Wall Street Rontok Dipicu ‘Sell Off’ Saham Teknologi, Nasdaq Terjun Hampir 3%, Dow Anjlok Lebih dari 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) turun tajam pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu dini hari (31/10/2026) WIB. Investor terus mengurangi kepemilikan saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek laba, besarnya belanja modal, dan risiko pembiayaan infrastruktur digital.
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 2,86% menjadi 25.437,00. Penurunan tersebut menjadi kinerja harian terburuk Nasdaq sejak Juni dan membuat indeks itu berada sekitar 8% di bawah level tertinggi terbarunya.
Indeks S&P 500 turun 1,82% menjadi 7.580,07. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 572,25 poin atau 1,09% ke level 51.770,31.
Baca Juga
Wall Street Tumbang Dipicu Kejatuhan Saham ‘Big Cap’, Dow Tergerus Lebih 100 Poin
Tekanan jual meningkat pada perdagangan sore ketika investor merealisasikan keuntungan menjelang akhir bulan dan pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Saham Teknologi dan Semikonduktor Tertekan
Amazon kehilangan lebih dari 1% setelah melaporkan laba dan pendapatan kuartal III yang lebih rendah daripada ekspektasi Wall Street. Perusahaan e-commerce dan komputasi awan tersebut juga mencatatkan arus kas bebas negatif sebesar US$42,4 miliar.
Amazon mempertahankan proyeksi belanja modal sepanjang 2026 sebesar US$220 miliar, mencerminkan besarnya kebutuhan investasi perusahaan untuk mendukung infrastruktur dan ekspansi bisnis.
Tekanan lebih tajam terjadi pada saham Intel yang anjlok hampir 29% setelah perusahaan menyampaikan proyeksi kinerja kuartal berjalan yang mengecewakan dan mengindikasikan perlambatan pasar komputer pribadi (PC).
Pendapatan Intel dari segmen komputasi klien dan kecerdasan buatan fisik turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$8,1 miliar.
Saham Sandisk juga merosot 13%, meskipun hasil kuartal fiskal pertamanya melampaui perkiraan analis. Perusahaan penyimpanan data itu mengumumkan pemecahan saham dengan rasio delapan banding satu.
Pelemahan meluas ke produsen chip lainnya. Saham Advanced Micro Devices (AMD) turun hampir 11%, Nvidia merosot 4%, dan Broadcom terkoreksi 5%.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa investor tidak lagi memberikan respons positif secara merata terhadap perusahaan yang berkaitan dengan AI. Prospek bisnis, kebutuhan pendanaan, dan kemampuan menghasilkan keuntungan semakin menentukan arah saham masing-masing perusahaan.
Investor Mulai Beralih ke Sektor Defensif
Ketika saham teknologi mengalami tekanan, sebagian investor beralih ke sektor yang dianggap lebih defensif, seperti barang konsumsi pokok dan layanan kesehatan.
Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik lebih dari 1%, membantu membatasi penurunan Dow Jones. Saham Merck dan Amgen juga menguat.
Keith Buchanan dari Globalt menilai pasar semakin kritis dalam mengevaluasi investasi teknologi. Jika sebelumnya investor lebih berfokus pada potensi pertumbuhan AI, kini perhatian bergeser pada bagaimana investasi tersebut dibiayai dan siapa yang pada akhirnya memperoleh keuntungan ekonominya.
Menurutnya, risiko terhadap perekonomian riil turut menjadi perhatian pasar.
Sentimen negatif juga diperkuat laporan Financial Times yang menyebut Blackstone telah menyampaikan kepada investor bahwa Anthropic berpotensi tidak memperoleh peringkat layak investasi setelah debutnya di pasar modal. Informasi tersebut mengacu pada sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Sebelumnya, dokumen pendaftaran penawaran saham Anthropic sempat memberikan dorongan terhadap perdagangan saham AI. Namun, sentimen kembali memburuk ketika investor mencerna laporan keuangan perusahaan teknologi terbaru.
Belanja AI dan Utang Perusahaan Infrastruktur Jadi Sorotan
Aksi jual pada Jumat menutup bulan yang bergejolak bagi saham-saham bertema AI. Investor semakin mempertanyakan besarnya pengeluaran untuk membangun pusat data dan infrastruktur komputasi, terutama ketika perusahaan teknologi besar belum menaikkan proyeksi belanja modal mereka.
Alphabet dan Microsoft mempertahankan proyeksi belanja modal masing-masing, sementara perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan khusus atau neocloud menghadapi sorotan terkait tingkat utang dan kebutuhan pembiayaan.
Baca Juga
Saham Alphabet Jeblok 13%, Kapitalisasi Pasar Menguap Rp 9.000 Triliun
CoreWeave menjadi salah satu contoh paling mencolok. Kenaikan imbal hasil obligasinya mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko pembiayaan, sementara sahamnya anjlok 37% sepanjang Oktober.
Saham Nebius juga merosot hampir 35% selama bulan tersebut.
Tekanan terlihat pada produk investasi yang berkaitan dengan AI. Roundhill Memory ETF (DRAM), yang mencakup saham perusahaan memori dan penyimpanan seperti Micron dan Seagate Technology, turun 20% sepanjang Oktober. Sementara itu, iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF (BAI) melemah hampir 17%.
Kondisi ini menegaskan bahwa meningkatnya permintaan komputasi AI belum tentu langsung menghasilkan keuntungan bagi seluruh perusahaan dalam rantai pasok teknologi.
Nasdaq Catat Penurunan Bulanan Terdalam sejak Maret 2025
Pada akhir Oktober, Nasdaq mencatat penurunan bulanan sebesar 5,3%, menjadi penurunan terdalam sejak Maret 2025. S&P 500 turun 0,9% sepanjang bulan, sedangkan Dow Jones justru menguat 1,7%.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Kejatuhan Saham AI dan Lonjakan Harga Minyak, Nasdaq Anjlok 2,6%
Perbedaan kinerja ketiga indeks tersebut mencerminkan rotasi investasi dari saham teknologi yang sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan menuju perusahaan yang dinilai memiliki profil bisnis lebih defensif.
Bagi investor, tantangan berikutnya adalah menentukan apakah koreksi saham teknologi hanya merupakan penyesuaian valuasi atau menjadi tanda bahwa pasar mulai meragukan besarnya potensi keuntungan dari investasi AI.
Jika biaya infrastruktur dan pendanaan terus meningkat tanpa diikuti pertumbuhan arus kas yang memadai, tekanan terhadap saham perusahaan teknologi dan penyedia pusat data berpotensi berlanjut. Sebaliknya, perusahaan yang mampu membuktikan profitabilitas dan disiplin belanja modal dapat lebih diuntungkan ketika investor semakin selektif.
