namun, situasi berubah pada Rabu ketika lonjakan yield Treasury kembali menjadi tekanan utama bagi saham teknologi dan pasar secara keseluruhan.
