Wall Street Tumbang Dipicu Kejatuhan Saham ‘Big Cap’, Dow Tergerus Lebih 100 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (30/10/2026) WIB, tertekan kinerja sejumlah saham berkapitalisasi besar. Laporan keuangan terbaru perusahaan memicu kekhawatiran investor terhadap prospek bisnis dan besarnya investasi teknologi.
Indeks Nasdaq Composite turun 1,38% menjadi 26.184,72. Indeks S&P 500 melemah 0,3% ke level 7.720,39, sekaligus mengakhiri penguatan selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average kehilangan 132,54 poin atau 0,25% menjadi 52.342,56.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga, 3 Indeks Utama Wall Street Kompak Menguat
Saham Alphabet, induk Google, merosot sekitar 12% setelah perusahaan gagal memenuhi ekspektasi pasar untuk laba per saham yang disesuaikan dan pendapatan kuartal III-2026. Alphabet juga melaporkan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar, meskipun tetap mempertahankan proyeksi belanja modal sepanjang tahun di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar.
Tekanan juga menghantam saham Caterpillar yang tergabung dalam indeks Dow Jones. Saham produsen alat berat tersebut turun lebih dari 9%, menjadi penurunan harian terdalam sejak Maret 2020.
Caterpillar sebenarnya melaporkan pendapatan dan laba kuartal III yang melampaui ekspektasi analis. Namun, penjualan pada segmen industri konstruksi sedikit di bawah perkiraan pasar sehingga memicu tekanan terhadap sahamnya.
Saham Microsoft juga berakhir sedikit melemah setelah sempat bergerak menguat. Perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan dan laba kuartal fiskal pertama yang berakhir September di atas ekspektasi analis, ditopang pertumbuhan bisnis infrastruktur komputasi awan Azure.
Namun, perhatian investor tertuju pada besarnya belanja modal Microsoft. Pengeluaran modal dan sewa pembiayaan mencapai US$45,2 miliar, naik 30% dibandingkan setahun sebelumnya, tetapi masih lebih rendah daripada perkiraan analis sebesar US$50,67 miliar.
Angka tersebut memicu kekhawatiran bahwa mitra penyedia infrastruktur komputasi awan atau neocloud membutuhkan waktu lebih lama untuk menyediakan kapasitas pusat data yang diperlukan untuk memenuhi permintaan AI.
Saham CoreWeave turun sekitar 5%, sedangkan Nebius melemah lebih dari 5%.
Tekanan juga terlihat pada saham-saham yang berkaitan dengan industri semikonduktor dan memori. ETF iShares Semiconductor (SOXX) turun lebih dari 1%, sementara Roundhill Memory ETF (DRAM) merosot lebih dari 4%.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor semakin berhati-hati terhadap perdagangan saham bertema AI setelah sebagian saham teknologi mengalami tekanan sepanjang Oktober, meskipun sempat pulih dalam beberapa hari terakhir.
“Kondisi pasar saham teknologi pada Oktober hingga menjelang November relatif lebih stabil dibandingkan Agustus dan September. Namun, investor kini semakin selektif dalam menentukan perusahaan yang layak menjadi tujuan investasi,” beber Art Hogan, kepala strategi pasar di B. Riley Wealth Management dikutip CNBC.
Menurut Hogan, pasar tidak lagi memandang sektor teknologi secara seragam. Pengumuman kinerja dan prospek dari masing-masing perusahaan dapat menimbulkan pergerakan harga yang signifikan.
Cerna Keputusan The Fed
Di luar laporan keuangan perusahaan, investor juga mencermati arah kebijakan moneter AS. Pada Rabu (28/10/2026), Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%–4%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan tersebut diambil setelah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Baca Juga
Inflasi Masih Jadi Ancaman, The Fed Tahan Bunga Acuan di 3,75%-4%
Dalam pernyataan terbarunya, para pembuat kebijakan menegaskan bahwa inflasi masih berada pada tingkat tinggi. The Fed juga menyatakan akan menunggu akumulasi data ekonomi lebih lanjut sebelum mengambil langkah berikutnya.
Data inflasi yang dirilis Kamis menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, naik 0,5% secara bulanan pada September. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,6%, sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,7%, tetapi tetap berada jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.
Inflasi yang tinggi dan ketidakpastian mengenai arah suku bunga menambah tantangan bagi investor dalam menilai valuasi saham, khususnya perusahaan teknologi yang membutuhkan investasi modal besar.
Bagi pasar, laporan keuangan terbaru memperlihatkan bahwa pertumbuhan bisnis AI tidak otomatis menjamin kenaikan harga saham. Investor semakin memperhatikan kualitas laba, arus kas, kebutuhan belanja modal, dan kecepatan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi teknologi.
Pergerakan Wall Street selanjutnya akan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan membuktikan bahwa investasi AI dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, sekaligus perkembangan inflasi dan kebijakan suku bunga AS.
