Wall Street Ambruk Dipicu Kenaikan Yield Obligasi AS, Dow Tergerus Hampir 350 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada Senin waktu AS atau Selasa (29/9/2026) WIB. Yield Treasury AS meningkat tajam yang kembali memberikan tekanan terhadap aset berisiko.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 347,11 poin atau 0,67% dan ditutup pada level 51.481,51. Penurunan tersebut terutama terbebani saham Boeing yang merosot hampir 7%.
Penurunan saham Boeing terjadi setelah Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan belum akan memberikan sertifikasi untuk 737 Max 10 hingga regulator tersebut menyelesaikan penilaian terhadap masalah perangkat lunak baru pada pesawat tersebut.
Indeks S&P 500 juga turun 0,77% menjadi 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,92% ke level 26.820,38.
Baca Juga
Fluktuasi besar terjadi sepanjang sesi perdagangan. Dow Jones sempat kehilangan lebih dari 400 poin, sedangkan S&P 500 turun sekitar 1% pada titik terendah perdagangan.
Pasar kemudian memangkas sebagian kerugiannya setelah laporan CNN dan Axios, yang mengutip pejabat Gedung Putih, menyebut Presiden AS Donald Trump terbuka terhadap kemungkinan pemberian keringanan sanksi kepada Iran terkait isu nuklir.
Laporan tersebut turut mendorong harga minyak mentah turun dari level tertingginya pada hari itu.
Namun, tekanan dari pasar obligasi tetap menjadi perhatian utama investor.
Kenaikan Yield Obligasi Tekan Pasar
Yield Treasury 10 tahun kembali menembus 5,2%, sementara yield Treasury 30 tahun melampaui 5,5%. Kedua instrumen tersebut berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan yield membuat aset berisiko, termasuk saham, menghadapi tekanan karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya modal dan membuat instrumen pendapatan tetap menjadi lebih kompetitif bagi investor.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Terus Bergejolak, Yield Treasury 30-Tahun Sentuh 5,5%
"Yield telah kembali naik secara berarti hari ini, dan hal itu secara wajar menyebabkan pelemahan pasar," kata Justin Bergner, manajer portofolio di Gabelli Funds, kepada CNBC.
Menurut dia, persaingan memperoleh modal dengan belanja perusahaan-perusahaan hyperscaler di sektor kecerdasan buatan (AI) juga memberikan tekanan tambahan terhadap konsumen melalui biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Sejumlah saham teknologi dan AI turut menjadi pemberat utama indeks. Saham Advanced Micro Devices (AMD) turun 3,6%, sedangkan Micron Technology melemah 2,6%.
Amazon dan Microsoft masing-masing turun sekitar 1%. Meta Platforms bahkan merosot 4,8%.
Namun, Nvidia bergerak berlawanan dengan mayoritas saham AI. Saham perusahaan pembuat chip tersebut naik 1,7% setelah mengumumkan rencana menambah program pembelian kembali saham senilai US$150 miliar.
Dengan tambahan tersebut, total nilai program buyback Nvidia mencapai US$235 miliar.
Pergerakan Wall Street tersebut terjadi setelah pasar saham AS mencatat pekan positif sebelumnya. Saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan sektor teknologi menjadi pendorong utama kenaikan.
Meta melonjak hampir 13% dalam sepekan setelah investor merespons positif pengembangan agen kecerdasan buatan Muse. Microsoft naik lebih dari 4%, sedangkan Apple dan Nvidia masing-masing menguat lebih dari 1%.
Kinerja positif tersebut terjadi meski yield Treasury meningkat ke level tertinggi dalam beberapa tahun, seiring investor meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve akibat tekanan inflasi yang persisten.
Yield Treasury 10 tahun pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak 2007, sedangkan yield Treasury 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2004. Yield Treasury 2 tahun juga melonjak sekitar 17 basis poin sepanjang pekan tersebut.
Perhatian investor kini kembali tertuju pada data ekonomi AS. Indeks harga PCE untuk Agustus, yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, akan dirilis Rabu.
